Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Astaga, Udah Molor Duluan!


__ADS_3

Bertabrakan pandangan dengan Firlan, Zanna pun menunduk salah tingkah. Firlan hanya mengangkat satu sudut bibirnya.


Sedangkan Fidya yang duduk di meja administrasi pun tak berani melihat ke arah Firlan apalagi mengingat pria itu merupakan kekasih dari bosnya. Karena Zanna bisa melihat kedekatan keduanya lewat sentuhan yang diberikan Firlan pada Vira.


Setelah lebih dari satu jam menunggu, akhirnya kelas pun berakhir.


"Sampai ketemu minggu depan..." ucap Vira mengakhiri kelas bermain clay-nya.


"Aku pulang..." ucap anak bernama Grace. Dan satu persatu anak memeluknya sebagai ucapan perpisahan.


Dan ketiga anak tadi pulang dengan para pengasuhnya masing-masing.


"Udah selesai?" tanya Firlan yang kemudian mendekat pada Vira.


"Udah, hem ... tinggal beresin ini dulu, bentar..." kata Vira.


"Kan ada pegawai kamu, suruh dia yang bereskan. Sekarang kita pergi, karena aku sangat lapar..." ucap Firlan.


"Kamu belum makan siang emangnya?" tanya Vira.


"Belum," jawab Firlan.


"Ya udah deh kalau gitu. Zanna, minta tolong ini semua dibereskan ya? saya pulang duluan, kuncinya kamu atau Fidya saja yang bawa..." ucap Vira.


"Baik, Kak..." jawab Zanna.


Vira pun bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya di dalam loker.


"Yuk..." ucap Vira pada Firlan.


"Fidya, saya duluan ya?" ucap Vira pada Fidya.


"Iya, Kak hati-hati..." ucap Fidya.


"Ayo, Sayang..." Firlan menggandeng Vira keluar.


Sementara Fidya yang sedari tadi duduk di tempatnya pun mendekati Zanna.


"Gilaaa jutek banget ya, Zann?" kata Fidya.


"Lumayan," jawab Zanna.


"Lumayan apanya, orang tatapannya tajem begitu. Ngeri..."


"Pisau kali tajem..." kata Zanna.


"Ishhh, kau ini..." Fidya membantu Zanna membereskan bahan-bahan clay yang tadi anak-anak gunakan.


Sedangkan Firlan sudah mengajak Vira masuk ke dalam mobilnya, Firlan menyetir dengan kecepatan sedang.


"Kamu lapar nggak?" tanya Firlan.

__ADS_1


"Nggak, tapi kalau kamu lapar aku temenin nggak apa-apa..." kata Vira.


"Oke deh, deket kontrakan kamu aja. Habis makan kita ke salon," kata Firlan.


"Salon ngapain?" tanya Vira.


"Jangan bilang kamu lupa kalau nanti malam ada acara resepsi pernikahan Ricko?"


"Astaghfirllaaaaaahhh! aku lupa!"


"Aku udah menduganya, habis makan baru kita siap-siap. Aku laper, kita makan di kedai ayam bakar deket kontrakan kamu aja," kata Firlan.


"Udah tenang aja, acaranya juga jam 8 malem. Ini masih sore, masih ada waktu buat siap-siap..." kata Firlan yang memegang tangan Vira sementara tangan satunya memegang stir.


"Ay ... aku kurang suka deh sama salah satu pegawai kamu," kata Firlan.


"Siapa?"


"Yang duduk bareng kamu," kata Firlan.


"Zanna? emang kenapa? dia baik kok orangnya, kamu tuh terlalu negatif thingking sama orang," kata Vira membela salah satu pegawainya.


"Kamu kan baru kenal, tapi kamu bisa bilang baik? aneh kamu, Ay..." kata Firlan.


"Kamu belum juga kenal tapi kamu udah bisa bilang nggak suka, kamu juga aneh tau," kata Vira.


"Terserah kamu aja, deh!" Fitlan malas berdebat dengan Vira.


"Udah sampai," kata Firlan.


"Iya udah tau, udah liat jufa," kata Vira yang ternyata masih bete.


Firlan keluar dari mobil dan segera bergerak ke sisi mobil satunya untuk membukakan pintu untuk Vira.


Firlan menggandeng Vira untuk masuk ke dalam kedai tersebut. Mereka duduk lesehan di bawah.


"Mau pesan apa, Mas? Mbak?" tanya salah satu pelayan.


"Ayam bakar dua plus basinya dua sama es jeruk dua," kata Firlan.


"Ada tambahan lain?" tanya pelayan itu.


"Sama cah kangkungnya satu porsi, dah itu aja..." ucap Firlan, dan pelayan itu pun pergi meninggalkan meja yang ditempati Vira dan Firlan.


"Yakin makan dua porsi?" tanya Vira.


"Kan buat kamu satu," kata Firlan.


"Aku kan nggak makan," ucap Vira.


"Biar apa sih nggak makan? udah sore, makan dulu," kata Firlan.

__ADS_1


"Ya aku kan belum laper lagian,"


"Nggak apa-apa kan lebih baik makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang," ucap Firlan tak mau kalah.


Ditengah perdebatan mereka, akhirnya pesanan ayam bakar datang juga. Vira yang awalnya tidak ada niatan untuk makan, melihat sambal dan lalapan beserta ayam bakar yang sangat menggoda pun akhirnya ngiler juga.


Dia mengambil satu bagiannya, nasi yang masih mengepulkan asap putih itu pun membuat cacing di perut Vira mendadak berontak.


"Ayamnya masih panas, hati-hati..." kata Firlan yang sudah mencuci tangannya, ia membantu Vira untuk memisahkan ayam dari tulangnya.


"Justru kalau nggak panas nggak enak," kata Vira yang mulai menyuapkan satu nasi dengan suwiran ayam bakar dan sambal ke mulutnya.


"Dasar awalnya aja ogah-ogahan, akhirnya makan juga!" gumam Firlan dalam hatinya.


"Minta cah kangkungnya!" Vira menunjuk satu porsi cah kangkung yang ada di dekat Firlan.


"Makan yang banyak, kamu pasti capek ngaharin anak-anak yang super ngerepotin!" kata Firlan yang menaruh cang kangkung ke dalam piring Vira.


"Mereka tuh nyenengin nggak ngerepotin! kamu aja yang nggak suka anak-anak!" kata Vira ditengah rasa pedas yang melanda rongga mulutnya.


Slruuuuuppp!


Vira menyeruput es jeruk yang membuat segar tenggorokannya.


"Buatku mereka semua sama, sama-sama menyebalkan!" kata Firlan yang juga makan dengan lahap.


Baru kali ini dia melihat Vira menikmati makanannya, mungkin lelah setelah seharian bekerja membuatnya sangat lapar. Ditambah menu ayam bakar ini emang juara banget, karena bumbu bakarnya yang menyerap sampai ke dalam dengan sempurna. Sambalnya juga tersedia beraneka ragam, jadi pembeli bisa memilih sambal apa yang mereka inginkan.


"Pelan-pelan makannya..." kata Firlan yang mengambil tisu kemudian mebgelap sudut bibir Vira yang terdapat bumbu kecap.


"Tempat ini selalu ramai ya?" kata Firlan.


"Hu'um, ya karena makanannya enak dan juga murah, jadi banyak irang yang ketagihan makan disini," kata Vira yang kembali menyeruput es jeruknya.


"Ya aku suka sama ayamnya, lembut dan bumbunya itu loh enak banget!" kata Firlan yang tumben-tumbenan memuji masakan orang.


Setelah selesai makan, Firlan beranjak untuk mencuci tangannya begitu juga dengan Vira. Hari sudah sore, mereka segera meninggalkan kedai ayam bakar itu dengan perut yang sudah kenyang.


Firlan dan Vira pun kembali melanjutkan perjalananan menuju kontrakan.


"Duh ngantuk, ya?" gumam Vira yang mulai menyenderkan badannya, dan mencari posisi yang nyaman.


"Tidur aja dulu, nanti aku bangunin..." kata Firlan.


"Nggak ah, bentar lagi juga nyampe kontrakan..." kata Vira yang kini menegakkan badannya.


"Udah merem aja, masih 15 menit lagi buat nyampe kontrakan, lumayan kan bisa tiduran bentar..." kata Firlan.


Baru juga Firlan berkata seperti itu, pria itu sudah mendengar dengkuran halus dari mulut Vira.


"Astaga, udah molor duluan!" gumam Firlan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2