
Gusti senang karena akhirnya Gia bisa ceria kembali.
"Mungkin Gia menangkap sinyal dari ketulusan hatimu, Vira. Makanya Gia begitu menyayangimu dan selalu ingin dekat dengan kamu..." batin Gusti.
Vira pun tersenyum saat melihat Gusti membuat satu garis senyum di wajahnya.
Gia yang duduk di samping Gusti kini berpindah tempat duduknya di samping Vira.
"Ini seger banget, Vir. Rasanya aku jadi kenyang tanpa harus makan nasi " ucap Gusti.
"Wah, jangan-jangan Gia juga kenyang makan es buah!" ucap Vira.
Wajah panik Vira pun membuat Gusti tak bisa menahan tawanya.
"Gia, Gia udah kenyang atau belum?" tanya Vira.
"Sedikit, kan Gia udah janji mau makan nasi. Dan janji harus ditepati," ucap Gia sambil melirik papi nya.
"Tapi kalau Gia sudah kenyang bilang ya? tante takut kamu kekenyangan..." ucap Vira.
"Kalau makanan Gia belum habis kamu bisa arahin sendoknya ke saya, Vir. Dijamin saya habisin kalau kamu yang suapin..." kata Gusti.
"Papi kan udah gede, masa mau disuapin tante Vira?" Gia menertawai papinya.
"Nasib-nasib modusin cewek di depan anak malah diketawain kayak gini. Deuh Gia gimana, sih? nggak tau apa papinya lagi usaha biar dia bisa dapat mami baru..." gumam Gusti dalam hatinya.
Sedangkan Vira tersenyum kikuk mendengar ledekan Gia untuk Gusti.
"Gia, tante ambilkan nasi, ya?" ucap Vira, Gia mengangguk kecil.
"Anak pinter," puji Vira sembari bangkit untuk mengambil nasi dengan lauknya.
"Gia suka capcay?" tanya Vira.
"Ini semua kesukaan Gia, Vir..." serobot Gusti.
"Oh," Vira membulatkan bibirnya. Sekarang ia mengambilkan capcay dan juga udang goreng tepung untuk Gia.
"Bismillah ... buka mulutnya, cantik!" ucap Vira seraya mengarahkan sendok yang berisi nasibdan lauknya ke mulut Gia.
Sedangkan Gusti menambahkan es bikinan Vira ke dalam gelasnya.
"Penny, kamu ambil es ini untuk orang-orang yang ada di dapur. Biar mereka bisa merasakannya juga. Dan simpankan untuk Gia," perintah Gusti.
Penny yang mendapat perintah dari sang majikan pun segera bergegas membawa bowl besar itu ke dapur.
"Penny, simpan di wadah terpisah untukku!" ucap Gia.
__ADS_1
"Baik, Non!" ucap Penny yang kemudian pergi ke dapur.
Setelah beberapa suap, Gia bilang kalau perutnya sudah kenyang. Untung Vira hanya mengambilkan sedikit nasi, jadi tidak ada sisa nasi di piring Gia.
"Loh, Mas Gusti nggak makan siang?" tanya Vira yang baru sadar kalau Gusti tak mengambil nasi atau apapun di piringnya.
"Liat Gia makan aja udah kenyang, tapi kalau kamu yang ambilkan bolehlah aku makan..." ucap Gusti.
Gia hanya menepuk jidatnya melihat kelakuan sang papi. Dan hal itu tak luput dari pandangan Vira dan juga Gusti yang kompak tertawa melihat tingkah Gia.
"Ya udah aku ambilkan," ucap Vira.
Dia mengambilkan nasi untuk Gusti beserta lauk pauknya diatas piring.
"Ini, Mas..." kata Vira yang menaruh piring di depan Gusti.
"Makasih, Vira. Aku makan ya? tapi kamu kok nggak ikutan makan?" tanya Gusti pada Vira.
"Kebetulan sebelum kesini aku udah makan, jadi sekarang aku udah kenyang..." ucap Vira.
"Hari ini jadwalnya Gia apa?" tanya Gusti sambil mengunyah makanannya.
"Painting..." ucap Vira.
"Gia mau painting-nya dimana?" tanya Vira.
"Di kamar aku aja, Tanteee..." ucap Gia.
"Boleh kan, Piih?" tanya Gia pada Gusti.
"Boleh, Sayang..." jawab Gusti.
"Asiiiiiikkk..." Gia begitu senang karena diperbolehkan melukis di kamar.
Vira tak enak hati jika meninggalkan Gusti sendirian di meja makan. Dia pun akhirnya menunggui pria duda itu untuk menyelesaikan makan siangnya.
Gusti pun akhirnya selesai dengan makan siangnya.
"Aku udah selesai, kamu ke kamar Gia aja nggak apa-apa..." ucap Gusti.
"Ya udah kalau gitu, aku ke atas..." ujar Vira.
" Ayo, Gia..." ajak Vira.
Vira pun menurunkan Gia dari kursi dan mengajaknya ke kamar gadis kecil itu untuk memulai sesi painting hari ini.
Ceklek!
__ADS_1
Vira membuka pintu saat ia sudah sampai di kamar Gia. Dan tak lupa Vira menutup pintunya kembali.
"Kita mulai sekarang?" tanya Vira.
"Hu'um!" sahut Gia semangat.
Vira pun segera mengeluarkan alat-alat painting dan menyusunnya. Vira melihat ada meja kecil.lipat di salah satu sudut kamar itu. Vira mengambilnya dan mulai menaruh media lukisnya.
Vira dan Gia tidak seperti sedang melukis, tapi seperti bermain. Inilah yang Gia sukai dari sosok Vira, dia tidak seperti tutor tapi seperti teman bermain baginya. Walaupun Vira bykan pelukis yang terlahir karena mengenyam pendidikan seni, tapi karya yang dihasilkan juga tak kalah bagus. Bahkan metode yang dia pakai sangat cocok untuk anak-anak.
"Bagus, kan?" tanya Vira sambil terus memperhatikan Gia memberikan sapuan warna.
"Wah, bunganya sangat cantik!" ucap Gia senang.
"Iya, secantik kamu!" puji Vira.
Dan ternyata Gusti mengintip dari celah pintu interaksi antara Gia dan Vira.
"Pantas saja, Gia selalu ingin bertemu. Kamu memang sosok yang menyenangkan Vira..." lirih Gusti.
Tok.
Tok.
Tok.
Gusti mengetuk pintu.
"Masuk!" jawab Gia dari dalam kamarnya. Gusti yang sudah berganti baju casual pun berjalan mendekati Gia dan Vira.
"Loh, kok Papi nggak berangkat kerja lagi?" tanya Gia.
"Ehm, ehm ... Papi ingin melihat kamu melukis hari ini..." jawab Gusti.
"Masa, sih?" tanya Gia penuh selidik.
"Iya kan selama ini papi belum pernah melihat bagaimana Gia menghasilkan lukisan, dan papi juga ingin tau bagaimana cara tante Vira mengajar Gia. Kalau tante Vira ngajarinnya nggak bener kan papi akan marahi..." kata Gusti mencari alasan.
"Papi nggak boleh marahin tante Vira!" Gia marah.
"Hahahaha, hanya bercanda, Sayang! aduh duh duh, sepertinya posisi papi terancam ya sekarang?" kata Gusti.
Sedangkan Vira hanya bisa tertawa melihat tingkah menggemaskan Gia saat membelanya di depan sang papi.
"Lucu banget nih bocah!" gumam Vira dalam hatinya.
"Kamu sudah mendapatkan hati anakku, Vira! dan sekarang giliran aku yang akan mendapatkan hatimu," batin Gusti.
__ADS_1
...----------------...
...----------------...