
"Vira...!" seru Firlan sambil mengetuk pintu.
"Aih, kemana tuh bocah!" gumam pria itu.
Pria itu mengeluarkan ponsel canggih dari sakunya.
"Vira? aku di depan kontrakan kamu. Cepat buka pintu!" ucap Firlan sekali dengan sekali tarikan.
Perlahan pintu dibuka dan menampilkan sosok Vira yang sepertinya baru bangun dari tidurnya.
"Ada apa?" ucap Vira sambil mengucek matanya.
"Kok ada apa, sih? aku bawain kamu makanan,"
"Besok aja, udah malem ngantuk. Jangan lupa gerbangnya ditutup lagi,"
"Ngomong apaan sih, nih bocah!" gumam Firlan.
Pintu yang akan tertutup pun segera ditahan oleh Firlan.
"Nggak bisa! kamu belum makan dan aku udah capek-capek kesini," Firlan nyelonong masuk dan menabrak sedikit bahu Vira.
"Aku nggak nyuruh tuh!" seru Vira kesal karena tidurnya terganggu.
Vira yang ditinggal pun akhirnya mengikuti pria yang sedang coba ia lupakan itu.
Firlan dengan enaknya mengambil mangkuk besar seolah ia sedang rumahnya sendiri.
"Eh, ngapain glatakan di rumah orang!" ucap Vira geram.
"Bukan rumah kamu kalau kamu lupa," jawab Firlan santai.
"Ya, ya ... bukan rumah aku, tapi aku yang bayar kontrakan rumah ini," jawab Vira tidak terima.
"Oh, cuma sampai bulan ini kan? kebetulan udah aku lunasin sampai desember tahun depan. Jadi, aku juga berhak nyelonong di rumah kontrakan yang kamu tempati ini," Firlan menarik satu alisnya ke atas.
"Nggak usah ngarang, ya!"
"Nggak ngarang! kalau jago ngarang aku udah jadi penulis terkenal," kata Firlan yang kini meletakkan nasi pada masing-masing piring.
"Emang enak?" gumam Firlan dalam hatinya.
Firlan sudah menata makanan diatas meja, namun Vira malah pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Dengan kecepatan tangan diatas rata-rata, Firlan mencegah wanita itu melangkahkan kakinya walaupun satu langkah.
"Mau kemana?" tanya Firlan.
"Mau packing lah! ternyata kontrakan ini udah ada calon penunggunya,"
"Hadeh! aku bilang gitu supaya kamu tau kalau rumah ini sudah aku bayarin. Aku nggak ada maksud buat ngusir kamu,"
"Tapi aku nggak perlu kamu bayarin kontrakannya juga,"
"Aku bayarin bukan karena kamu butuh, tapi karena aku mau!"
"Sekarang duduk dan makan," kata Firlan seraya menyelipkan jari jemarinya di antara rambut Vira. Ia menahan kepala gadis itu supaya menatap matanya. Firlan mengusap lembut pipi Vira sebelum ia tepuk beberapa kali membuat Vira mengerjap.
"Nggak usah terpesona gitu! sekarabg kita makan, karena aku udah laper!" kata Firlan yang menarik Vira ke meja makan.
Mereka berdua makan dalam keheningan, hanya suara sendok dan garpu yang sesekali beradu.
"Kamu nggak niat memperjakan satu orang untuk membantumu mengurus les privat itu?" tanya Firlan memecahkan kesunyian.
"Nggak," jawab Vira singkat.
"Kenapa?
"Nggak kuat bayarnya," jawab Vira enteng.
"Aku udah selesai," kata Vira.
"Tapi aku belum! temani aku makan," kata Firlan.
Vira meneguk air putihnya lalu ia mengambil obat dan meminumnya. Firlan sesekali memperhatikan wajah Vira yang sedikit terlihat lebih tirus.
"Kamu kurusan," kata Firlan seraya menyudahi makannya dan meraih minumnya.
"Bukannya laki-laki sukanya yang trepes-trepes ya sekarang? aku cuma ngikutin tren aja," jawab Vira.
"Maksud kamu? kamu lagi deket sama cowok? siapa?" Firlan menaruh lagi gelas diatas meja.
"Dih, kok ngegas? santai, Pak..." Vira langsung menumpuk piring bekas makan mereka, dan memvawanya ke wastafel.
"Lagian, aku belum ada niatan buat pacaran lagi. Takut sakit hati," kata Vira yang mulai mencuci peralatan makannya.
"Kita masih pacaran, Vira. Jadi kamu jangan macam-macam," Firlan memegang lengan Vira, membuat wanita itu sedikit mendongak dan melihat wajah Firlan sementara tangannya penuh dengan busa dari sabun cuci piring.
__ADS_1
"Loh? apa iya aku macam-macam? bukannya kamu? ah, lagian kita udah break? it means, aku udah bebas dari hubungan yang menyakitkan ini. Betul tidaaakk?" Vira menaikkan sudut bibirnya. Vira kembali melanjutkan aksi cuci piringnya.
"Break itu rehat, kamu ngerti nggak rehat? Dan istirahat bukan berarti putus!" Firlan mulai kesenggol, fanash!
"Kenapa aku bilang kita break, supaya kita bisa merenungi arti hubungan kita ini, Vira..." Firlan mencoba mengubah pola pikir Vira.
"Merenungi? dengan jalan dengan cewek lain, hmmm bagus juga idenya, ya?" Vira mematikan kran dan mengelap tangannya dengan tisu handuk.
"Kamu ngomong kayak gitu, berarti kamu cemburu dong sama aku? berarti masih ada sayang dong buat aku?"
"Nggak juga sih," Vira mencebikkan bibirnya, lalu ia melenggang menuju ruang tivi.
"Selama ini kamu nggak liat perjuangan aku buat dapetin hati kamu? itu Evren, umurnya udah setahun loh!" seru Firlan menghentikan langkah Vira.
"Apa hubungannya sama Evren anaknya Amartha?" Vira berbalik menatap pria yang membuatnya sangat kesal.
"Ya berarti usaha aku untuk memperbaiki hubungan kita udah berjalan lebih dari satu tahun..."
"Terus?"
"Ya terus aku mau kita seperti dulu..." ungkap Firlan
.
.
.
Itulah mengapa ada yang bilang, jangan memutuskan sesuatu saat sedang emosi. Apa yang sudah meluncur dari mulut tak akan mungkin bisa di tarik lagi.
Urusan menjadi asisten, pria itu memang jagonya, tapi tidak dengan urusan perasaan.
Pria tampan dengan kulit putih itu berjalan gontai ke kamarnya. Perdebatannya dengan Vira kali ini membuatnya sedikit berpikir. Jika wanita itu ternyata sering melihatnya bersama Alia. Firlan melemparkan jas dan dasinya ke arah keranjang kotor yang ada di kamarnya sebelum ia mengguyur tubuhnya di bawah air hangat yang turun dari shower seperti air hujan.
"Vira..." gumamnya saat ia menengadahkan wajahnya ke atas dengan mata yang terpejam.
Setelah beberapa lama berada dalam kamar mandi, Firlan pun keluar sembari menggosok kepalanya dengan handuk.
Pria satu itu membuka lemarinya memilih kaos putih dengan celana pendek berwarna hitam.
Ia menghempaskan tubuhnya yang sudah segar di atas ranjang. Ucapan Vira terus tengiang di telinganya.
"Bagaimana mungkin dia mengatakan hubungan ini menyakitkan?" gumam Firlan.
__ADS_1
"Aku dan Alia itu tidak ada hubungan apa-apa, kita bertemu itu pun dalam ketidaksengajaan. Waktu itu memang aku salah, aku memanfaatkannya untuk membuatmu cemburu. Tapi ternyata aku malah membuat hubungan ini semakin rumit,"
Firlan mulai memejamkan matanya melepaskan kepenatan yang menghantamnya hari ini, karena dia harus menjadwal ulang semua pertemuan gara-gara sang tuan akan pergi berlibur.