Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Aku Kira Bisikan Setan, Eh Taunya Bisikan Firlan!


__ADS_3

Sekarang Vira sudah berada di dalam mobil, sudah duduk di kursi depan samping kemudi. Sedangkan Raharjo dan Dewi duduk di kursi belakang.


Brukkk!


Firlan menutup bagasi mobilnya, lalu ia berjalan dan membuka pintu mobil. Pria itu mendudukkan dirinya kursi kemudinya.


"Sabuk pengamannya," kata Firlan yang menarik sabuk pengaman untuk Vira dan memastikan sabuk sudah terkunci.


"Makasih," lirih Vira, Firlan hanya tersenyum sekilas sembari menarik sabuk pengaman miliknya.


"Om, Tante ... kita berangkat sekarang?" Firlan menengok ke belakang sebelum menekan pedal gasnya.


"Iya, Nak..." ucap Raharjo.


"Bismillah," ucap Firlan lirih tapi masih bisa didengar oleh Vira.


"Tumben pake acara bismillah segala," batin Vira.


Wanita itu menolehkan kepalanya melihat Firlan yang kini mulai menjalankan mobilnya. Merasa Vira sedang memandang ke arahnya, Firlan pun menoleh pada kekasihnya.


"Ada apa?" tanya Firlan.


Vira hanya mengangkat kedua bahunya, " Nggak ada apa-apa,"


"Aneh," gumam Firlan.


Firlan pun melihat kaca spion yang ada di tengah.


"Om, Tante ... disitu ada cool box ada minuman dan juga puding, sebelum kesini tadi saya mampir beli..." ucap Firlan menawari calon mertuanya.


"Wah, Nak Firlan ini sangat pengertian sekali ya, ini anak perempuan yang di depan cuma bawa diri aja kayaknya ya, makanan pun yang nyiapin malah Nak Firlan..." seloroh Raharjo yang menyindir Vira, anaknya.


"Dih, kan aku mulai dianak tirikan..." ucap Vira.


"Hahahahahhahaha, maklumin aja, Vira... Papa kan udah seneng banget itu bentar lagi dapet menantu laki-laki," kata Dewi.


"Hadeuuh apapun topiknya pasti ujung-ujungnya menantu lagi menantu lagi," kata Vira dan semua orang tertawa mendengar ucapan Vira.


Dewi membuka cool box yang ada di situ.


"Mau minum apa, Pa?" tanya Dewi.


"Papa pengen pudingnya, Ma..." kata Raharjo.


Vira pun melongokkan badannya melihat apa saja yang ada di cool box itu. Ada berbagai macam minuman. Vira pun mengambil satu teh yang berbentuk kotak.


"Mau?" tanya Vira.


"Kebetulan, haus..." ucap Firlan, sementara Vira melirik sinis melihat pria yang disampingnya menyunggingkan senyuman misteriusnya.


Vira pun mendekatkan teh yang sudah dipasang sedotan itu dan mendekatkannya ke mulut Firlan. Pria itu langsung meminum teh dingin itu.

__ADS_1


"Udah, makasih..." ucap Firlan.


Vira pun menarik minuman itu dan menaruhnya di tempat yang digunakan untuk meletakkan minuman yang ada di dekatnya.


Setelah satu jam perjalananan, kantuk mulai menyerang Vira. Apalagi ketika melihat jalanan yang hanya lurus begitu.


"Hoaaaammmph..." Vira menguap, ia menutup mulutnya dengan punggung tangannya.


"Tidur aja, Ay..." kata Firlan lirih sambil terus fokus pada jalananan yang sedang di laluinya.


"Emang kamu hafal jalannya?" tanya Vira.


"Percaya aja udah..." kata Firlan.


Firlan juga melirik kondisi penumpang yang dibelakang, yang kini juga sedang tertidur.


"Dah tidur aja, nggak usah ditahan-tahan begitu..." ucap Firlan.


"Ntar kamu nggak ada yang nemenin, terus malah ikutan ngantuk kan bahaya..." ucap Vira dengan sesekali kembali menguap.


"Ya aku nggak akan ngantuk, orang masih terang benderang begini," kata Firlan.


Baru juga berkata seperti itu, ketika Firlan melirik Vira wanita itu ternyata sudah memejamkan matanya. Firlan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kelakuan kekasihnya yang sangat ajaib itu.


"Ngomongnya nggak mau-nggak mau akhirnya molor juga..." batin Firlan.


Pria itu tetap fokus pada jalanan, hanya ia seorang diri yang masih membuka matanya lebar sedangkan yang lainnya sudah terbang ke alam mimpi mereka masing-masing.


"Aku pastikan kita akan terus bersama, Vira. Dan nggak akan ada yang bisa misahin kita berdua..." ucap Firlan dalam hatinya seraya mengusap kepala Vira sekilas.


Wanita itu bergerak saat ada yang menyentuh kepalanya, namun matanya masih terpejam kuat. Firlan hanya bisa terkekeh melihat ekspresi tidur kekasihnya itu.


.


.


.


Dan setelah menempuh beberapa jam perjalanan akhirnya, Firlan sampai juga di kota kelahiran seorang Vira Anugrah.


"Kita mampir makan siang dulu aja ya, Om?" tanya Firlan pada Raharjo yang kini sudah bangun.


"Boleh, ada tempat makan yang enak di sekitar sini. Nanti saya tunjukkan..." kata Raharjo yang kemudian meneguk minuman yang ada di tangannya. Dewi juga sudah bangun, dan sedang melihat ke arah luar jendela.


"Wah, cepat juga ya kita nyampenya. Padahal kayaknya Nak Firlan tidak ngebut di jalanan..." puji Dewi pada calon menantunya.


"Mana berani saya ngebut, Tante..." ucap Firlan.


"Kamu suka sate kambing tidak, Firlan?" tanya Raharjo.


"Suka suka saja sih, Om. Om mau makan sate kambing?" tanya Firlan.

__ADS_1


"Iya, kayaknya enak kali ya siang-siang begini makan sate..." ucap Raharjo.


"Vira masih tidur, Lan?" tanya Dewi.


"Masih, Tante..." sahut Firlan.


"Nanti bangunin saja kalau sudah sampai. Bukannya menemani menyetir malah ikutan tidur, dasar anak ini..." ucap Dewi.


"Saya yang nyuruh tadi, Tante. Kasian soalnya sepertinya Vira ngantuk berat," jawab Firlan.


Dan Raharjo pun menunjukkan jalan menuju rumah makan sate yang dia inginkan. Tak lama mereka pun sampai disana.


"Ini tempatnya, Om?" tanya Firlan sembari melepas sabuk pengaman.


"Iya, betul. Disini paling laris karena satenya pakai kambing muda, dan pastinya nggak bau sama sekali, Nak Firlan pasti suka..." ucap Raharjo.


Raharjo dan Dewi pun masing-masing membuka pintu.


"Om dan Tante duluan saja, biar saya bangunkan Vira dulu..." ujar Firlan yang menengok ke belakang.


"Nanti cepat menyusul, ya?" kata Raharjo.


"Siap, Om!" sahut Firlan.


Dan pintu pun tertutup, Raharjo dan Dewi pergi masuk ke dalam warung makan sate terlebih dahulu, meninggalkan Vira dan Firlan berdua di dalam mobil.


"Ay ... bangun, Ay..." bisik Firlan.


Pria itu sengaja berbisik di telinga Vira. Wanita itu tak juga bergeming.


"Astaga, ini orang kalau udah tidur kok ya ngebo banget!" Firlan geleng-geleng kepala. Firlan tidak menyerah, dia kembali berbisik ditelinga Vira.


"Ay, bangun..." ucap Firlan. Bisikan kedua refleks membuat Vira menoleh dan membuat hidungnya bertabrakan dengan hidung Firlan yang mancungnya seperti mainan perosotan anak TK.


"Aaaaawh!" pekik Vira. Firlan memundurkan kepalanya sementara Vira menggosok hidungnya yang sakit.


"Astaga, kenapa nongol disitu?" Vira sewot.


"Lah, dia yang main nengok kenapa aku yang disalahin?" gumam Firlan.


"Sembarangan main nongol! ini aku daritadi banget bangunin kamu, tau!" ujar Firlan sambil mengusap hidungnya yang tadi beradu dengan milik Vira.


"Aku kira tadi tuh bisikan setan, eh, taunya bisikan Firlan!"


"Cepat keluar, Om sama Tante udah nungguin di luar," ucap Firlan yang membukakan sabuk pengaman Vira.


"Emang kita dimana?"


"Di surga! cepetan, aku udah laper!" kata Firlan yang membuka pintu dan keluar dari mobil.


"Dasar tukang marah-marah!" gerutu Vira.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2