Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Rasa Vanila dan Cokelat


__ADS_3

Firlan memencet tombol saat sudah berada di depan kotak besi.


"Tidak ada apa-apa disini," gumam Firlan.


"Iya, tapi tetap saja namanya juga perempuan takut ya wajar, kalau Pak Firlan kan laki-laki jadi kalau takut malah aneh!" ucap Maura.


Firlan hanya tersenyum tipis mendengar komentar Maura. Dan beberapa saat kemudian pintu lift pun terbuka, Firlan masuk ke dalamnya diikuti Maura. Firlan melihat arloji di tangannya.


"Vira udah selesai belum, ya?" gumam Firlan dalam hati.


Ting!


Pintu lift terbuka di lobby, Maura segera keluar namun tidak dengan Firlan.


"Pak Firlan tidak keluar?" tanya Maura.


"Saya turun di basement!" ucap Firlan sebelum pintu tertutup.


Dan suasana basement sangat sepi saat Firlan keluar dari lift.


Tin.


Tin.


Firlan membuka mobilnya yang terkunci. Pria itu duduk di kursi kemudi dan segera menyalakan mesin.


"Vira kok belum ngasih kabar?" gumam Firlan seraya menyalakan ponselnya dan mencoba menghubungi Vira.


"Kok nggak diangkat, sih?" gerutu Firlan. Pria itu mencoba menghubungi kekasihnya untuk yang kedua kalinya.


"Halo," suara serak Vira menyapa dirinya.


"Ay, kamu dimana? kok kayak abis bangun tidur?" tanya Firlan, sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di stir.


"Iya, Ay ... aku tadi ketiduran abis dipijet-pijet, ini udah mau selese, sih. Tinggal mandi kembang..." ucap Vira.


"Aku kesana sekarang ya? abis itu kita makan bareng, aku udah laper banget nih!" kata Firlan.


"Iya, Ay ... udah ya? aku mau lanjut!" ucap Vira.


"Ya udah, bye!"


"Bye!" Vira menutup panggilan telepon Firlan.


Sementara Firlan yang sudah mendapatkan kabar kalau Vira sudah hampir selesai pun segera menancapkan gasnya ke arah tempat treatment yang di share oleh Vira.


Namun ditengah perjalanan sebuah panggilan masuk ke ponselnya.


"Halo...!" sapa Firlan.


"Ucapkan salam anak bodoh!" ucap seorang wanita paruh baya.


"Eh, Ibu. Maaf Bu, tadi Firlan nggak liat kalau Ibu yang telfon. Assalamualaikum, Bu..."

__ADS_1


"Waalaikumsalam, kamu lagi dimana?" tanya Ratna.


"Lagi nyetir, Bu. Baru pulang kantor," jawab Firlan.


"Bagaimana kamu bisa menikah kalau tiap hari pulang jam segini?" ucap Ratna.


"Ya bisa lah, Bu. Nikah mah kan tinggal nikah..." ucap Firlan yang menghentikan mobilnya saat melihat ada lampu merah.


"Jangan sembarangan bicara kamu anak nakal! cepat bawa calon menantu buat Ibu sebelum kamu jadi bujang tua!" kata Ratna memarahi anaknya.


"Oke, kalau gitu besok aku akan ke rumah sambil bawa calon menantu," ucap Firlan santai.


"Jangan bercanda kamu, Firlan. Ibu ini ngomong serius,"


"Aku lebih serius, Bu..." kini Firlan menjalankan mobilnya lagi saat lampu lalu lintas berganti hijau.


"Masa Ibu nggak percaya, sih? besok aku buktikan kalau aku serius bawa calon mrnantu buat Ibu, pokoknya Ibu tunggu aja besok," lanjut Firlan.


"Awas saja kalau kamu mempermainkan Ibu! ya sudah, tidak baik menelepon saat menyetir. Ibu tutup teleponnya, assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam," jawab Firlan.


Pria itu menghela nafasnya, pasalnya sudah lama dia ditodong pertanyaan kapan nikah oleh sang Ibu. Hanya saja Firlan selalu memberikan seribu alasan, dan selalu pekerjaan yang menjadi kambing hitamnya. Namun, kali ini Firlan akan mantap memperkenalkan Vira pada ibunya.


"Semoga semuanya lancar, semoga ibu bisa menerima kamu, Vira..." gumam Firlan.


Setelah sekian lama menempuh perjalanan akhirnya pria itu tiba di tempat tujuan. Firlan memarkirkan mobilnya dan mencoba menghubungi Vira.


"Iya, Ay. Kamu udah nyampe?" tanya Vira.


"Udah, kamu udah selesai atau belum?"


"Aku udah selesai kok, ini lagi bayar..." jawab Vira.


"Pakai kartu yang aku kasih, kan?"


"Iya, aku pakai kartu itu, kalau nggak percaya coba cek sendiri aja..." ucap Vira.


"Aku tunggu di mobil..." kata Firlan.


"Ya, ini juga aku mau keluar..." ucap Vira yang kemudian memutuskan teleponnya dengan Firlan.


Tak menunggu lama, sosok Vira keluar dan berjalan menghampiri mobil Firlan.


Firlan menurunkan kaca mobilnya dan menyuruh Vira untuk masuk.


"Mau makan apa?" tanya Vira. Namun bau semerbak wangi dari tubuh Vira membuat Firlan terpaku.


"Ay, mau makan apa?" tanya Vira lagi.


"Makan kamu!" ucap Firlan.


"Dih, nyeremin amat! jangam becanda ah, ayok cepetan aku udab laper," kata Vira.

__ADS_1


"Kamu wangi banget," kata Firlan yang memajukan badannya dan mencium rambut Vira yang beraroma cokelat.


"Gimana aku nggak pengen makan kau, rambut kamu aja baunya cokelat! tangan kamu bau vanilla, kamu udah kaya kue berjalan tau nggak?" kata Firlan.


Vira merasa bodoh dengan ucapannya barusan, ternyata yang dipikiran Firlan itu ingin memakannya karena aroma yang dibawanya kini seperti wangi kue.


"Tau aka kamu aku suka wangi yang soft kayak gini," puji Firlan.


"Heleh, gombel!" Vira mendorong tubuh Firlan dengan telunjuknya.


"Cepet nyetir karena cacing diperutku udah meronta ingin jatah nasi!" suruh Vira.


"Iya, aku juga! apalagi wangi kamu seperti ini, perutku makin menjadi-jadi!" kata Firlan yang kini merasakan lapar yang teramat sangat.


Melihat tampilan Vira yang seperti ini, Firlan memilih makan di restoran di dekat situ. Kalau dilesehan, kasihan nanti rambut Vira bau goreng-gorengan lagi.


Sementara Vira menurut saja Firlan akan membawanya kemana, yang terpenting perutnya bisa terisi segera.


Firlan pun memperlambat laju mobilnya saat sudah dekat dengan tujuannya.


"Kita makan disini aja, ya?" ucap Firlan yang wajahnya sudah terlihat sangat lelah.


"Iya, dimana aja asal ada nasi..." kata Vira seraya membuka sabuk pengamannya


Firlan segeraematikan mesin mobilnya dan keluar berjalan memutar, membukakan pintu untuk kekasih ya.


"Ayo," Firlan menggandeng Vira untuk masuk ke dalam restoran


Di dalam sana, Firlan segera memesankan makanan agarereka cepat menyajikan makanan untuknya dan Vira. Rasa lapar sangat mengganggu keduanya.


"Nggak usah ngobrol dulu, ya? perutlu kalau laper suka bikin nggak mood!" ucap Vira.


"Masa sih?"


"Yeeuh, dibilangin jangan ngajakin ngobrol juga!" Vira kesal karena Firlan sekarang malah menggodanya dengan menaik turunkan alisnya.


Dan benar saja, sepanjang menunggu pesanan, Firlan yang berusaha mengajak Vira untuk berbicara malah dicueki. Wanita itu memegang perutnya.


"Maagh kamu kambuh?" tanya Firlan.


"Belum tapi akan..." ucap Vira yang sudah sangat tidak nyaman dengan lambungnya.


Baru saja Firlan akan meminta menu yang bisa disajikan secara cepat, pesanan mereka satu persatu datang. Vira segera meminum minuman hangatnya, ia sengaja memesan hot tea karena disaat perutnya yang kosong tidak baik meminum sesuatu yang dingin. Sebab itu hanya akan membuat perut ya terasa kembung dan begah.


"Ayo, makan dulu..." kata Firlan.


Vira hanya mengangguk, dia mulai memakan apa yang tadi di pesankan oleh Firlan. Setelah nasi dan lauk meluncur ke perutmya barulah, Vira sedikit lebih tenang.


"Gimana? masih sakit perutnya? kalau masih, kita ke rumah sakit sekarang..." kata Firlan, Vira menggeleng.


"Aku udah lebih baik, tenang aja..." ucap Vira.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2