Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Banyak Sekali Maunya


__ADS_3

"Kalau tidak ada yang lain lagi, saya pamit..."


"Kamu berdiri seperti itu seperti orang yang sedang ambeiyen! duduklah, saya ingin bicara..." Satya menunjuk kursi dengan bolpoinnya.


"Astaga, bukankah daritadi anda sudah bicara panjang lebar?" tanya Firlan sambil mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan bosnya.


"Aish, sepertinya semakin hari kamu semakin menyebalkan Firlan!"


"Bagaimana pertemuanmu dengan pak Irwan kemarin? apa semua berjalan lancar?" lanjut Satya.


"Lancar-lancar saja, Tuan. Hanya ada beberapa hal yang ingin di rubah, tapi itu tidak menjadi sesuatu hal yang perlu dikhawatirkan..." jawab Firlan.


"Syukurlah jika semuanya terkendali, saya ingin membuat cabang rumah sakit milik istri saya. Carikan lahan yang strategis, dan beritahu saya kalau kamu sudah menemukannya..." perintah Satya.


"Baiklah, apa ada lagi, Tuan? kalau tidak saya ingin krmbali ke ruangan saya," kata Firlan yang jngin kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena mencari inspirasi untuk melamar kekasihnya.


"Sudah itu saja, krbanyakan saya memberi perintah otak kamu bisa buffering nanti," jawab Satya.


"Baiklah kalau begitu..." ketika Firlan akan bangkit dari kursinya, Satya krmbali bicara.


"Satu lagi, Lan! tolong pesankan saya makanan, saya mendadak lapar sekarang!"


"Astaga, katanya tadi udah. Tapi sekarang malah nyuruh lagi. Sabar ... sabar..." batin Firlan.


"Huuufh, baiklah, anda ingin dipesankan apa, Tuan? mengingat sekarang msih jam 10 pagi," tanya Firlan dengan menahan rasa kesalnya.


"Enaknya apa, ya? bakmi jawa saja, Lan! jangan lupa sama minumnya," suruh Satya.


"Astaga, kenapa anda tidak menyuruh Maura?" protes Firlan.


"Mauea sednnag sibuk meng-cancel beberapa jadwal hari ini," sahut Satya.


Firlan masih menunggu kalimat perintah apa lagi yang akan muncul dari mulut bos laknatnya itu.


"Tunggu apa lagi? cepat pesankan, perutku sudah sangat kelaparan!" seru Satya.


"Astaga, anda mengagetkan saya, Tuan! untung saya tidak punya sakut jantung! bisa wasaalam saya kena serangan dadakan!" gerutu Firlan.


"Saya permisi, Tuan!" Firlan segera keluar dari ruangan Satya dengan hati yang dongkol.


"Banyak sekali maunya, tidak bisakah dia memberi waktu asistennya untuk hidup dengan tenang?" gerutu Firlan dalam hati.


"Kenapa mukanya pak Firlan?" tanya Maura yang melihat wajah kusut Firlan. Wanita itu sedang menempelkan gagang telepon ke telinganya, sepertinya ia sedang menghubungi seseorang.


"Bos kamu hobinya nyuruh-nyuruh!" ucap Firlan sembari berdiri di depan meja Maura, ia memijit ponselnya untuk memesankan makanan Satya.


Maura hanya geleng- geleng kepala saat mendengar jawaban dari asisten Satya. Firlan segera kembali ke ruangannya saat Maura sudah menyapa orang lain di seberang telepon.

__ADS_1


"Lagian jam segini udah laper, padahal kan dia bisa pesen sendiri ya ampuuuun!" Firlan ngedumel sambil duduk di kursinya.


Sementara menunggu pesanan makanan untuk bosnya datang, Firlan mengerjakan beberapa pekerjaan.


.


.


Sementara di tempat privatnya, Vira mendapat telepon dari Amartha.


"Halo, ya kenapa, Ta?" tanya Vira yang menjauh dari anak-anak dan sesekali memperhatikan Zanna dari jauh.


"Vir, kamu bisa ke rumah nggak?" tanya Amartha.


"Sekarang?"


"Nggak, taun depan aja!"


"Oh, taun depan..."


"Ya sekarang lah, kamu sibuk nggak?" tanya Amartha yang menahan kesalnya.


"Hahahahha, sabar kali buk? bentar lagi ya, tanggung..." ucap Vira.


"Tanggung emang kamu lagi dimana?" tanya Amartha.


"Aku lagi di tempat privat, jam makan sjng lah aku kesana, oke? emang ada apaan, sih? tumben banget nelpon minta disamperin?" tanya Vira.


"Ya ampun istri sultan minta cimol, beli dimana dah?" tanya Vira.


"Aku istri Satya bukan sultan, nggak usah ngganti-ngganti nama orang!" ucap Amartha.


"Yassalam, loadingnya nggak ilang-ilang kamu, Ta! maksud aku, orang kaya minta cimol itu begimana ceritanya. Ntar aku lagi yang diomelin suami kamu karena bawa jajanan kaki lima, kata kamu dia orangnya cerewet kalau soal makanan?"


"Iya, makanya kesini nya cepetan mumpung mas Satya lagi di kantor. Jangan lupa beli boba, pokoknya cimolnya jangan lupa banyakan ya..." pinta Amartha.


"Jangan-jangan kamu lagi ngidam? kamu lagi nggak hamil, kan?" tuduh Vira.


"Ngaco! nggak ada. Hamil dari mana? aku nggak hamil, udah deh beliin ya ... awas aja kalau kesini nggak bawain," ancam wanita yang sudah dianugerahi satu putri itu.


"Iya iya, ya ampun. Ntar aku beliin sama gerobak-gerobaknya kalau perlu!" celetuk Vira.


"Emang kamu punya duit buat beliin aku satu gerobak cimol?"


"Ya nggak, kan aku cuma bantu beliin yang bayar suami kamu lah...hahahahaha," seloroh Vira.


"Halah, dasar nggak mutu!"

__ADS_1


"Ya udah, nanti aku kesana. 1 jam an lagi lah ya, aku usahain bawa tuh cimol mol mol buat kamu, bye..." Vira menutup panggilan dari Amartha.


"Tumbenan dia minta aku main, pasti mau curhat deh..." gumam Vira sambil mengantongi kembali ponselnya.


Vira berjalan ke arah lrmari pendingin dan mengambil satu minuman yang sangat ia sukai lalu mendekati Fidya yang sedang mengerjakan pekerjaannya.


"Fidya..." panggil Vira.


"Iya, kenap, Kak?" tanya Fidya.


"Siang ini saya ada urusan. Nanti kamu bantuin Zanna ya buat nemenin anak-anak di sesi yang kedua, oh ya imi buat makan siang kalian..." Vira mengeluarkan satu lembar uang seratus ribuan dari kantong celananya.


"Iya, Kak. Makasih ya, kita ditraktir makan siang terus..." ucap Fidya tak enak hati.


"Nggak apa-apa, kan emang ada jatah makan siang buat kalian. Yang penting kalian kerjanya rajin, dan jangan sering bolos. Biar saya aja yang bolos..." celetuk Vira.


"Kak Vira nih ada-ada aja..." Fidya tertawa mendengar celetukan bosnya.


Vira meminum minuman yang dingin, rasanya segar dan membuatnya kembali bertenaga.


Vira baru ingat kalau biasanya Firlan akan mengajaknya makan siang.


"Lebih baik aku telfon dia dulu, daripada ntar dia kesini dan akunya nggak ada kan jadi berabe..."


Bartu juga ia akan menelepon Firlan, ada telepon lain yang masuk.


"Mas Gusti?" gumam Vira, ia menaikkan satu alisnya ke atas.


Wanita itu pun segera mengangkat telepon dari Gusti.


"Halo, ya Mas?" sapa Vira.


"Kamu lagi sibuk nggak?" tanya Gusti, pertanyaan yang mirip anak sekolahan yabg sedang pedekate.


"Sibuk sih nggak, cuma aku ada janji sama temen. Ada yang bisa aku bantu, Mas?" tanya Vira.


"Tadinya aku mau ngajak kamu makan siang di rumah bareng Gia. Tapi kalau kamu udah ada janji ya sudah, lain kali saja. Oh ya, have a good day!" ucap Gusti.


"Makasih dan maaf sebelumnya ya, Mas?" ucap Vira.


"Ya sudah, bye..." Gusti mengakhiri percakapannya dengan Vira.


Dan ketika ia akan menelepon Firlan, ada seseorang yang mengetuk pintu.


"Biar saya saja, Kak!" beruntung Fidya menawarkan diri untuk membukakan pintu, jadi Vira bisa melanjutkan niatnya untuk menelepon sang kekasih.


Wanita itu menempelkan benda pipih itu di telinganya.

__ADS_1


"Halo, Ay?" sapa Vira setelah panggilannya terhubung pada Firlan, dan berbarengan dengan kembalinya Fidya dengan membawa satu buket bunga di tangannya.


...----------------...


__ADS_2