Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Seseorang


__ADS_3

"Kamu kesini mau ngajak aku makan siang kan? kalau gitu kita berangkat sekarang," ucap Vira, dia yang sedang memegang bunga lili di tangannya langsung pergi ke arah loker untuk mengambil tas.


"Yuk..." Vira menggandeng lengan Firlan, pria itu menurut saja.


"Fidya Zanna, saya pergi..." ucap Vira, ia menarik Firlan keluar dari sana.


Setelah pasangan itu sudah tak terlihat lagi, Fidya menatap Zanna dengan tatapan curiga.


"Kok kamu nyeletuk kayak tadi sih, Zan?" tanya Fidya.


"Nyeletuk gimana, Fid?" tanya Zanna.


"Ya tadi kamu bilang kak Vira dapet bunga mawar, kamu liat nggak ekspresi pacarnya tadi angker banget,"


"Aku kira kan bunga kemarin dari dia juga, Fid..."


"Itu bunga dari orang yang namanya Gusti. Haduuh, udah jelas ini bakal ada pertengkaran antara kak Vira sama pacarnya..."


"Ya aku mana tau, kan..." Zanna membela diri.


"Zan, kita disini kerja. Jadi kayaknya kita lebih baik di dan nggak usah ikut campur apa yang bukan jadi urusan kita. Walaupun kak Vira bersikap sangat baik bahkan memperlakukan kita seperti teman atau saudara, tapi kita harus tau batasannya. Kapan kita bersikap hprmat kapan kita bersikap akrab. Jangan sampai ucapan kita menimbulkan masalah..." ucap Fidya, dia ragu kalau Zanna mengatakan hal yang sebenarnya.


"Iya iya maaf, Fid ... aku nggak bermaksud kayak gitu, aku keceplosan suwer..." kata Zanna.


"Minta maafnya bukan sama aku, Zan. Tapi sama kak Vira ... semoga aja mereka nggak berantem hanya karena masalah bunga..." kata Fidya yang kembali duduk di meja kerjanya.


Sementara Firlan masih menanyakan perihal bunga mawar pada Vira.


"Jadi siapa pengirim bunga itu?" tanya Firlan.


"Emh, itu..."


"Siapa?"


"Dari ... mas Gusti..." jawab Vira.


"Oh, jadi kamu masih berhubungan sama dia?" sindir Firlan.


"Kita hanya teman Mas ... nggak lebih..."


"Apa? kamu panggil aku apa tadi? Mas?" Firlan menepikan mobilnya dan menatap Vira dengan tajam.


"Maksud aku, Ay. Aku nggak ada hubungan apa-apa kok sama dia Ay. Kan aku pacar kamu, jadi please percaya sama aku..." ucap Vira.


"Seberapa sering dia kirim kamu bunga?" tanya Firlan.


"Baru juga sekali..."


"Berarti kamu ngarepin dia kirimin bunga buat kedua kalinya gitu?" tuduh Firlan.


"Ya ampun, nggak lah Ay ... aku malah lebih suka bunga lili daripada bunga mawar. Karena bunga lili itu mencerminkan cinta yang tulus dan kesucian, bukan cinta yang menggebu-gebu..." kata Vira.

__ADS_1


"Sok tau!"


"Kok sok tau, sih?" ucap Vira yang sebenarnya hanya mengarang indah supaya Firlan tidak marah lagi padanya.


"Jadi makan nggak? laper nih..." ucap Vira memelas.


"Emang aku bilang kalau kita mau makan?" tanya Firlan.


"Ya terus? mau kemana coba kalau nggak ngajak makan? masa mau ngukur jalanan?"


"Bisa jadi..." jawab Firlan.


"Astaga sungguh teganya dirimu teganya teganya..."


"Halah, dramaaaa!" Firlan mencubit pipi gemoy Vira.


"Kita makan ya? aku laper, nanti maagh aku kambuh dan aku pingsan gimana?"


"Iya iya bawel!" ucap Firlan.


Dan Vira pun akhirnya bisa bernafas lega, pasalnya mas pacar sudah mau tersenyum setelah wajahnya sempat kurang bersahabat beberapa saat tadi.


"Hufhh, untung aja dia nggak ngambek lama-lama..." batin Vira.


Firlan pun kembali melajukan mobilnya ke sebuah restoran yang ada di tengah kota. Pria itu mengajak wanitanya masuk sesaat setelah mereka sampai di tempat tujuan.


"Maaf apakah anda sudah reservasi karena kebetulan kursi kami sudah penuh semua, Tuan..." ucap salah seorang pelayan.


"Oh, Tuan Firlan. Mari saya antar ke meja anda..." ucap pelayan itu setelah mengecek daftar reservasi.


"Udah reservasi, uh dasar! tadi nggak ngaku kalau mau ngajak makan!" gerutu Vira dalam hatinya.


Firlan menggandeng tangan Vira, mereka mengikuti pelayan tadi.


"Silakan, Tuan..." ucap si pelayan wanita menggeser dua kursi untuk tamunya.


"Pesanan anda akan segera kami antar, permisi..." lanjut pelayan itu sopan.


Vira mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Cih, katanya nggak mau ngajak makan siang, tapi udah reservasi duluan!" celetuk Vira sambil menatap mata Firlan, pria itu hanya bisa tersenyum tipis melihat kekasihnya menaikkan satu sudut bibirnya.


"Kita kesini tujuannya untuk makan bukan untuk berdebat," kata Firlan.


"Baiklah, baiklah ... aku maafkan karena aku juga sudah sangat lapar. Kamu nggak denger di dalam perutku ini sudah banyak yang berdemo minta untuk segera dikasih sesuap dua suap nasi?" Vira menepuk perutnya.


"Sayangnya kita nggak makan nasi hari ini, tapi daging. Jadi katakan pada cacing-cacing yang ada di perutmu itu kalau mereka nggak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan," ucap Firlan.


"Aiiish, menyebalkan..."


Tak lama, pelayan membawakan pesanan mereka.

__ADS_1


"Silakan Tuan ... Nona..." ucap pelayan.


Vira tidak jadi manyun karena semua makanan yang ada di meja itu porsi mini namun terluhat sangat menggiurkan.


"Awas iler netes!" celetuk Firlan.


"Ish, mana ada! ini makanan enak semua kayaknya. Tapi kok porsinya icikiprit begini?"


"Icikiprit apaan? kamu pakai bahasa manusia jangan pakai bahasa ghoib, Vir!" ucap Firlan.


"Porsinya dikit banget, mana kenyang?" tanya Vira yang masih belum memotong steaknya dan malah memperhatikan makanan lain.


"Astaga, ini namanya fine dining. Nggak ada porsi kuli disini..." kata Firlan.


"Kalau kurang tinggal tambah pesanan, gampang kan?" ujar Firlan sembari menukar piring steak Vira yang dagingnya masih utuh dengan miliknya yang sudah ia potong.


"Makan, katanya laper?" Firlan menunjuk piring Vira dengan dagunya sambil ia melanjutkan memotong daging steak.


Vira mulai memasukkan steak ke dalam mulutnya, ia padu dengan fresh salad dengan dressing yang sangat refreshing di mulut.


"Hmmmm, suwer enak banget, sih!" ucap Vira agak norak.


"Jangan keras- keras, semua orang memperhatikan kita..." ucap Firlan.


"Ups, maaf. Abisnya beda banget rasanya..." lirih Vira.


"Syukurlah kalau kamu suka..." kata Firlan.


"Hanya yang lidahnya eror yang nggak suka makanan ini, dagingnya lembut banget..." ucap Vira pelan.


"Ya, makanya disini harus reservasi dulu, karena pasti sangat ramai apalagi di jam makan siang..." kata Firlan.


"Oh ya, kenapa semalem ponsel kamu di luar jangkauan. Emang kamu kemana sih, Ay?" tanya Vira.


Deg.


Firlan mendadak membisu. Ia bingung harus menjelaskan bagaimana pada Vira, ia hatus berbohong atau berkata jujur? Hati Firlan rasanya galau saat ini.


"Semalam ... ehm aku..."


Dan tanpa diduga ada seorang wanita yang mendekat ke arah meja mereka.


"Firlan?" panggil wanita itu. Sontak Firlan dan Vira pun menoleh.


"Nggak nyangka ketemu kamu disini," ucap wanita itu.


Vira mengernyitkan dahinya saat melihat keterkejutan di wajah Firlan walaupun sepersekian detik pria itu segera menormalkan kembali ekspresi wajahnya.


"Oh ya tadinya aku mau ke apartemen kamu. Tapi berhubung ketemu disini, aku mau kembaliin dasi kamu yang semalem kebawa aku..." ucap wanita itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2