
Firlan tidak tidur, dia hanya merebahkan badannya diatas ranjang yang cukup empuk itu.
"Sebaiknya aku istirahat," gumam Firlan.
Baru juga ia memejamkan matanya, sedetik kemudian ponselnya berdering.
"Aaaiiih, baru juga merem ada aja yang ganggu!" gerutu Firlan sambil merogoh ponselnya.
"Ya, halooo!" ucap Firlan saat panggilan tersambung.
"Hey, Firlan! kamu ijin hanya untuk hari ini kan?" ucap Satya dari seberang telepon.
"Besok? tergantung, Tuan. Kalau saya dikawinkan sama Vira hari ini berarti saya besok juga cuti," jawab Firlan ngasal.
"Memangnya kalian sudah...? wah, saya nggak nyangka kamu berani melakukan seperti itu, Lan! saya jamin kamu bakal digeprek sama Amartha, kalau dia tau kalau sahabatnya sudah kamu..." ucap Satya yang langsung diserobot Firlan.
"Sudah saya apakan? saya kan hanya bilang kalau besok saya dikawinkan dengan Vira berarti besok saya cuti. Memangnya ada yang salah dengan perkataan saya tadi?"
"Kamu benar-benar tidak jelas!" kata Satya.
"Sebaiknya anda tidak menelepon saya di hari cuti saya, Tuan!" ujar Firlan.
"Saya minta besok kamu berangkat, pekerjaan sudah menumpuk!"
"Ya memang pekerjaan kan selalu banyak, Tuan..." jawab Firlan membuat bos nya naik darah.
"Pokoknya saya tidak mau tahu, besok kamu harus berangkat ke kantor!" ucap Satya yang kemudian mematikan panggilan itu secara sepihak.
"Dasar bos sukanya seenaknya sendiri! aku kan juga butuh healing. Biar otakku yang berharga ini selalu berfungsi dengan baik," gerutu Firlan yang setelah itu malah terlelap karena kelelahan setelah menyetir sekian jam.
.
.
.
Sedangkan di negara lain.
Gia sangat senang karena kininia berada di dunia anak-snak, bahkan dia sudah mencoba berbagai macam permainan.
"Gia senang?" tanya Gusti sembari menggandeng anaknya.
"Hu'um!" jawab Gia singkat dia sibuk memakan eskrim yang dia pegang satu tangannya.
Sedangkan Penny berjalan di belakang dengan satu pelayan lagi yang sengaja Gusti bawa untuk mengurusi Gia selama di perjalanan. Penny sudah sangat kerepotan membawa barang-barang belanjaan nona kecilnya.
"Sekarang Gia pengen naik apa lagi?" tanya Gusti.
Namun, Gia menggeleng sambil menikmati cone ice cream.
"Aku ingin duduk saja," ucap Gia.
"Kenapa? apa Gia tidak suka bermain disini?" tanya Gusti seraya menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Kalau ada tante Vira pasti seru," celetuk Gia.
"Astaga, dia masih ingat Vira padahal kami sudah berada di negara lain..." batin Gusti.
"Ehem, atau mungkin ada yang ingin Gia beli?" tanya Gusti.
Gadis kecil itu memutar badannya melihat ke belakang, Gusti pun mengikuti arah pandangan Gia.
"Mereka sudah kerepotan!" ucap Gia menunjuk kedua pelayannya yang membawa berbagai macam kantong belanjaan Gia.
Gusti hanya bisa menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Ya sudah, kalau begitu kita cari tempat makan. Perut kecilmu itu pasti sudah lapar," ucap Gusti.
"Ya, ide yang bagus, Papi..." jawab Gia.
Gusti lega, akhirnya terbit sebuah senyuman dari Gia. Pria itu kemudian mengajak putri kecilnya makan di sebuah restoran.
.
.
.
Sedangkan di dalam kamar, Vira sudah mandi. Hari sudah menjelang sore. Dia memutuskan untuk bersiap, karena Firlan akan mengomel jika ia harus menunggunya berdandan.
Vira yang sudah wangi pun segera keluar dari kamar dan menghampiri kamar tamu sambil membawa handuk kering.
Ceklek.
"Ya elah, masih tidur?" gumam Vira sambil berjalan mendekat ke arah ranjang yang ditempati pria itu. Dan ia duduk di tepi ranjang. dan meletakkan handuk disamping pria itu.
"Ay ... bangun! udah sore..." Vira menepuk lengan kekasihnya itu.
"Capek banget kayaknya, ya? ya udalah, nanti aku bangunin lagi aja..." gumam Vira.
Ketika ia beranjak tiba-tiba tangannya ditarik hingga ia terjatuh di pelukan pria itu.
"Lain kali kalau mau bangunin pacar itu yang lembut, dicium kek jangan cuma di tepuk-tepuk aja!" ucap Firlan seraya mencubit hidung Vira.
"Ogah!" kata Vira yang berusaha bangun dari posisinya saat ini tapi sayangnya badannya masih ditahan oleh pria itu.
"Lepas, Ay ... ini posisi bahaya!" kata Vira.
"Bahaya apanya? aku cuma lagi meluk kamu, sambil ngeliatin wajah kamu dari deket..." ujar Firlan.
"Nggak usah ngadi-ngadi, deh. Ini udah sore, kamu mandi gih, katanya mau balik sore ini?" ucap Vira.
"Iya bentar lagi, 5 menit lagi..." kata Firlan yang kini malah tersenyum sambil menaik turunkan alisnya. Ketika Firlan lengah, Vira segera bangun dari posisi nyungsepnya.
"Nggak ada 5 menit 5 menit, sekarang kamu mandi aku tunggu di luar..." ucap Vira sambil membenarkan baju dan rambutnya.
Vira segera keluar sebelum ditarik Firlan lagi. Firlan yang melihat Vira sudah kabur hanya bisa terkekeh.
__ADS_1
"Sabar, Lan! sabar..." ucap Firlan sembari beranjak dan melenggang ke kamar mandi, namun dia baru ingat kalau dia belum mengambil baju ganti. Pria itu pun akhirnya pergi keluar menuju mobilnya.
Sedangkan Vira pergi ke arah dapur setelah mencium aroma masakan yang sangat familiar di hidungnya.
"Masak apa, Ma?"
"Cumi saos padang kesukaan kamu," ucap Dewi.
"Emang ada bahan di kulkas?" tanya Vira.
"Tadi mama sempet pergi ke supermarket," kata Dewi.
"Nggak capek, Ma? aturan nggak usah, lagian Vira kan mau pergi juga..."
"Emang kamu nggak nginep gitu berapa hari disini, kan lusa weekend?" tanya Dewi.
"Kasian kak Firlan kalau nyetir sendirian, Ma..." ucap Vira.
"Nanti, Vira bakal pulang lagi. Paling nggak setelah Vira selesai ngetraining dua pegawai Vira," jelas Vira.
"Ya sudah kalau begitu, tapi kamu makan dulu ya? mama udah bela-belain masak ini semua buat kamu," kata Dewi.
"Pasti..."
Padahal selain karena masih ada tanggung jawab menjadi seorang tutor, dia juga ada janji dengan Firlan akan bertemu dengan ibunya hari minggu ini. Tapi Vira memutuskan untuk tak menceritakannya pada Dewi, karena sejujurnya dia juga takut sekaligus khawatir tentang penilaian ibu dari Firlan ketika bertemu dengannya nanti.
"Kamu duduk aja udah, mama malah pusing kalau kamu berdiri disini, Sayang..." ucap Dewi yang menyuruh anaknya untuk duduk.
"Padahal Mama nggak perlu repot-repot kayak gini loh, Ma.."
"Halah, kamu kan jarang pulang. Dan kamu jarang makan masakan rumah, jadi Mama pengen juga masakin buat kamu..." ucap Dewi.
"Makasih ya, Ma..." kata Vira.
"Iya, Sayang..." jawab Dewi.
"Aku kasih tau kak Firlan dulu ya, Ma..." Vira beranjak dari duduknya.
Vira berjalan meninggalkan Dewi di dapur dan berjalan menuju kamar tamu.
Tok.
Tok.
Tok.
"Ay..." panggil Vira.
"Masuk aja!" jawab Firlan dari dalam.
Vira pun membuka pintu dan masuk ke dalam. Firlan terlihat masih sama seperti sebelum Vira ke dapur menemui Dewi.
"Loh belum mandi?" tanya Vira.
__ADS_1
"Baru juga mau mandi eh ada yang ketuk pintu. Tadi aku ambil baju ganti dulu dari dalam mobil," kata Firlan.
...----------------...