Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Bertemu Gia di Rumah


__ADS_3

Tak sampai menunggu lama pesanan pun datang. Ketika Vira akan beranjak, Fidya segera mencegahnya.


"Biar saya saja, Kak..." ucap Fidya.


"Tadi udah saya bayar lewat aplikasi, Fid..." ujar Vira.


"Oke, Kak..." ucap Fidya.


Fidya pun keluar untuk mengambil pesanan makanan yang diantar kang delivery.


Setelah sekian menit, Fidya kembali membawa ayam geprek. Baru juga masuk, ada panggilan lagi dari kang delivery.


"Biar aku aja, Fid!" Zanna langsung berdiri dan keluar ruangan.


Sedangkan Fidya mengeluarkan box makanan dari dalam kantong keresek dan mebaruhnya di atas meja di depan sofa.


"Geser aja kali ya nih meja, enakan makan duduk di bawah," ucap Vira.


Dia pun menggeser meja supaya dia bisa duduk di bawah, dan kini Zanna sudah datang dengan membawa minuman boba yang ada di tangannya.


"Yuk, kita makan bareng-bareng! yok, Fidya Zanna..." seru Vira.


Mereka pun mencuci tangannya dan masing-masing mengambil satu box makanan dan juga satu cup minuman berukuran besar.


"Gimana? kira-kira kalian betah kerja disini?" tanya Vira tiba-tiba.


"Betah, Kak. Apalagi Kak Vira baik banget, nggak pernah marah-marah, saya sih nyaman banget disini..." ucap Fidya.


"Sejauh ini saya juga betah," kata Zanna.


"Syukurlah kalau kalian betah, semoga kita bis a menjadi team yang solid ya..." kata Vira.


Mereka pun menikmati makan siang dengan sedikit kepedesan, terutama Fidya. Beberapa kali dia harus meminum es bobanya untuk menghilangkan rasa pedas yang membakar lidahnya.


"Emang pedes banget ya, Fid?" tanya Vira.


"Lumayan, Kak..." ucap Fidya.


"Segini mah nggak, orang ini cuma level 8!" kata Vira.


"Apa? level 8? saya mentok level 3, pantesan lidah saya rasanya mati rasa..." ucap Fidya. Vira malah tertawa.


"Harusnya kamu ngomong dong, kalau kamu nggak tahan pedes..." kata Vira.


"Dah sana ambil air di kulkas kalau kurang minumnya," lanjut wanita itu.


Dan akhirnya mereka menyelesaikan makan siang yang menurut Vira sangat enak itu. Terakhir dia menikmati es boba dalam cup.


"Zan, nanti semprot dulu ya pakai pewangi. Biar bau gepreknya ilang..." kata Vira, sekilas ia melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Baik, Kak..." jawab Zanna.


"Kayaknya saya harus pergi, kalian baek-baek disini..." kata Vira yang kemudian menaruh cup yang sudah kosong di atas meja dan berniat mengambil tas yang ada di loker. Vira juga mengambil beberapa alat painting yang dia bawa menggunakan papper bag.


Sedangkan Zanna dan Fidya segera membereskan meja.


Vira segera memesan taksi online untuk pergi ke rumah Gia. Beruntung posisi driver ternyata tak jauh dari tempat privatnya.


Vira berjalan menuju sofa, dia duduk sebentar sambil terus melihat map memastikan posisi driver sudah sampai mana.


"Wih, udah deket!" gumam Vira sembari memasukkan ponsel ke dalam tas nya.


"Saya pergi sekarang," Vira beranjak dari duduknya.


"Hati-hati, Kak..." ucap Fidya.


Vira pun keluar dan menunggu di luar. Dan tak lama ada mobil berwarna merah yang berhenti di depannya.


"Kakak Vira Anugrah..." seru driver.


"Ya, saya!" ucap Vira seraya membuka mobil dan masuk ke dalamnya.


"Sudah sesuai dengan map ya, Kak..." kata si driver.


"Iya, Mas..." ucap Vira. Dan mobil pun melaju ke arah alamat yang sudah Vira tentukan di dalam aplikasi.


"Halo, Vira?" sapa Gusti ketika panggilannya diangkat.


"Iya, gimana?"


"Kamu dimana?" tanya Gusti.


"Lagi di jalan, ini mau ke rumah mas..." ucap Vira.


"Oh, aku kira kamu lupa. Oh ya, aku minta tolong nanti kamu bujuk Gia untuk makan ya?" ujar Gusti.


"Dia lagi GTM?" tanya Vira.


"GTM?"


"Gerakan tutup mulut alias nggak mau makan," jelas Vira.


"Iya, dia lagi mogok makan. Tolong ya Vira, aku yakin kalau kamu yang bujuk dia pasti mau," ucap Gusti penuh harap.


"Iya, nanti aku coba ya..." kata Vira.


"Makasih ya kalau gitu dan hati-hati di jalan.


.." ujar Gusti.

__ADS_1


Vira pun mematikan panggilan itu dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia sengaja memegang terus tas dan papper bag-nya, dia takut seperti waktu itu tasnya ketinggalan di dalam mobil beruntung sang driver sangat jujur dan memberitahunya kalau ada barang yang ketinggalan. Namun, lebih baik Vira berjaga-jaga, karena keberuntungan bisa saja tidak terulang jika dia ceroboh menaruh tasnya.


Dan tak lama, Vira pun sampai di depan rumah yang megah dengan pagar yang menjulang tinggi.


"Ini uangnya, Mas. Makasih..." ucap Vira seraya memberikan ongkos.


"Makasih, Kak..." sahut sang driver.


Vira pun keluar dari mobil. Ia berjalan memencet bell. Dan seperti biasa dia harus memperkenalkan dirinya dan mengatakan tujuannya datang. Mungkin itu sudah SOP yang ada di rumah itu, Vira hanya mengikutinya saja.


"Silakan masuk..." ucap pak Satpam yang membukakan pinfu gerbang untuk Vira.


"Terima kasih, Pak..." kata Vira. Wanita itu berjalan menuju pintu utama. Tak lama ada seseorang yang membukakan pintu untuknya.


"Mbak Vira, ya?" ucap pelayan. Vira terseny dan mengangguk.


"Kata tuan Gusti, mbak Vira langsung saja ke kamar non Gia yang ada di lantai atas. Mari saya antar..." ucap pelayan itu sopan.


"Oh gitu, baiklah..." jawab Vira.


Dan Vira pun mengikuti kemana pelayan itu pergi. Perlahan ia menaiki satu persatu anak tangga.


"Ini kamarnya Non Gia. Non Gia ada di dalam..." ucap pelayan itu.


"Terima kasih," ucap Vira.


"Silakan, Mbak..." pelayan mengetuk pintu dahulu sebelum membukakan pintu kamar untuk Vira.


"Non Gia ... ada Mbak Vira datang," ucap pelayan.


"Jangan bohong! kalau hanya untuk membujuk aku untuk makan!" sahut Gia yang berbaring memunggungi pintu.


"Bibik tidak bohong, Non..." ucap prlayan itu namun Vira memberi kode supaya pelayan itu tak melanjutkan kata-katanya. Dia memberitahu kalau dia akan masuk ke dalam san memberi kejutan untuk Gia.


Vira masuk ke dalam dan pintu pun ditutup oleh pelayan tadi.


"Halo putri cantik..." sapa Vira. Sontak Gia pun membalik badannya dan melihat sosok Vira yang tak jauh darinya. Gadis kecil yang memakai baju santai itu memekik.


"Tante Viraaaaa!" seru Gia. Sang nona kecil beranjak dari tempat tidurmya dan berlari memeluk Vira.


"Aku kira bibik bohong..." ucap Gia seraya memeluk pinggang Vira. Vira pun menaruh papper bagnya di lantai dan melepaskan pelukan Gia. Dia menekuk kakinya agar sejajar dengan tinggi Gia.


"Gia sudah makan belum?" tanya Vira, Gia menggeleng.


"Kok belum? kan udah siang..." ucap Vira.


"Kalau tante suapin, Gia mau makan nggak?" tanya Vira. Gia pun mengangguk dan memeluk wanita yang ada di hadapannya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2