
"Ayo kita turun ke bawah. Gia tunjukkan ya dimana meja makannya," ucap Vira seraya menggendong Gia yang melingkarkan tangannya di leher Vira.
Wanita itu meninggalkan peralatan paintingnya begitu juga tas nya di kamar Gia. Vira keluar dari kamar gadis kecil itu dan menuruni satu persatu anak tangga. Kebetulan ia berpapasan dengan Penny yang membawa segelas susu berwarna putih.
"Loh ada mbak Vira..." ujar Penny.
"Iya ditelfon papinya nya Gia..." lirih Vira.
"Ini susunya, Non Gia..." kata Penny.
"Dia mau makan, Mbak. Emh, dimana ya ruang makannya?" tanya Vira.
"Alhamdulillah kalau Non Gia mau makan, ayo Mbak saya antar ke ruang makan..." kata Penny.
Gia menaruh kepalanya di bahu Vira sembari memeluk wanita itu seakan tak mau terpisah.
Vira pun mengikuti kemana Penny mengantarkannya.
"Disini, Mbak..." ucap Penny.
"Gia Sayang ... duduk disini, ya?" ucap Vira. Namun Gia tak juga melepaskan pelukannya.
"Non, kasihan tante Viranya nanti pegel kelamaan gendong Non Gia..." ucap Penny.
"Gia mau makan apa biar tante suapin. Tapi Gia duduk dulu, biar tante nyuapinnya gampang..." kata Vira.
Akhirnya Gia mau berpindah dari gendongan Vira ke tempat duduk.
Para pelayan yang melihat nona kecil mereka sudah duduk di meja makan pun dengan segera menata makanan dan menaruhnya di meja makan.
"Aku ingin ice cream..." ucap Gia.
"Gia makan dulu, ya? baru nanti makan ice cream..." kata Vira.
"Tapi Gia maunya sekarang..."
"Emh, gimana ya? telfon papi dulu, ya?" ucap Vira, dia takut salah memberikan Gia makanan tanpa seizin Gusti.
"Tapi aku maunya sekarang, Tanteeee..." kata Gia.
"Duh, gimana nih, Mbak?" tanya Vira pada Penny.
"Udahlah, turutin aja, Mbak Vira ... daripada Non Gia nggak mau makan, nanti dia bisa sakit..." jawab Penny.
"Beneran nggak apa-apa?" Vira ragu mengiyakan permintaan Gia. Tapi mau bagaimana lagi, anak kecil ini terus saja merajuk dan tidak mau makan jika tak makan ice cream.
"Kalau kita bikin es buah ajq gimana? mau?" tanya Vira.
"Mau..." kata Gia.
"Ya udah kita ke dapur, kita lihat di kulkas Gia ada buah apa saja..." ucap Vira.
Vira pun menurunkan Gia dari kursi dan menggandeng gadis kecil itu menuju dapur yang di tunjukkan Penny.
__ADS_1
"Tapi janji Gia mau makan nasi, ya?" tanya Vira.
"Janji, Tante..." ucap Gia.
"Eh, Non Gia..." pekik beberapa pelayan yang mendapati majikan kecilnya datang ke dapur.
"Ada yang Non Gia butuhkan, Non?" tanya salah seorang pelayan.
"Emh, begini Mbak. Kita mau bikin es buah, saya boleh liat kulkasnya nggak? saya mau tau ada buah apa saja di dalam..." ucap Vira.
"Oh, boleh-boleh, Mbak..." ucap salah satu pelayan.
"Gia duduk dulu disini, ya? biar tante lihat dulu ada buah apa aja yang bisa kita bikin es buah..." kata Vira seraya mendudukkan Gia di kursi depan meja saji yang panjang ditemani Pennya di sampingnya.
"Permisi ya, Mbak..." ucap Vira sopan. Vira sebenarnya tidak hafal satu persatu nama pelayan di rumah itu, yang dia tau hanya Pennya sedangkan yang lainnya selalu berada di dapur, jadi Vira tak begitu mengenal mereka.
Vira melihat ada buah melon, dan beberapa buah seperti pear, apel, jeruk, semangka yang masih utuh dan anggur tak lupa juga ada kiwi. Vira juga melihat ada biji selasih, jeruk nipis, lemon dan juga nata decoco. Eh, kelapa juga ada, benar-benar emejing bagi Vira.
"Kulkas horang kaya mah beda ya, semua buah ada..."batin Vira.
"Mbak? ada syrup melon nggak, ya?" tanya Vira.
"Oh, ada, Mbak. Sebentar saya ambilkan..." ucap pelayan itu.
Vira mengeluarkan buah melon, jeruk nipis dan lemon dan juga nata de coco.
Wanita itu menaruh apa yang dibawanya dari dalam kulkas ke atas meja saji.
"Es kuwud, kamu mau nggak?" tanya Vira.
"Mau..."
Vira pun merendam biji selasih dengan air panas yang ada di dalam mangkok.
Salah seorang pelayan membawakan pisau, satu bowl besar bening dan juga es batu.
Gia memperhatikan apa saja yang dilakukan Vira. Ia mencuci semua buah yang akan ia pakai. Lalu Vira mulai mengerok buah melon dengan sebuah alat sehingga daging buah melon yang diambil berbentuk seperti mie tipis.
Vira menaruh melon yang sudah diserut ke dalam bowl besar, kemudian dilanjut dengan menaruh nata de coco, biji selasih dan es batu.
Terakhir Vira memeras jeruk nipis dan menaruh satu atau dua slice lemon segar, tak lupa ia mengucurkan air kelapa beserta daging kelapa yang sudah dikeruk dan juga syrup rasa melon.
"Kayaknya enak," ucap Gia.
"Kita bawa ke meja makan, ya?" ucap Vira yang kini tengah mengaduk minuman yang begitu menyegarkan itu.
Gia pun mengikuti Vira bersama Penny. Wanita itu meletakkan bowl berisi minuman itu diatas meja makan dan ternyata muncul sosok Gusti di ruang makan itu.
"Papiiiii!" Gia yang sudah senang karena kedatangan Vira pun kini berlari ke arah papinya.
"Hai, Sayang! Gia sudah makan apa belum?" tanya Gusti pada anaknya.
"Belum..."
__ADS_1
"Loh, kok belum?" tanya Gusti.
"Tante Vira habis bikin es, habis makan es baru Gia mau makan..." kata Gia.
Gusti pun mendekat ke arah Vira. Dan melihat satu bowl besar minuman yang sangat menggoda.
"Kamu yang bikin?" tanya Gusti.
"Iya..." ucap Vira singkat.
Dan salah satu pelayan datang membawa beberapa gelas saji dan sendok kecil.
"Wah, kayaknya seger ya..." kata Gusti yang mendadak ingin mencicipi minuman verwarna hijau.
"Ayo, kita dudul dan mencicipi minuman ini," kata Gusti pada Gia.
"Gia juga mau, Piii..."
Vira pun mengambilkan es yang dia buat ke dalam gelas dan memberikannya pada Gia dan Gusti.
Tak lupa ia juga mengambil untuk dirinya.
"Gimana rasanya Gia?" tanya Vira pada nona kecil.
"Enak Tante..." ucap Gia yang kini memakan serutan melon dan juga daging kelapa.
"Kamu pinter juga bikin kayak gini, Vir..." puji Gusti.
"Iya kalau hanya potong-potong dan tuang-tuang aku bisa. Kecuali kalau..." ucapan Vira terhenti.
"Kecuali apa?" tanya Gusti.
"Kecuali kalau berhubungan dengan kompor..." ucap Vira.
"Hahahaha, kamu ada-ada saja..." Gusti tertawa.
"Yeuh, dikira aku becanda kali ya? orang beneran aku mah nyerah kalau urusannya sama kompor dan masak memasak..." batin Vira.
"Kamu minum juga, kok cuma liatin Gia aja?" tanya Gusti.
"Eh, iya ... ini juga mau diminum kok," kata Vira.
"Makasih ya, Vir..." ucap Gusti.
"Buat?"
"Buat dateng kesini dan repot-repit bikin minuman ini, lihat Gia kayaknya suka banget!" ucap Gusti, Vira hanya tersenyum.
"Habis ini kamu makan ya, sayang?" ucap Vira.
"Iya, Tante..." sahut Gia, gadis itu melempar senyumnya.
...----------------...
__ADS_1