
Dan sekarang Vira duduk di sebuah restoran yang ada di dalam mall tersebut dengan mulut yang meruncing.
"Kenapa lagi, Ay?" tanya Firlan yang dengan cueknya memakan kwetiawnya.
"Kenapa lagi kamu bilang? hhhmm," Vira menghembuskan nafas perlahan.
"Filmnya belum selesai, aku jadi nggak tau endingnya kayak gimana!" Vira sewot.
"Udah bisa kebaca itu, nanti tokoh utamanya selamat dan bisa pulang ke rumahnya lagi, udah cerita klasik kan begitu, Ay..." ucap Firlan dengan entengnya.
"Ngapain ngajak nonton kalau ujung-ujungnya cuma bikin bete doang!" Vira melipat tangannya di depan dada.
"Perut aku udah sakit, Vira. Aku butuh makanan untuk dimasukkan ke dalam lambungku ini, kalau film kan kita bisa nonton lagi nanti, nah kalau aku telat makan, perutku perih dan aku sakit? gimana? apa kamu nggak kasihan sama aku, Ay?" Firlan mulai nyerocos seperti kereta api, padahal itu hanya alasan saja agar Vira tak melihat keberadaan Alia yang kebetulan duduk di sampingnya.
"Makan dong, nanti makannya keburu nggak enak loh, dimsumnya nanti nggak anget lagi..." ucap Firlan menunjuk makanan yang belum Vira sentuh sama sekali.
Dengan kesalnya, Vira mengambil dimsum dengan sumpit dan mencocolnya dengan sauce, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Makannya jangan sambil cemberut," sindir Firlan.
Vira berdehem kemudian memasang senyum terpaksanya sebelum memasukkan satu dimsum lagi ke dalam mulutnya.
"Pelan- pelan aja makannya, kalau kurang nanti aku pesenin lagi dimsumnya," kata Firlan yang mendapat lirikan sinis dari Vira.
"Dia yang ngajak nonton, dia juga yang bikin acara nonton ini gagal total! nyebelin banget, suwer!" batin Vira mengumpat Firlan.
"Kwetiawnya enak loh," ucap Firlan lagi.
Dan sekarang Vira beralih pada kwetiaw yang masih hangat itu, dia menambahkan chilli oil diatasnya.
"Abis ini kamu mau kemana lagi?" tanya Firlan.
"Pulang!"
"Masih jam segini masa mau pulang? ini malam minggu loh, Ay!" ucap Firlan yang kini menatap Vira yang sedang menyuapkan kwetiaw ke dalam mulutnya.
Vira tak menjawab, dia malah asik memakan makanannya. Firlan tahu saat ini Vira masih sangat kesal dengannya.
"Ya udah, nanti kita muter-muter aja ya naik mobil," ucap Firlan.
"Terserah..." ucap Vira yang kini menyeruput ice lychee tea miliknya.
Firlan hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat tingkah lucu wanita itu ketika sedang marah.
.
.
.
Setelah makan, Firlan mengajak Vira untuk sebentar berkeliling. Ia ingin membelikan sesuatu.
__ADS_1
"Ngapain nih orang masuk ke toko jewelry!" batin Vira.
"Silakan, ada yang bisa dibantu?" ucap pelayan.
"Saya menginginkan sebuah kalung untuk tunanganku," ucap Firlan yang sudah mengaku-ngaku kalau wanita disampingnya ini adalah tunangannya.
"Hobi banget ngaku-ngaku, tunangan aja belum!" gerutu Vira dalam hatinya.
"Sebelah sini, Tuan. Ini koleksi terbaru kami," ucap pelayan tadi.
Firlan melihat satu persatu kalung berwarna putih dengan bermacam-macam liontin.
"Kamu suka yang mana, Yang?" tanya Firlan.
"Ngapain kesini, sih?" bisik Vira.
"Buat beliin kamu perhiasan," ucap Firlan.
Firlan melihat ada satu kalung dengan liontin berbentuk tetesan air.
"Saya ingin yang ini," ucap Firlan.
Pelayan itu pun memberikan kalung pada pria yang ada di hadapannya. Firlan membuka pengaitnya dan memakaikannya di leher Vira.
"Bagus, kan?" tanya Firlan.
"Huum," Vira hanya berdehem.
"Ya..." ucap Vira singkat.
"Baiklah, saya pilih yang ini..." ucap Firlan seraya memberikan lagi kalung itu pada pelayan itu.
Setelah membayar kalung itu, Firlan langsung menarik Vira ke area dimana mobilnya terparkir.
Pria itu membuka pintu dan menyuruh Vira untuk masuk. Kemudian ia duduk di kursi kemudinya.
Firlan segera menyalakan mesin, namun ia tak berniat untuk segera melajukan mobilnya.Fia malah membuka sebuah kotak perhiasan dan mengambil kalung yang ada di dalamnya.
"Kemarilah," ucap Firlan yang ingin memasangkan kalung liontin itu pada kekasihnya.
"Ini terlalu mahal, aku nggak bisa menerimanya," kata Vira menolak pemberian Firlan.
"Tadi katanya kamu suka?" tanya Firlan.
"Iya suka, tapi suka kan nggak harus memiliki," ucap Vira.
"Kamu masih marah sama aku gara-gara acara nonton yamg berantakan? aku minta maaf, aku sebisa mungkin nggak mengulangi lagi," ucap Firlan yang kini memegang dagu Vira. Sedangkan satu tangannya menggenggam kalung tadi.
"Ya abisnya kamu nyebelin..." ucap Vira.
"Iya aku minta maaf,"
__ADS_1
"Ya udah, iya..." kata Vira yang mendorong Firlan agar duduk kembali ke tempat semula.
Namun dengan secepat kilat pria itu mencium wanitanya, Vira tak bisa berbuat apa-apa ketika Firlan memperlakukannya dengan sangat lembut.
"Sekarang kamu terima ya kalung ini," ucap Firlan seraya mengusap bibir Vira dengan ibu jarinya. Vira mengangguk dan Firlan pun tersenyum.
Pria itu kini memakaikan kalung yang sangat cantik ketika melingkar di leher jenjang Vira.
"Kalung ini terlihat sangat cantik ketika kamu yang memakainya," kata Firlan.
"Halah, gombal!" ucap Vira sambil memukul pelan dada Firlan.
"Halah, gombal-gombal tapi suka, kan?" celetuk Firlan sambil mengelus pipi Vira dengan tangannya.
"Apaan, sih!" ucap Vira yang kini sudah merah merona.
"Kita pulang sekarang," kata Firlan yang kini kembali ke tempat duduknya dan mulai memacu kendaraannya keluar dari area mall tersebut.
Selama di perjalanan, Vira dan Firlan tak banyak bicara. Mereka hanya menikmati musik yang mengalun syahdu. Mengenai hubungannya dengan Firlan, Vira hanya ingin menjalaninya dengan sewajarnya dan mengalir apa adanya.
Sedangkan pria itu menepati janjinya untuk membawa Vira jalan- jalan dengan mobil, menikmati suasana malam minggu.
"Ay, kalau dulu kamu kalau malam mingguan nongkrong dimana?" tanya Vira tiba-tiba.
"Yang jelas bukan di kuburan," jawab Firlan ngasal.
"Aiih, mau nyekar kali di kuburan mah. Maksudnya kalau kamu lagi sama pacar kamu, kamu suka pergi kemana gitu..."
"Kemana ya?" Firlan mikir.
"Aku jarang malam mingguan, sih..." jawaban Firlan membuat Vira dongkol.
"Mantan udah 3, masa iya jarang malam mingguan? aneh..." kata Vira.
"Ya emang, kita itu pergi nggak harus malam minggu...." ucap Firlan.
"Lagian aku males kalau bahas masa lalu, lebih baik bahas masa depan kita aja. Itu lebih berfaedah, daripada membahas yang sudah berlalu..." ucap Firlan lagi.
"Ay, pengen martabak bangka deh," kata Vira.
"Martabak? tumben? kamu lagi nggak lagi ngidam kan? aku nggak ngapa-ngapain kamu loh, aku cuma cium doang. Masa iya jadi dedek bayi?" ujar Firlan.
"Ngidam-ngidam, sembarangan! emangnya kalau cewek pengen makan sesuatu itu berarti ngidam? suka ngarang deh kamu tuh?" ucap Vira.
"Hahahaha, kayak gitu aja marah. Jangan marah terus nanti keriput,"
"Heh, kayaknya yang sering marah-marah itu kamu deh, Ay! bukan aku..." Vira mulai sewot lagi.
"Astagaaaaa, dimana-mana laki-laki emang selalu salah!" ucap Firlan.
...----------------...
__ADS_1