
Dan ketika Firlan menyebutkan makanan yang akan di pesannya, Alia merasa familiar dengan suara yang di dengarnya. Wanita itu pun menoleh dan terlihatlah sosok Firlan sedang duduk di depannya. Dia ingin tersenyum, tapi dia urubgkan saat melihat ke kursi di sampingnya yang diduduki oleh Vira. Ternyata Firlan datang dengan Vira, Alia yang akan menyapa Firlan pun jadi ragu.
Dan saat Firlan mendongak dan menutup buku menu dan menyerahkannya pada pelayan, tatapan mereka bertemu. Firlan yang menyadari kalau ada wanita yang tengah memperhatikannya pun pura-pura untuk tidak menyadari kehadiran Alia yang duduk sejajar dengan kekasihnya dan hanya berbeda meja saja.
"Udah, Ay?" tanya Vira pada Firlan.
"Udah, aku pesan beberapa makanan biar kamu kenyang..." ucap Firlan seraya mengelus punggung tangan Vira.
"Tapi jangan kebanyakan, nanti mubadzir!" Vira mengingatkan.
"Nggak, tenang aja..." kata Firlan.
Alia kaget, karena saat bicara dengan Vira, Fitlan menggunakan bahasa yang cenderung santai sedangkan saat bicara dengan dirinya, Firlan terlihat kaku dan juga tegas. Cenderung memakai bahasa yang terdengar formal.
Firlan tak ingin melempar pandangannya pada Alia, dia cukup tau kalau orang yang sedang makan di meja sampingnya ini sedang memperhatikan dia dan Vira.
Alia yang datang dengan seorang teman perempuan pun, mulai memakan hakau yang ada di hadapannya dengan sesekali melihat ke arah Firlan.
"Ay, Ayank!" Vira memanggil Firlan yang sedang melihat layar ponselnya.
"Iya, kenapa Ay?"
"Ay, aku mau mulai diet ah!" kata Vira tiba-tiba.
"Ngapain?"
"Ya nggak apa-apa. Kayaknya akhir-akhir ini aku banyak makan dan nggak terkontrol deh..." kata Vira.
"Nggak perlu menyiksa diri sendiri, aku nggak suka ya kamu diet dan ujung-ujungnya kamu sakit," kata Firlan. Alia bukannya menguping tapi memang percakapan Firlan dan Vira mau tak mau mampir di indera pendengarannya.
"Maksudnya kan biar lebih ideal," ucap Vira manyun.
"Caranya bukan diet tapi olahraga," ujar Firlan.
"Harus ke tempat gym males, Ay!"
"Nah itu, ada kata malesnya. Lagian olahraga memang harus di tempat gym?" tanya Firlan.
"Kamu keliling komplek 20 kali aja cukup bakar kalori. Yang penting itu niat," kata Firlan.
"Heh, keliling 20 kali mah, napas bisa nyangkut di pohon kelapa yang ada!"
"Ya kan aku bilang misalnya..." kata Firlan.
Ditengah percakapan dua arah pasangan itu, teman Alia memperingatkan Alia untuk memakan kwetiaw yang ada di piring wanita itu.
"Makan, Al. Jangan ngelamun. Nanti kesambet!" ucap teman Alia.
"Eh, Iya ... ini masih agak panas dikit," Alia beralasan, sebenarnya dia menghentikan makannya karena tak sengaja malah fokus dengan pembicaraan gabut kedua orang yang menjalin cinta itu. Dia masih terpaku pada cara bicara Firlan yang terdengar sangat santai,
Kembali lagi pada kedua pasangan ayam dan embe yang sedang duduk menunggu makananan, mereka yang tadinya mengobrol soal diet dan olahraga kini di interupsi oleh datangnya pelayan yang datang membawa du gelas lemon tea dan beberapa makanan.
"Aku tadi dipesenin apa, Ay? kwetiaw?' tanya Vira.
__ADS_1
"Bukan, ini buat aku. Kamu kan mintanya nasi..." ucap Firlan.
"Oh, iya yah. Ini ya punyaku..." Vira melihat jamur enoki cryspi dan tumisan daging cincang yang dipadu dengan sayuran buncis.
"Tapi punya kamu enak kayaknya, Ay..." ucap Vira yang tergiur dengan makanan yang ada di piring Firlan.
Setelah pesanan sudah diletakkan semua di meja, pelayan itu pergj meninggalkan meja Firlan.
"Mau?" tanya Firlan.
"Banget!" jawab Vira dengan wajah penuh harap.
Firlan mengambil piring kecil dan memindahkan kwetiaw goreng denfan menggunakan sumpit.
"Udah, Ay. Jangan banyak-banyak, kan aku cuma mau cobain..." kata Vira, Firlan hanya tersenyum.
Bukannya menaruh piring kecil yang berisi kwetiaw itu di depan Vira, Firlan malah menyodorkan makanan yang masih mengeluarkan asap putih itu ke mulut Vira.
Tindakan Firlan itu tak luput dari pandangan Alia. Dia jelas melihat kalau Firlan memang sangat perhatian dengan Vira.
Vira yang disuapi pun, membuka mulutnya dan memakan kwetiaw yang rasanya sudah pasti sangat enak.
"Ay, kamu kok makan banyak tapi perut kamu masih ada kotak-kotaknya?" tanya Vira polos.
Mendengar ucapan wanita yang duduk disampjngnya, Alia mendadak jadi tersedak.
"Uhukkk!"
"Minum, Al..." teman Alia menyodorkan minuman pada temannya yang tersedak makanan.
Firlan juga tak kalah kaget dengan pertanyaan yang meluncur dari mulut Vira.
"Darimana kamu tau aku punya kotak di perut," tanya Firlan.
"Ya tau aja. Kan aku punya indera ke-7," jawab Vira ngasal.
"Ya kerasa lah kalau kamu lagi peluk aku, nggak usah dibuka juga udah tau itu perut kayak papan penggilesan, keras banget!" ucap Vira.
Ucapan Vira yang begitu blak-blakan membuat Alia jadi membayangkan 6 kotak di perut Firlan.
"Hem, ya kan aku olahraga, Vira. Aku butuh badan yang sehat, kalau kayak gitu aku jadi asisten dengan lemak menggelambir kemana-mana," jawab Firlan.
"Hahahaha, lucu juga ya..." kata Vira membayangkan Firlan perut yang membuncit.
"Makan lagi," Firlan menyuapi Vira kwetiaw.
"Udah, Ay. Aku mau makan nasi," Vira menutup mulutnya yang terisi penuh, Firlan hanya terkekeh melihatnya. Dan pandangannya tak sengaja bergeser pada wanita yang duduk di samping kekasihnya. Wanita itu nampak tersenyum padanya, Firlan hanya memberikan senyuman tipis nyaris tak terlihat.
Dan di tengah acara makan Vira, Alua dan temannya sudah selesai menikmati makan siangnya. Mereka berniat untuk meninggalkan tempat duduknya. Dam ketika Alia akan berdiri, ia tak sengaja menyenggol tangan Vira yang sedang sedikit teragkat karena akan meminum lemon teanya.
Byur!
Lemon tea itu sedikit tumpah ke baju Vira.
__ADS_1
"Awh!" Vira otomatis memekik.
"Kamu nggak apa-aoa, Ay?" tanya Firlan. Vira menggeleng, ia menaruh lagi gelas ke atas meja.
"Ups, sorry. Aku, aku tidak sengaja, maaf!" kata Alia yang menyadari kecerobohannya.
Sontak Vira mendongak melihat siapa yang membuat bajunya basah.
"Alia?" cicit Vira.
"Maaf," Alia mencoba mengambil tisu dan membersihkan baju Vira.
"Sekali lagi maaf, ya..." ucap Alia dengan mengatupkan kedua tangannya dan kemudian segera pergi.
Kini pandangan mata Vira tertuju pada kekasihnya, Firlan.
"Ay..." panggil Vira.
"Nanti kita beli baju lagi, sekarang lanjutin makannya dulu, ya..." kata Firlan.
"Bukan itu,"
"Aku pesenin minum lagi?" tanya Firlan.
"Sejak kapan kamu tau dia duduk di sebelahku?" tanya Vira.
"Hemm, nggak pentinglah, Ay..." ucap Firlan.
"Ay, aku cuma nanya sejak kapan kamu sadar kalau dia ada di samping meja kita?" cecar Vira.
"Sejak pertama kali kita duduk disini," jawab Firlan.
"Kok kamu nggak ngasih tau aku sih, Ay?" Vira marah.
"Kan aku bilang nggak penting, Ay!"
"Maksudku, aku kan jadi nggak enak, Ay! paling nggak kita nyapa gitu loh, kesannya kita sombong tau nggak?" ucap Vira kesal.
Firlan hanya melongo mendengar jawaban Vira, dia kira Vira marah karena duduk bersebelahan dengan Alia. Tapi ternyata wanita itu marah karena takut dianggap sombong.
"Udahlah, Yank. Kita punya urusan masing-masing, jadi nggak usah segala sesuatu dipikirin banget!" ucap Firlan.
"Aih, kamu kebiasaan, Ay!" ucap Vira.
"Nyapa doang kan nggak apa-apa," lanjut Vira.
"Emang kamu nggak cemburu?" tanya Firlan tiba-tiba.
"Sedikit," jawab Vira.
"Kenapa nggak banyak?" tanya Firlan.
"Karena kamu udah jadi milik aku!" sahut Vira dengan pedenya.
__ADS_1
...----------------...