Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Astaga, Gia...


__ADS_3

Sontak saja Vira dan Gusti kaget melihat ada Gia dan juga Penny yang berdiri di depan pintu.


"Penny ayo, masuk!" Gia menyuruh Penny yang sedang menggendongnya untuk masuk ke dalam ruangan itu. Refleks, Gusti menurunkan tangannya dari wajah Vira.


"Astaga, Gia..." batin Gusti gemas.


"Ya ampun hampir saja, untung tidak jadi!" Vira merutuki kebodohannya di dalam hati, mengapa dia bisa sedekat itu dengan Gusti.


"Papi sedang apa?" tanya Gia polos.


"Ah, itu tadi. Papi sedang meniup mata tante Vira. Tadi nggak sengaja matanya terkena debu..." ucap Gusti beralasan.


"Apa itu benar Tante?" tanya Gia dengan badan yang masih lemas.


"I-iya, Sayang. Tadi ... nggak sengaja mata tante kelilipan, katanya kalau kelilipan nggak boleh dikucek ya matanya..." ucap Vira yang ikutan berbohong.


"Turunkan aku, aku ingin dipangku papi..." kata Gia.


"Baik, Non..." sahut Penny, pengasuh itu meletakkan Gia dipangkuan papinya.


"Gensetnya sudah berfungsi?" tanya Gusti pada Penny.


"Sudah, Tuan. Tadi pak Ramli sudah memperbaiki gensetnya,"


"Sekarang dimana Vandra? tadi saya suruh dia mencari Ramli..." tanya Gusti.


"Pak Vandra baru saja pulang, Tuan..." ucap Penny.


"Oh, ya. Kau bawakan puding dan buah potong untuk Gia, ya?" suruh Gusti.


"Baik, Tuan..." Penny pun berjalan ke arah pintu dan menutupnya dari luar.


Sedangkan di dalam kamar Gia, baik Vira ataupun Gusti masih betah dalam diam. Keduanya tak ada yabg bersuara.


"Tante, diluar hujan deras. Gia takut lampu tiba-tiba mati..." ucap Gia. Gadis kecil itu berpindah dari pangkuan sang papi ke pangkuan Vira. Gadis kecil itu memeluk Vira posesif.


"Iya, ehm ... pantas saja siang tadi cuaca sangat terik, ternyata sorenya mau turun hujan selebat ini..." Vira memeluk Gia memberi gadis itu kehangatan.


"Lampu sudah menyala, walaupun tidak semuanya. Tapi ini jauh lebih baik, aku ke kamar dulu ya Vir. Kamu nggak apa-apa kan berdua disini dengan Gia?" tanya Gusti.


"Ehm, nggak apa-apa, Mas. Disini cukup terang..." jawab Vira.


"Aku taru lampu emergencynya disini, nyalakan saja kalau tiba-tiba lampu padam, nanti aku akan segera kembali..." ucap Gusti.


"Iya, Mas..." sahut Vira.


"Gia dengan tante Vira dulu, ya? nanti papi kesini lagi..." kata Gusti.


"Iya, papii..." jawab Gia sambil bermanja-manja dengan Vira..


Gusti pun meninggalkan Vira dengan Gia di kamar milik putrinya dan ia berjalan kelauar menuju kamarnya yang tak jauh dari sana.


Sesampainya di kamar yang sangat luas itu, Gusti meraup wajahnya sendiri.


"Astaga, hampir saja aku menciumnya!" Gusti tak habis pikir dengan apa yang dilakukannya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau dia membenciku?" Gusti memijit pangkal hidungnya, sekarang dia duduk bersandar di sofa di salah satu sudut kamarnya.


Ia membuka satu persatu kancing kemejanya, sekarang mata pria itu memejam. Ia membayangkan wajah Vira.


"Dia memiliki mata yang indah," gumam Gusti, satu lengkung senyuman tergambar di wajahnya.


"Jantungku rasanya berdebar saat aku sedekat itu dengannya, apa itu artinya hatiku sudah mulai terbuka?" lirih Gusti.


Sedangkan di kamar Gia, Vira merasa kalau dia telah melakukan satu kesalahan.


"Situasi kayak gini nggak boleh terjadi lagi. Bagaimanapun aku udah punya Firlan, dan aku nggak mau menghianati dia..." ucap Vira dalam hatinya.


Sementara hati Vira sedang kalut, Penny malah tersenyum melihat Vira yang kini sedang menyuapi Gia semangkuk puding.


"Ada yang aneh denganku?" tanya Vira pada Penny.


"Tidak ada, Mbak. Tidak ada yang aneh..." ucap Penny.


"Lalu kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" tanya Vira.


"Tidak apa-apa, Mbak. Sepertinya Gia sebentar lagi punya mami baru," bisik Penny pada Vira.


"Aiiiish, kamu ini sembarangan kalau ngomong. Kalau Gia denger bagaimana?" lirih Vira.


"Tante bisik-bisik apa pada Penny?" tanya Gia.


"Ah, itu Gia. Tante ehm tante bilang kalau tante ingin puding ini juga, tante minta Penny untuk membawakan satu lagi..." kata Vira.


"Penny, bawakan tante Vira puding. Kenapa kau malah masih disini?" tanya Gia yang mulai bertenaga.


"Iya Non Gia. Saya ke bawah dulu, ya. Non Gia ingin apa lagi? biar saya sekalian ambilkan..."


"Ya sudah, kalau begitu, permisi, Non..." kata Penny.


"Gia sudah merasa lebih baik?" tanya Vira.


" Iya Tante ... Gia sudah lebih baik, hanya kepala Gia masih sedikit pusing..." jawab Gia.


"Nanti pusingnya ilang kalau Gia rajin minum obat yang teratur," ucap Vira lembut.


"Gia mau tiduran dulu? biar tante bisa check suhu badan Gia..." Vira meletakkan mangkok diatas nakas. Gia mengangguk.


"Anak pinter..." puji Vira.


Wanita itu lalu menempelkan termometer gun di kening Gia.


"Syukurlah, suhu badan kamu sudan kembali normal. Tapi, Gia tetep harus minum obat, ya?" ucap Vira.


"Iya, Tante..."


Dan Penny pun datang membawakan puding untuk Vira.


"Silakan, Mbak..."


"Makasih..." ucap Vira.

__ADS_1


"Hujan di luar sudah reda?" tanya Vira.


"Iya, lumayan. Kenapa, Mbak?" tanya Penny.


"Nggak apa-apa, aku mau pulang sebelum kemaleman," kata Vira.


"Tante nggak nginep disini?" tanya Gia.


"Emh, nggak bisa Gia. Tante harus pulang karena besok tante harus berangkat kerja..." jelas Vira.


"Yah..." Gia kecewa.


"Lain kali kan kita bisa ketemu lagi, Gia. Okey?" Vira mencoba memberi pengertian.


Lalu beberapa saat kemudian, Gia mengangguk.


Vira tersenyum dan mengelus kepala anak itu. Vira segera menghabiskan pudingnya dan pamit dari kamar Gia. Gia yang sedang sakit berbaring di ranjangnya ditemani oleh Penny.


"Tante pulang dulu, ya? ingat jangan lupa makan dan minum obat..." ucap Vira seraya mengecup kening Gia.


"Hati-hati, Tante..." kata Gia.


"Pasti, Sayang..."


Vira pun berjalan ke arah pintu dan membukanya, wanita itu berhenti dan menengok ke arah Gia sebelum sosoknya hilang dibalik pintu.


Ketika dia akan berjalan ke arah tangga, dia baru teringat kalau tas beserta bajunya masih berada di kamar Gusti.


"Kok bisa sampe kelupaan!" ucap Vira.


Akhirnya dengan mengumpulkan segenap kekuatannya, wanita itu mengetuk pintu kamar pria itu.


"Ya?" jawab Gusti seraya membuka pintu kamarnya sedikit.


"Ada apa, Vir?" tanya Gusti.


"Aku ... emh, aku mau ambil tas dan baju..." kata Vira.


"Oh, masuklah!" Gusti membuka lebar pibtu kamarnya, ternyata pria itu baru saja selesai mandi. Gusti yang sudah memakai baju santainya, terlihat sangat segar berbeda dengan dirinya yang masih kucel.


"Aku permisi sebentar..." Vira jalan ke ruangan tempat dia berganti pakaian.


Gusti hanya mengerutkan keningnya melihat Vira yang ingin mengambil bajunya.


Didalam ruangan itu, Vira melepas dress yang dikenakannya dan memakai kembali baju yang ia pakai tadi pagi.


Dan tak lama ia keluar dari ruang khusus penyimpanan baju.


"Loh, kenapa kamu ganti baju kamu dengan yang tadi siang?" tanya Gusti.


"Aku harus pulang, Mas. Sebelum kemalaman, naik motor pakai dress kayak gini malah nanti susah..." ucap Vira seraya mencabfkolkan tas dibahunya dab memberikan dress yang dipakainya tadi pada pria itu.


"Aku antar, ya?" ucap Gusti.


"Nggak usah, aku kesini naik motor. Lagian nggak terlalu jauh juga..." kata Vira berbohong.

__ADS_1


"Aku pamit..." ucap Vira dan meninggalkan Gusti di kamarnya sendirian.


...----------------...


__ADS_2