Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Calon Istri Ricko


__ADS_3

Perempuan itu mencium pipi kanan Ricko sebelum duduk di samping pria berjas yang ada di depanku itu.


"Hai," perempuan itu menyapa Vira dengan senyum manisnya.


"Tunggu, sepertinya dia tidak asing..."


"Perkenalkan, ini Prisha calon istriku. Dan Prisha, ini Vira ... dia sudah aku anggap seperti adik sendiri," kata Ricko.


"Hai, aku Prisha Ganendra. Senang bisa berkenalan dengan Kakak..." ucap Prisha mengulurkan tangannya.


"Ganendra? kamu ah iya, kamu itu adik ipar Amartha, kan? iya aku pernah melihatmu di acara tujuh bulanan sahabatku," kata Vira tersenyum mengembang.


"Wah, pantas saja aku sepertinya tidak asing dengan wajah Kakak..."


"Kenalkan, aku Vira..." ucap Vira.


"Wah, ternayata dunia ini begitu sempit ya?" kata Prisha.


"Baiklah ladies, kalian lebih baik pesan makanan dulu..."


Mereka masing-masing sudah menyebutkan pesanannya pada waitres yang sudah pasti merasakan pegal di kakinya karena terlalu lama berdiri.


Sembari menunggu makanan datang, mereka bertiga berbincang.


"Jadi sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?" tanya Vira memandang dua sejoli di hadapannya.


"Kapan ya, Sha?"


"Jangan bilang kalau Om lupa!"


"Hey, kau sudah janji tidak menyebutku Om lagi, dasar nakal!" Ricko mencubit hidung kekasihnya.


Vira jadi salting sendiri, baru semalam Ricko menyatakan perasaannya sekarang pria itu bersikap sangat manis dengan kekasihnya. Vira sungguh tidak percaya ternyata pria seperti Ricko sangat pandai menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Vira sangat senang akhirnya Ricko mendapatkan kebahgiaannya, apakah ada sedikit penyesalan? Entahlah.


"Jadi, kita dekat sudah lebih dari setahun. Kita nggak sengaja ketemu di supermarket, itu juga gara-gara jeruk medan. Mbak Amartha ngidam jeruk medan waktu kita lagi jalan di supermarket, karena aku nggak tega jadi aku nawarin diri buat beliin di supermarket. Mbak iparku aku suruh tunggu di kedai boba, aku yang emang nggak tau mana seledri mana kocai pun harus ubek-ubek deretan buah-buahan. Nggak ngerti juga kan jeruk medan tuh yang kayak gimana, untungnya ada Om ganteng ini yang nolongin aku nunjukin dimana jeruknya. Kita juga sempet ketemu di cafe terus tukeran nomor hape," terang Prisha panjang lebar.


Vira jadi manggut-manggut. Dia sekarang mengerti, dan ingat sewaktu Vira masih numpang hidup di apartemen Ricko, Vira sering mendengar Ricko menelepon seorang wanita, dan dia selalu bisa tertawa saat bicara dengan wanita itu. Dan Vira kini yakin jika wanita itu, Prisha adik dari Satya suami dari sahabatnya Amartha.


"Hey, jangan panggil aku dengan sebutan, Om! kamu kan udah janji, honey! aku nggak setua itu..." kata Ricko.


"Tapi kan seksoy tahu kalau panggil, Om! hahahah," Prisha tertawa sangat renyah.

__ADS_1


"Tapi kan..."


"Iya iya, peace..." Prisha mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.


"Ehm, jadi? udah dapet restu, nih?" celetuk Vira.


"Gimana ya Om? kita udah dapet restu belum nih dari mami papi?" Prisha menggoda kekasihnya.


"Ck! kamu ini..." Ricko merangkul pundak Prisha. Ternyata dalam menjalin hubungan Ricko tak malu menunjukkan kemesraannya di depan oranglain. Vira jadi kikuk sendiri.


"Sebenarnya sudah, Vira. Dan kami sudah menentukan tanggal pernikahan, seminggu lagi acara pernikahannya," ucap Ricko.


"What? secepat itu? aiiishh, jahatnya Kak Ricko baru ngasih kabar mepet begini," ucap Vira yang pusing karena dia belum punya gaun untuk menghadiri pesta pernikahan Ricko.


"Ini Kak, undangannya. Maaf, mungkin kesannya terlalu mendadak tapi aku masih virgin kok, jadi kita menikah bukan karena terjadi sesuatu," kata Prisha blak-blakan.


"Astaga, Prisha..."


Vira hanya geleng-geleng kepala, ternyata ada satu makhluk lagi yang lebih ceplas ceplos dari dirinya.


"Dan setelah menikah, kita akan tinggal di Aussie..." ucap Ricko tiba-tiba.


"Tapi kalau mau kita bisa Long Distance Mariage kok, Honey..." ucap Prisha.


Dan pesanan pun datang, mereka menikmati makanan yang tersaji di atas meja. Vira melempar senyum saat Ricko melihat ke arahnya.


"Raih bahagiamu, Kak. Kamu pantas mendapatkannya, apalagi tuan Abiseka dan Nyonya Sandra itu tipe-tipe mertua idaman. Kamu pasti akan merasakan keluarga yang utuh lagi," ucap Vira dalam hatinya.


Ketika mereka sedang menikmati makanan, tiba-tiba ada sosok gadis kecil yang menghampiri dan menarik-narik baju Vira.


"Tanteeee..."


"Gia? kamu kesini sama siapa, Sayang?" tanya Vira. Ricko dan Prisha pun saling pandang.


"Siapa, Vir?" tanya Ricko.


"Salah satu muridku," jawab Vira.


"Maaf, anak saya mengganggu ... Gia ayo kita cari meja lain," ucap seorang pria gagah yang menghampiri putri kecilnya.


"Mas Gusti?" gumam Vira.

__ADS_1


"Gia mau makan dengan tante Vira, Piiih..." wajah Gia memelas memandang papi nya.


"Bergabunglah dengan kami, Tuan. Sepertinya akan lebih seru jika kita makan bersama. Perkenalkan saya Ricko dan ini calon istri saya, Prisha," ucap Ricko mengenalkan Prisha. Dan Vira hanya bisa tersenyum tipis.


"Saya Gusti, senang berkenalan dengan anda," kata Gusti.


"Gia papi sudah pesan meja untuk kita. So, please..." Gusti membujuk Gia, dan wajah Gia mendadak murung. Vira yang tidak tega melihat itu pun langsung bangkit dari duduknya.


"Maaf, Kak Ricko ... Prisha, mungkin kita bisa makan bersama lain waktu," kata Vira.


"Baiklah," ucap Ricko.


"Permisi," kata Vira yang kemudian menggandeng tangan Gia


"Dimana meja kamu, Sayang?" tanya Vira pada Gia.


"Yeeeeey, akhirnya aku bisa makan siang bareng Tanteeee..." Gia kegirangan.


"Disana," ucap Gusti.


Dan kini mereka duduk di satu meja yang sama. Vira duduk di samping Gia sedangkan Gusti duduk dihadapan Vira. Mereka seperti keluarga kecil yang bahagia.


"Tante mau makan apa?" tanya Gia melihat buku menu.


"Kamu saja, Sayang..." ucap Vira.


"Yah, kalau tante nggak makan, Gia juga nggak mau..."


"Pesanlah sesuatu, Vira. Kamu kan tadi belum menyelesaikan makananmu," ucap Gusti.


"Baiklah, putri keciiiiiiil. Tante ingin makan Bruchetta dan minuman ini..." Vira menunjuk gambar di buku menu.


Gusti pun melambaikan tangannya pada pelayan, dia memesankan makanan yang diinginkan Gia dan Vira.


Gusti tersenyum saat Gia terlihat sangat ceria saat bersama Vira dan sangat manja saat bersama dirinya.


Vira tidak sadar jika Gusti saat ini sedang memperhatikannya. Sebenarnya ada rasa spesial di hati Gusti, namun dia sadar posisinya saat ini.


"Mana mungkin wanita seperti Vira mau dengan pria yang sudah mempunyai anak sepertiku," batin Gusti.


"Tapi setidaknya aku bisa merasakan kehadirannya memberi warna baru untukku dan Gia, wanita ini sangat berbeda. Gia sangat mudah menyayanginya, tapi aku tidak bisa membiarkan keduanya terlalu dekat. Aku takut Gia berharap lebih pada Vira. Aku takut putriku akan kecewa,"

__ADS_1


----------------


__ADS_2