
Malam ini Vira mencoba memasukkan makanan yang ada di piring ke dalam mulutnya, meskipun dia kurang berselera untuk makan.
"Nggak enak?"
"Bukannya nggak enak, tapi aku emang nggak selera buat makan..." kata Vira jujur.
"Dipaksa, Ay. Dikit- dikit..." kata Firlan seraya menyuapkan makanan ke mulut Vira.
Vira pun menerima suapan demi suapan itu, Firlan tersenyum.
"Nah gitu, dong. Nggak usah banyak- banyak yang penting perut kamu ada isinya," Firlan menyuapkan lagi makanan ke mulut Vira.
"Udah ya, Ay..." ucap Vira.
"Ya udah nggak apa-apa," Firlan menghabiskan makanan yang ada di piringnya.
Pria itu meneguk air putih yang ada digelas. Dia menoleh pada Vira yang kini sedang menatapnya.
"Kondisi kamu gimana hari ini?" tanya Firlan.
"Baik, jauh lebih baik. Dan ibu minta aku buat pulang," kata Vira.
"Aku anter, ya?" ucap Firlan.
"Nanti kamu capek, kan besoknya kamu ke rumah juga kan sama ibu?" tanya Vira.
"Iya, tapi aku nggak bisa kalau kamu naik kendaraan umum," ucap Firlan.
"Aku udah biasa kok naik kereta, jadi nggak usah dianter. Lagian cepet juga,"
"Tapi kamu habis sakit kayak gini, udah deh nurut sama aku, Ay! ini juga buat kebaikan kamu," kata Firlan.
"Ya ya ya udah, terserah kamu aja..." ucap Vira.
"Nah gitu, dong!"
.
.
.
Pagi harinya, Vira sudah bersiap. Dia sudah berdandan rapi di kamar Firlan, sedabgkan pemilik asli kamar itu belum menunjukkan batang hidungnya. Semalam Firlan mengatakan kalau dirinya akan tidur di kamar tamu yang ada di lantai bawah.
"Yang mau nganter belum nongol, apa jangan- jangan dia masih tidur?" gumam Vira.
Dan pintu pun di ketuk dari luar.
"Baru juga dipikirin, udah dateng aja!" gumam Vira, yang menebak jika Firlan yang mengetuk pintunya
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk..." seru Vira.
Dan ternyata yang muncul bukan sosok Firlan melainkan bik Ira.
"Permisi, Neng ... sarapannya sudah siap, mau di bawa ke kamar atau..."
__ADS_1
"Saya turun ke bawah aja, Bik. Oh ya, Kak Firlan belum bangun?" tanya Vira.
"Den Firlan sudah pergi pagi-pagi sekali, katanya mau ke kantor sebentar..." jawab bik Ira.
"Ke kantor?" gumam Vira.
"Kalau begitu saya permisi, Neng..." bik Ira menutup kembali pintu kamar itu.
"Dia banyak kerjaan aja pake gaya mau nganterin aku segala. Hari sabtu aja masih kepikiran ngantor, ckck sesibuk itu calon suami," kata Vira.
Setelah minum obat yng harus diminum sebelum makan, Vira turun ke bawah menuju meja makan. Suasana rumah sangat sepi, wanita itu hanya bisa menghela nafasnya. Dia sudah terbiasaa dengan kesendirian tapi di rumah sebesar ini rasa sepi begitu terasa tidak seperti di kontrakannya yang walaupun sepi tapi suka denger tetangga pada ribut perkara koceng kesayangan.
Baru saja Vira akan menyendokkan nasi, ternyata Firlan datang menghampirinya dengan setelan jas yang rapi.
"Loh, Ay? katanya ke kantor?" tanya Vira.
"Tadinya iya, tapi aku udah bilabg sama bos kalau aku mau ke luar kota, mau ngelamar kamu. Jadi aku nggak jadi kesana," kata Firlan.
"Oh, kamu bawa apaan?" tanya Vira menunjuk bungkusan yang Firlan bawa.
"Bubur ayam, kali aja kamu lagi nggak pengen makan nasi, jadi aku sekalian beliin..."
"Aku makan bubur aja, deh..." kata Vira yang langsung menyambar bungkusan yang Firlan bawa.
"Bik, tolong ambilin mangkok, Bi..." ucap Firlan.
"Baik, Den..."
"Habis makan aku ganti baju dulu, baru kita pergi..."
"Kamu beneran nggak capek?" tanya Vira.
Tak lama Bik Ira datang membawa satu mangkok berwarna putih.
"Ini Den mangkoknya..." kata bik Ira.
"Makasih, Bik..."
Vira menuangkan bubur ke dalam mangkoknya.
"Nggak makan?" tanya Vira.
"Makan, tapi aku mau makan nasi. Kasihan tuh makanan nggak ada yang nyentuh..." tunjuk Firlan dengan dagunya.
Mereka menikmati sarapan bersama pagi itu. Dan Firlan kini mengajak Vira untuk masuk ke dalam mobilnya untuk pergi ke kampung halaman wanita itu.
.
.
Sedangkan di rumah Dewi begitu sibuk menyiapkan acara besok. Dia tidak ingin mengecewakan calon besannya.
"Gimana, Mah? Vira pulang hari ini?" tanya Raharjo.
"Kemarin sih bilangnya begitu, Pah. Kita sarapan sekarang, mama sudah buatkan nasi goreng..." kata Dewi.
"Pastiin lagi, Mah. Masa ada calon besan datang dia tidak pulang kan nanti kita yang malu, Mah. Soalnya Vira suka ajaib kelakuannya..." kata Raharjo.
"Nanti setelah sarapan, mama telfon anak itu. Sekarang kita makan dulu, Pah. Keburu dingin nasi gorengnya..." ucap Dewi sembari menyodorkan piring yang sudah diisi nasi goreng di depan suaminya.
"Semuanya sudah siap, Mah?"
__ADS_1
"Sudah, papah tenang saja..." kata Dewi.
"Syukurlah kalau semua sudah siap..."
Dan pagi itu setelah sarapan Dewi ke kamarnya untuk mengambil ponsel miliknya.Ia menelepon Vira untuk memastikan kedatangan anak perempuan semata wayangnya itu.
"Halo, assalamualaikum, Vira...?"sapa Dewi
"Waalaikumsalam, Maa. Ada apa, Maa?" tanya Vira.
"Hari ini kamu jadi pulang, Sayang?"
"Iya, Maa. Ini dalam perjalanan, tapi masih jauh..." kata Vira.
"Oh, berarti kamu udah perjalanan pulan
ng, ya sudah hati-hati ya ... naik apa kamu, Sayang?" tanya Dewi.
"Vira dianter kak Firlan, Maa..."
"Bukannya Firlan datangnya besok? atau dimajukan hari ini?" tanya Dewi menautkann kedua alisnya.
"Kak Firlan cuma nganter Vira aja, habis itu pulang lagi. Besok baru dateng sama ibunya," jelas Vira.
"Oh, begitu, mama kira mau dimajukan! mama sampai kaget, Sayang..." kata Dewi.
"Ya sudah, kamu hati-hati, bilang sama Firlan jangan ngebut! sudah ya, assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." jawab Vira.
.
.
"Siapa, Ay? tante Dewi?" tanya Firlan setelah Vira memasukkan ponsel ke dalam tasnya.
"Iya, mama tadi nanya aku jadi pulang hari ini atau nggak. Ya udah aku jawab kalau aku dianter kamu, dan mama tadi ngira kalau kedatangan kamu dan ibu kamu tuh maju hari ini..." terang Vira
"Nanti aku bilang, kalau yang datang hanya aku dan ibu. Jadi keluarga ku nggak usah repot- repot nyiapin yang acara..." kata Firlan.
"Iya nanti aku bilangin..."
"Kamu kalau ngantuk tidur aja, biasanya juga nempel jok mobil langsung molor!" celetuk Firlan.
"Dih, aku nggak gitu yaaa..." Vira melirik Firlan dengan sinis.
"Dih emang gitu, kok!"
Dan perjalanan mereka kini ditemani hujan yang lumayan deras.
"Disini malah hujan ya, Ay?" tanya Vira.
"Iya, sekarang cuaca suka berubah-ubah, nggak bisa diprediksi kayak kamu!"
"Aish, menyebalkan!" Vira melipat tangannya di depan dada.
"Dingin? kalau dingin aku ada selimut tuh di bagasi..."
"Aku lipet tangan bukan karena dingin tapi karena sebel!" Vira memutar bola matanya malas, sedangkan Firlan hanya bisa menyembunyikan senyumnya karena berhasil membuat wanita di sampingnya itu merasa kesal.
...----------------...
__ADS_1