Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Borong Semua


__ADS_3

Firlan melihat arloji di tangannya.


"Aiih, dikit-dikit ngambek mulu nih si ayam!" Firlan segera memakai jasnya dan melangkah pergi keluar unitnya.


Pria itu masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju lantai basement.


Firlan dengan langkah cepat menuju mobilnya, dia segera masuk dan mulai menyalakan mesin.


"Apa semua wanita kalau lagi kedatangan bulan jadi lebih galak dari singa?" gumam Firlan.


Pria itu kini mulai menancapkan gasnya menuju sebuah tempat. Dia terus saja melirik jam yang ada di tangannya.


"Masih ada waktu," kata Firlan.


Setelah berkendara kurang lebih 30 menit akhirnya pria itu sampai di tempat tujuannya. Firlan mengambil kacamata hitam yang ada di dash board lalu memakainya.


Pria berjas biru muda itu berjalan masuk ke adalam sebuah minimarket dekat kontrakan Vira.


"Nyarinya dimana?" gumam Firlan yang menyusuri setiap rak di minimarket itu.


Namun, penampilannya yang menggunakan kacamata hitam di dalam ruangan itu, membuat dalah satu pegawai minimarket menjadi curiga.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu, Kak?" tanya seorang pegawai laki-laki.


"Hem, saya mencari..."


"Mencari apa, Kak? biar saya carikan..." ucap pegawai itu memberi solusi.


"Kalau pembalut wanita di sebelah mana ya?" tanya Firlan ragu-ragu.


"Pembalut wanita? oh, itu di sebelah sini Kak..." pegawai itu mrnunjuk sebuah rak yang menyediakan pembalut wanita berbagai macam merek.


"Yang paling bagus yang mana?" tanya Firlan pada pria yang ada di sampingnya.


"Sebentar, saya tanyakan teman saya dulu!"


"Noraaaaa! pembalut wanita yang paling bagus merek apa? ini masnya bingung mau beli pembalut!" seru pria itu dengan suara lantang, membuat Firlan menjadi pusat perhatian pengunjung wanita yang kebetulan datang ke tempat itu.


"Astaga, kenapa dia berteriak seperti itu? dasar tidak tau malu!" gerutu Firlan.


"Saya kurang tau, nanti teman saya yang akan kesini, Kak. Permisi..." ucap laki-laki yang kini menyuruh salah satu rekannya untuk menghampiri Firlan.


"Mas nyari pembalut? buat siapa? pacar atau istri?" tanya salah seorang pengunjung wanita.


Firlan hanya tersenyum canggung tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan wanita itu.


"Merk yang ini juga bagus kok!" ucap wanita yang kini berdiri di samping Firlan sambil menujuk sebuah pembalut.


"Ada yang bisa dibantu, Kak?" tanya seorang pegawai minimarket yang bernama Nora.


"Saya mencari pembalut," kata Firlan.

__ADS_1


"Ini semua pembalut wanita, Kakak mau yabg berapa senti?"


"Berapa senti? maksudnya?" Firlan mengerutkan keningnya.


"Iya, panjangnya beda-beda, Kak. Mau yang ada sayapnya atau yang biasa?"


Firlan semakin pusing mendengar pertanyaan pegawai wanita itu.


"Yang ambilkan saja beberapa macam, Mbak! dengan ukuran yang berbeda..." ucap Firlan tak mau ambil pusing.


Dan akhirnya pun pagi itu Firlan memborong pembalut wanita dengan berbagai macam merek. Daripada salah, Firlan lebih baik membeli semua merek yang dijual di mininarket tersebut. Tak lupa dia membelikan roti dan juga susu untuk Vira. Dia yakin kalau wanita itu pasti belum sarapan.


Para pelanggan yang kebetulan melihat Firlan memborong kebutuhan khusus wanita itu pun tertawa. Pria itu segera membayar belanjaannya dan segera pergi dari tempat itu.


"Astagaaa, kamu bikin aku jadi bahan tertawaan disana, Vira!" gerutu Firlan yang kini melepaskan kacamatanya dan mulai menancapkan lagi mobilnya yang super nyaman.


Selama menyetir, Firlan beberapa kali melirik dua kantong belanjaan yang dengan ukuran besar yang berisi barang yang membuatnya malu setengah mati.


Setelah melajukan mobilnya selama 5 menit, akhirnya pria itu sampai juga di kontrakan Vira.


Firlan segera turun dengan membawa dua kantong besar plus satu kantong yang berisi susu dan roti.


Tok.


Tok.


Tok.


"Ya sebentar!" jawab Vira dari arah dalam rumah.


Ceklek.


Satu sosok wanita dengan wajah pucat membukakan pintu untuk Firlan.


"Kamu pucet banget?" Firlan segera menerobos masuk setelah membuka alas kakinya.


"Kamu bawa apa?" tanya Vira.


"Pesenan kamu, nih coba aja liat. Oh ya aku juga beliin kamu roti dan susu..." ucap Firlan yang duduk di kursi ruang tamu.


"Pesenan aku?" gumam Vira.


Kemudian ia melihat kantong belanjaan yang Fitlan taruh diatas meja.


"Astaga, kamu ngapain beli pembalut sebanyak ini?" tanya Vira yang keheranan.


"Aku nggak tau yang biasa kamu pakai, berapa senti dan perlu pakai sayap atau nggak. Dan daripada aku salah lebih baik aku beli semua supaya kamu bisa milih, yang mana yang kamu suka..." jelas Firlan.


"Iya, tapi nggak sebanyak ini juga, Ay! astaga, ini ukurannya beda-beda semua? hahahahah..." ditengah rasa nyerinya Vira tak tahan untuk tidak tertawa.


"Kok kamu malah ketawa? memangnya ada yang lucu?" tanya Firlan.

__ADS_1


"Hahah, nggak ... nggak ada yang lucu, cuma aku nggak habis pikir kamu bakal beli banyak kayak gini," ucap Vira.


"Ya gimana, pagi-pagi ada yang ngambek!" celetuk Firlan.


"Kamu pasti belum sarapan ya?" tebak Vira.


"Mana sempat!"


"Aku bikinin teh, mau? sama roti bakar cokelat..." ucap Vira.


"Emang kamu bisa?" tanya Firlan.


"Bisa kalau cuma yang kayak gitu aja, kan tinggal kasih mentega sama meses aja..." kata Vira.


"Maksudnya, kamu kan lagi sakit..." ucap Firlan.


"Biar aku aja yang bikinin," kata Firlan yang membawa kabtong keresek yang berisi roti dan susu.


Vira pun melengkungkan senyumnya sembari mengekori Firlan yang sudah berjalan menuju dapur.


Pria itu melepaskan jasnya dan menyampirkan di kursi meja makan.


Vira duduk sambil melihat Firlan yang kini sedang menyiapkan teflon dan juga piring.


"Beruntung aku tadi lengkap belinya, ada mentega sama mesesnya..." ucap Firlan sambil menyalakan kompor dan mulai membuat air panas dan juga roti bakar.


"Iya iya deh. Kamu emang yang paling hebat! tau aja apa yang aku butuhin," puji Vira.


"Kamu baru tau? aku yang sebenernya kamu butuhin..." kata Firlan, Vira hanya iya iya saja daripada wajannya melayang.


Firlan pun dengan secepat kilat membuatkan dua cangkir teh panas dan juga tangkup roti bakar.


"Makanlah, supaya ada tenaga..." kata Firlan yang mendekatkan piring roti bakar untuk Vira.


"Kamu juga, dong! masa aku aja yang makan,"


"Aku hampir telat," kata Firlan yang akan beranjak dari duduknya.


"Makan dikit aja, perut kamu juga masih kosong..." ucap Vira.


"Baiklah, aku makan..." Firlan duduk kembali dan menyantap satu tangkup roti yang masih panas.


"Hati-hati masih panas!" ucap Vira mengingatkan sembari mulutnya mengunyah makanan.


Firlan segera menghabiskan makanannya, karena hari ini dia harus mendampingi Satya dalam sebuah rapat penting. Pria itu segera menyeruput teh nya dan segera berdiri.


"Aku nggak bisa lama-lama, kamu habiskan makananya dan cepat sembuh. Hubungi aku kalau ada apa-apa..." ucap Firlan seraya mengambil jasnya dan mengecup kening Vira sekilas.


"Hati-hati, jangan ngebuuutt!" seru Vira pada pria yang kini sudah setengah berlari keluar dari kontrakannya.


"Jutek-jutek tapi perhatian juga..." gumam Vira yang kini menyeruput teh buatan kekasihnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2