Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Rumah Sakit


__ADS_3

Dan tiba tiba...


Drrrrrrtttt...


Drrrrtttt...


Ponsel Firlan berdering. Firlan yang sebentar lagi mencapai tujuannya tak menghiraukan ponselnya yang terus mengeluarkan suara. Vira menjauhkan wajah Firlan darinya.


"Hhhh ... angkat," kata Vira.


"Ck! biariiiiin aja," ucap Firlan yang merapatkan kembali badan Vira.


"Angkaaat!" Vira mendorong dada pria yang kini sangat kesal karena kemesraaannya diganggu.


"Iya iya," Firlan merogoh benda pipih di dalam saku jasnya.


"Alia?" gumam Firlan.


"Siapa? Alia?" mata Vira memicing saat mendengar nama Alia.


"Ehm, angkat aja siapan tau penting..." ucap Vira.


"Aku nggak ada apa-apa sama ini orang. Beneran deh,"


"Ya udah kalau nggak ada apa-apa nggak usah panik gitu. Tinggal angkat, apa susahnya..." ucap Vira.


"Loud speaker!" suruh Vira.


Firlan pun akhirnya mengangkat panggilan dari Alia.


"Halo, ada apa Alia?" tanya Firlan.


"Aaakgh, kamu bisa kesini? a-aku,"


"Kamu kenapa?" tanya Firlan.


"S-sakit!" ucap Alia susah payah.


Firlan memandang Vira, wanita menghela nafas. Kemudian mengangguk pelan.


"Hem, baiklah. Tunggu, aku akan segera ke sana," ucap Firlan yang kemudian menutup panggilan teleponnya dan memasukkannya ke dalam saku.


"Kamu ikut," ucap Firlan.


"Kamu aja," kata Vira.


"Biar kita nggak ada saling curiga," kata Firlan yang menyelipkan jari nya ke rambut Vira, sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk menahan punggung wanita itu.


"Aku..."


"Aku apa, hem?" tanya Firlan.


"Aku capek," ucap Vira.


"Ya udah, setelah aku mengantar dia ke rumah sakit, aku langsung balik kesini..." kata Firlan berbisik.


"Ya..." ucap Vira lirih.


Firlan mencium Vira dengan lembut sebelum akhirnya dia melepaskan Vira untuk pergi menemui Alia.


"Aku pergi..." Firlan menjarak tubunya dengan Vira.


"Hati-hati," kata Vira.

__ADS_1


Firlan mengangguk dan berjalan ke arah pintu dan tersenyum sebelum pintu ditutup dari luar.


Vira menjatuhkan tubuhnya di ranjang king size, dia memegang dadanya.


"Cuma kali ini Alia, besok tidak lagi..." kata Vira dengan pandangan mengarah ke langit-langit.


.


.


.


Sedangkan Firlan sekarang menaiki mobilnya untuk menuju rumah Alia.


"Lain kali harusnya kau menelepon orang lain yang bisa menolong kamu, Alia!" gumam Firlan sembari memacu kendaraannya.


"Kau benar-benar merepotkan!" ucap Firlan lagi.


Firlan sebenarnya bisa saja mengabaikan Alia, tapi kali ini Vira yang mengijinkannya. Jadi, biarlah malam ini dia akan menemui Alia sekaligus bicara dengan wanita itu. Agar tak lagi merepotkannya dengan hal-hal seperti ini. Katena bagaimana pun dia sudah memiliki kekasih, dan Firlan harus menjaga hati wanitanya supaya tidak kembali retak dan hancur seperti dulu.


Firlan hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di rumah Alia.


Pria itu memarkirkan mobilnya di pelataran bangunan rumah satu lantai itu. Pria itu keluar dari mobil dengan tergesa-gesa.


Tok.


Tok.


Tok.


Firlan mengetuk pintu depan, "Alia, ini aku Firlan!"


Prraaaang!


Suara benda jatuh.


Firlan pun mencoba membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.


Ceklek.


"Aliaaa? Alia?" Firlan memanggil nama Alia sembari mencari keberadaan wanita berlesung pipi itu.


"Di-sini..." lirih suara Alia.


Firlan pun mencari ke arah dapur dan benar saja Alia sedang berdiri dengan berpegangan pada kursi di meja makan.


Firlan melihat gelas yang pecah berserakan di lantai. Sementara wajah Alia sudah pucat dengan bulir keringat membasahi keningnya.


"Bertahanlah," Firlan mendekat dan menopang tubuh Alia yang hampir ambruk.


"Terima kasih kamu mau datang kemari..."


"Bicaranya nanti saja, sekarang kita ke rumah sakit," Firlan segera mengangkat tubuh Alia yang sudah sangat lemas.


"Jangan pingsan, karena kamu akan bertambah berat kalau kamu tidak sadarkan diri," lanjut Firlan yang menyuruh Alia tetap menjaga kesadarannya.


Firlan bergegas memasukkan Alia ke dalam mobilnya. Ia mendudukkan Alia di kursi penumpang samping kemudi.


Pria itu berlari untuk mengunci pintu rumah yang masih terbuka lebar. Setelah itu dia kembali ke dalam mobilnya untuk menyalakan mesin dan meluncur ke rumah sakit.


"Sssshhh," Alia mendesis dan sesekali memegang perutnya yang sepertinya sangat nyeri.


"Apa kamu salah makan lagi?" tanya Firlan sembari tetap fokus menyetir.

__ADS_1


"Mungkin, sssshhh, ahhh," jawab Alia lirih, dia meringis kesakitan.


"Sudah tau punya sakit lambung, kamu harus memperhatikan apa saja yang kamu masukkan ke dalam perutmu itu," ucap Firlan.


"Aku bahkan lupa kapan terakhir aku memasukkan makanan," kata Alia.


"Astaga, jadi kamu tidak makan? berapa hari? atau berapa bulan?" tanya Firlan ngawur.


"Aaishh, tidak selama itu juga..." jawab Alia lemas.


"Tetaplah sadar, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit..." kata Firlan.


"Ya, aku usahakan..." ucap Alia yang kini memejamkan matanya, ia terus memegangi perutnya.


Tak lama Firlan sampai juga di rumah sakit. Firlan memarkirkan mobilnya asal dan menggendong Alia ke IGD.


"Suster, tolong teman saya!" ucap Firlan yang memanggil salah satu suster yang bertugas di IGD.


Dua orang perawat mendorong brankar ke arah Firlan. Pria itu meletakkan Alia di atas brankar itu.


"Kami akan memeriksanya, anda bisa menunggu di luar," ucap salah seorang perawat wanita.


Firlan pun duduk di kursi tunggu depan ruang IGD.


Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Vira.


"Halo, Ay..." sapa Firlan.


"Ya, Kak..." jawab Vira.


Hati Firlan berbunga saat Vira sudah mau memanggilnya kakak, daripada aku kamu ini jauh lebih baik.


"Kamu jangan lupa makan, pesanlah makanan..." kata Firlan.


"Nanti kalau Kakak udah nyampe kesini, Kakak juga belum makan, kan?" kata Vira.


"Ya udah kalau gitu. Sekarang aku lagi di IGD, Alia sepertinya harus dirawat, kondisinya lemah..." ucap Firlan.


"Urus aja dulu sampai selesai, aku tunggu..." kata Vira yang sebenarnya memang belum lapar.


Dan pintu IGD pun terbuka.


"Ay, nanti aku telfon lagi..." ucap Firlan buru-buru mematikan sambungan telepon.


"Keluarga dari Alia Kinara?" ucap seorang perawat.


Firlan langsung berdiri, "Bagaimana kondisinya?" tanya Firlan.


"Nona Alia sangat lemah, kemungkinan ada luka di dalam lambungnya. Jadi untuk sementara waktu dokter menyarankan agar pasien di rawat selama beberapa hari kedepan,"


"Lakukan saja yang terbaik," ucap Firlan.


"Saya bisa menjenguknya sebentar?" tanya Firlan.


"Silakan, Tuan..." ucap perawat mempersilakan Firlan untuk masuk.


"Sebelah sini, Tuan..." perawat itu menyibak tirai tempat brankar Alia di letakkan.


Firlan mendekat, "Alia, kamu dirawat disini dulu selama beberapa hari sampai kondisi kamu membaik, aku akan mengurusnya. Dan maaf aku harus kembali, ada seseorang yang menungguku,"


"Permisi Nona Alia, kita ambil sampel darahnya dulu, ya?" kata perawat yang masuk dengan membawa troley medis.


"Firlan, bisa kah kamu menemani aku sebentar saja? aku takut," ucap Alia yang melihat alat-alat di troley.

__ADS_1


"Huufh, baiklah..." Firlan menghela nafasnya.


...----------------...


__ADS_2