Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Maksa


__ADS_3

Setelah melakukan beberapa interview dan juga mengajari anak-anak membuat bunga dari clay pun, Vira akhirnya bisa bernafas lega. Entah mengapa tubuhnya merasakan lelah yang teramat sangat, padahal biasanya dia selalu bersemangat.


"Astaga, kenapa malah jadi loyo begindang?" Vira menepuk-nepuk pundaknya.


"Mungkin benar kata si mamas mantan, aku kurang berolahraga. Oke, sambil nunggu delivery makanan datang, aku lebih baik senam tipis-tipis," ucap Vira yang kemudia menyalakan ponselnya dan mencari tutorial


aerobic.


"Wowwww! bajunyaaa seperti lontong, ketat sekaleeeh!" Vira mengomentari.


Vira menaruh ponselnya dengan keadaan landscape, lalu dia membesarkan volume. Dia taruh di diatas meja admin sambi di senderin vas bunga biar nggak jatuh.


"Play!" seru Vira menekan tombol play.


"Mowning epribadeeeh, oke ...hari yang cerah untuk memulai dengan aktivitas pagi dengan olahraga, okeehhhh ... sebelum kita mulai, mari kita gerakkan kaki seperti ini..." instruktur senam itu melakukan jalan ditempat sesuai dengan beat music.


"Ngomongnya harus lenjeh begitu, yak?" komen Vira sambil mengikuti gerakkan si instruktur.


Ac ruangan yang dingin membuat Vira sama sekali tak berkeringat, dia pun melakukan gerakan itu asal-asalan.


"Sekarang satu langkah ke kanan dan ke kiri, oke kita mulai, ya? and one, and two, and three ... ya, seperti itu, nice...! wwwoooh!" seru instruktur.


Dan tiba-tiba saja pintu ruangan dibuka.


Braaaakk!


Vira yang sedang melakukan gerakan tadi mendadak terperanjat kaget, ia menoleh ke arah pintu.


"F-Firlan? ng-ngapain k-kamu disitu?" Vira langsung berhenti dan meraih ponselnya dan mematikan video aerobic yang sedang ia putar.


"Seharusnya aku yang tanya. Kamu tuh kenapa uget-uget kayak cacing kepanasan?"


"A-aku..."


"Deliverry atas nama kakak Viraaaaaaa..." teriak kang deliverry di depan.


"I-iyaaaaaaa, sebentaaar!" jawab Vira kikuk.


"Udah, aku aja yang ambil!" ucap Firlan yang menyuruh Vira untuk diam di tempat.


Pria itu keluar untuk mengambil pesanan Vira. Tak lama Firlan pun datang dengan satu kantong keresek di tangannya.


"Nih, mau taruh dimana?" tanya Firlan.


"Ehm, sini..." ucap Vira yang mengambil kantong keresek putih.


Masih untung tadi dia sudah bayar dengan uang dalam aplikasi, jadi Vira tidak perlu merasa tidak enak karena Firlan membayarkan makanan untuknya.


Firlan yang mengerti jika Vira sedang menyembunyikan rasa malunya itu pun hanya bisa menutup pintu dengan tangan menutup mulutnya agar tak kelepasan tertawa.


Vira dengan cueknya membuka bungkusan ayam geprek sambal matah yang ada di dalam papper box. Ia juga mengeluarkan minuman es jeruk dan menaruhnya di atas meja kecil, lalu ia bergerak ke wastafel dan kembali duduk bersila di lantai menghadap makanannya.

__ADS_1


Firlan pun duduk berhadapan dengan Vira.


"Vira, bagi dong! kamu kok makan sendirian aja?" tanya Firlan.


"Duit situ banyak kan? tinggal pesen, gampang..." ucap Vira.


"Maunya kan makan makanan yang sama dengan yang kamu makan sekarang," kata Firlan sambil menaikkan satu alisnya dan menunjuk makanan yang sedang Vira makan.


"Tapi ini kan..." ucap Vira menggantung.


Firlan ke wastafel untuk mencuci tangannya, lalu ia kembali duduk. Tangannya yang sudah bersih itu lalu menyambar makanan yang ada diatas meja.


"Dih, main nyerobot aja, woy!" ucap Vira.


"Siapa suruh belinya cuma satu,"


"Lah kenapa jadi aku yang salah?" gumam Vira.


"Ih, pesen sendiri aja, sana!" Vira meneplak punggung tangan Firlan.


"Nggak mau, udah keburu laper!" Firlan menyuapkan aatu suapan di tangannya.


Akhirnya daripada ribut terus dan Vira tidak kebagian makan nasi dan ayamnya, wanita itu pun akhirnya mengalah. Mereka sekarang makan satu papper box berdua.


"Pedes, ya!" kata Firlan yang mulutnya sekarang menyambar minuman Vira. Tapi Vira tak menanggapi ucapan Firlan.


Setelah mengganggu acara makan Vira, Firlan pun mencuci tangannya dan kembali duduk di tempat semula.


"Ada perlu apa kesini?" tanya Vira uang kini duduk setelah membereskan bungkus makanannya.


"Buat nemuin kamu lah!"


"Iya tau. Tapi buat apa?"


"Buat ngajak kamu pergi," ucap Firlan.


"Aku sibuk,"


"Aku juga," sahut Firlan.


"Nggak jelas,"


"Sini biar aku perjelas..." Filan mendekat, tapi Vira malah menjauh.


"Ya udah sih, duduk aja disitu nggak perlu maju-maju juga,"


"Aku mau ngajak kamu pergi beli gaun," kata Firlan.


"Buat apa? aku nggak butuh..."


"Buat ke acara nikahannya Ricko..." jawab Firlan.

__ADS_1


"Kok kamu bisa..." kata Vira menggantung.


"Bisa lah, kan dia yang ngundang aku. Jadi aku mau ajak kamu buat jadi pendamping aku di pesta itu, aku nggak mau disana sendirian..."


"Kan bisa ngajak siapa, ah ... ngajak Alia, dia pasti mau tuh..." sindir Vira.


"Astaga, Alia lagi Alia lagi..." gumam Firlan.


"Stop bahas Alia bisa nggak? pokoknya aku mau kamu ikut sama aku ke butik," Firlan bangkit dan mengulurkan tangannya agar Vira mau ikut dengannya.


"Aku masih ada kelas," Vira ngeles.


"Masa?"


Firlan bergerak melihat papan jadwal yang terpasang di dinding.


"Cuma satu sesi, kan? aku tungguin..." ucap Firlan.


"Bisa nggak sih kamu tuh nggak maksa orang?"


"Nggak bisa," sahut Firlan.


"Pokoknya aku bakalan disini, nungguin kamu main-main sama anak-anak itu dan kita pergi beli gaun,"


"Terserahlah!" mau bagaimanapun Vira tidak akan bisa melawan Firlan yang seenaknya sendiri.


Dan sekarang, Firlan duduk tak jauh dari Vira yang sedang mengajarkan pada sekumpulan anak-anak untuk membuat sesuatu dari clay.


Firlan tertegun dengan cara Vira yang menikmati pekerjaannya, dia tertawa bersama anak-anak itu.


"Kamu keliatan seneng banget, Vira. Wajah kamu, senyum kamu, tawa kamu ... sangat berbeda saat kamu bersama mereka, makhluk yang sangat merepotkan ini!" kata Firlan.


Firlan tak habis pikir ada saja anak yang usil, mengganggu temannya.


"Flo, jangan usil, yaaa? hahaha..." ucap Vira sambil menggelitiki dan kemudian memeluk anak yang daritadi membuat kegaduhan di kelas siang ini.


"Waaaah, ini sudah mirip dengan corn dog!" seru Vira menunjukkan hasil karya salah satu muridnya.


Dan semua interaksi antara Vira dengan anak-anak itu pun tak luput dari perhatian Firlan.


Akhirnya kelas pun selesai, namum ketika berpamitan ada satu anak yang menunjuk Firlan yang duduk, "Kak? Om-Om yang disitu mau main clay juga?"


"Oh, ehm itu..."


"Dasar Om-Om kurang bahagia," celetuk gadis kecil bernama Flo.


"Haiiishhh anak itu!" Firlan yang mendengar celetukan anak yang rambut dikepang dua itu pun tak bisa menyembunyikan wajah kesalnya.


"Wleeeeeek! hahahahaha," anak kecil bernama Flo itu menjulurkan lidahnya pada Firlan sebelum pergi meninggalkan ruangan.


"Astagaaaa, menyebalkan!" gerutu Firlan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2