Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Painting


__ADS_3

"Vira, aku mau balik ke kantor. Titip Gia," kata Gusti pada Vira saat mereka sudah berada di depan restoran.


"Iya..." Vira mengangguk.


"Papih ke kantor lagi ya, Gia..." kata Gusti seraya mengecup kepala anaknya.


"Oke, Pih..." jawab Gia tersenyum.


Gia menggandeng Vira menuju mobilnya. Vira yang digandeng menurut saja. Lantas mereka langsung tancap gas ke tempat les milik Vira.


Sedangkan Gusti sangat senang, dia seperti merasakan satu keluarga yang utuh ketika Vira makan siang bersamanya. Apalagi melihat wajah Gia yang sangat bahagia, membuat Gusti pun ikut merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan anaknya.


Setelah beberapa saat, Vira dan Gia beserta pengasuh Gia pun sampai di tempat les milik Vira.


Mereka segera turun dari mobil. Vira segera membuka pintu dengab satu tangannya karena tangan satunya digenggam erat gadis manis yang kini mengepang rambutnya menjadi dua.


"Ayo, Sayang!" ucap Vira setelah pintu terbuka. Vira menyalakan pendingin ruangan. Dan seketika hawa sejuk memenuhi ruangan.


"Nah, Gia duduk dulu. Biar Tante menyiapkan alat paintingnya..."


"Oke, Tan..." sahut Gia.


Gia duduk di kursi kecil sedangkan Penny lesehan di bawah mendampingi Gia. Ia menyemprotkan suatu cairan di atas meja dan mengelapnya dengan tisu.


Vira kemudian datang membawa beberapa alat baru yang memang akan dimiliki setiap muridnya.


"Cotton buds?" Gia mengangkat satu pack cotton buds yang masih baru.


"Iya Sayang, dengan itu kita bisa membuat lukisan yang sangat indah..." kata Vira yang kemudian berdiri untuk mengambil acrilyc colour.


"Hari ini kita akan membuat lukisan dengan acrilyc painting tekniques. Dan Tante yakin kamu akan menyukainya..." kata Vira yang meletakkan kanvas berukuran kecil di meja Gia.


"Benarkah? aku nggak sabar untuk melakukannya..." kata Gia dengan wajah yang berbinar.


"Sekarang, kamu ingin melukis apa?"


"Menurut Tante apa yang menarik?" Gia balik bertanya.


"Bagaimana kalau padang rumput dengan hamparang bunga di langit malam? bagaimana? Gia suka?" tanya Vira.


"Boleh, mari lakukan ini bersama..." kata Gia.

__ADS_1


Vira kemudian mulai memberi tetesan acrilyc colour di atas kanvas. Dengan gradien warna biru tua dan gradien warna hijau.


Dengan sabar Vira mengajari Gia untuk menarik kuasnya untuk menghasilkan warna yang diinginkannya. Selanjutnya Vira memakai alat-alat yang membuat Gia mengerutkan keningngnya.


"Apa ini Tante? ini seperti rumput sintetis yang bentuknya seperti sapu, haha..." Gia tertawa merasakan geli di telapak tangannya yang sengaja disentuh Vira dengan menggunakan alat yang dibilang Gia mirip rumput tapi ada pegangannya.


"Ini kita gunakan untuk memberikan kesan tekstur rumputnya. Biar terlihat seperti nyata. Vira membimbing tangan Gia untuk menyapukan warna hijau dengan alat yang tadi sempat membuat Gia kegelian.


Kini beberapa cotton buds yang diikat dengan karet mereka celupkan pada warna pink dan mereka tempelkan pada warna hijau yang terlihat seperti padang rumput.


Gia sangat senang dengan teknik baru yang dia pelajari. Dan melukis terasa lebih menyenangkan.


"Cantiknya..." puji Gia saat melihat hasil lukisan padang rumput dengan dipenuhi bunga-bunga berwarna merah jambu dengan langit malam yang bertabur bintang.


"Selesai..." kata Vira yang melihat hasil karya mereka berdua.


"Apa aku boleh membawanya pulang? aku ingin menunjukannya pada Papih," kata Gia tersenyum puas pada Vira.


"Tentu, Sayang..."


"Oh, ya? kita cuci tangan dulu, ya?" kata Vira yang menggandeng tangan mungil Gia menuju wastafel yang dilengkapi tangga khusus dari kayu.


"Sepertinya kelas hari ini sudah selesai, Sayang..." kata Vira selanjutnya mengelap tangan Gia.


Di kantor, Firlan yang sedari siang belum makan pun kini merasa gelisah.


"Ah, pekerjaan ini nggak ada habisnya. Nasib ya kalau jadi asisten, Bos pergi liburan kita yang pusing ngurus kerjaan kantor...." keluh Firlan. Biasanya pria itu tak mengeluh dengan pekerjaannya namun melewatkan makan siang bersama Vira membuatnya sedikit gusar. Apalagi wanita itu baru saja sembuh dari sakitnya.


"Dia masih ada di tempat lesnya nggak, ya?" ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 4 sore.


Firlan pun akhirnya menghubungi ponsel Vira.


"Halo? Vira? kamu di kontrakan atau di tempat les?" tanya Firlan saat panggilannya terhubung.


"Lagi beli makanan," kata Vira.


"Makanan apa?" tanya Firlan.


"Ayam bakar,"


"Aku dong, Vir. Aku dari siang belum makan," kata Firlan memelas, ini kesempatan untuk makan bareng Vira.

__ADS_1


"Ih, ogah!" sahut Vira.


"Pokoknya beliin karena bentar lagi aku ke kontrakan kamu. Jangan salahin aku kalau ayam kamu yang aku makan nanti," kata Firlan yang langsung mematikan sambungan telepon. Pria itu terkekeh karena Vira pasti sangat kesal karena dia memutuskan panggilan itu secara sepihak.


Sementara di tempat lain.


"Bang, ayam bakarnya nambah dua lagi! tambah es jeruknya juga satu," kata Vira pada pemilik kedai makan.


"Daripada makananku dia embat! mending aku beliin aja! awas aja kalau nggak dateng," gerutu Vira.


Setelah beberapa saat Vira pun berhasil membawa beberapa potong ayam bakar dan nasi gurih yang dari tempat itu. Tak lupa dengan 3 cup es jeruk yang pastinya akan sangat menyegarkan tenggorokan.


Vira membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di kontrakannya. Wanita itu pun segera turun dari motornya dan membawa makanan yang baru saja ia beli. Vira membuka pintu dan segera menguncinya kembali.


Ia berjalan ke arah meja makan. Ia meletakkan semua barang di atas meja termasuk tas selempang kecil miliknya.


"Hmm, mandi dulu aja kali, ya?" Vira pun mengambil tasnya untuk dia bawa ke dalam kamar. Ia menyambar handuk kemudian melenggang menuju kamar mandi.


Sementara Firlan yang sudah menyelesaikan pekerjaannya segera keluar dari gedung mewah milih Ganendra Group. Ada beberapa panggilan dari Alia namun ia tak mengangkatnya.


"Kenapa akhir-akhir ini dia sering menghubungiku? bukannya dia lagi sakit?" gumam Firlan.


Akhirnya setelah panggilan yang kesekian kalinya, Firlan memutuskan untuk mengangkatnya.


"Ya, ada apa Alia?" sapaan khas keluar dari mulut Firlan.


"Hem, apa kau sedang sibuk?" tanya Alia dengan suara lirih.


"Ada apa?"


"Tidak, hanya ingin mengucapkan terima kasih," kata Alia.


"Untuk?" Firlan mengernyit heran.


"Membawaku ke rumah sakit, ternyata besok aku belum boleh pulang, karena masih ada iritasi di lambung," jelas Alia.


"Oh, begitu. Semoga kau cepat pulih," kata Firlan datar. Ia sedang memainkan stir mobilnya, menyalip beberapa kendaraan yang juga sedang melintasi jalan raya.


"Kamu..." ucapan Alia menggantung.


"Katakan yang jelas, Alia..." ucap Firlan sembari konsentrasi menyetir. Ia menggunakan ear pods di telinganya.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak ingin menjengukku?" pertanyaan Alia membuat Firlan terkejut


__ADS_2