
Dan kini mereka sudah sampai di sebuah hotel mewah tempat pesta resepsi dilaksanakan. Firlan meraih tangan Vira, dan menaruhbtangan itu di lengannya.
"Jangan jauh-jauh, aku nggak mau kamu digondol orang!" kata Firlan.
"Hadeeeeuh, lebay?" sahut Vira.
"Kita datang sebagai pasangan, aku cuma mau ngrjagain kamu dari mata-mata laki-laki yang jelalatan," kata Firlan.
"Iya iya deh, terserah kamu..." Vira malas untuk menangapi Firlan.
Vira takjub dengan resepsi megah keluarga Ganendra.
"Mewah banget..." lirih Vira.
"Sudah pasti itu, mereka mempersiapkan ini dengan sangat matang," kata Firlan.
Vira melihat Amartha sedang menggendong baby Evren.
"Aku mau kesana," ucap Vira sembari menunjuk ke arah Amartha.
"Bareng!" kata Firlan yang mengharuskan Vira selalu ada di sampingnya.
"Harus banget ini gandengan kayak gini?"
"Ya harus, biar semua orang tau kalau kamu udah punya pasangan..." kata Firlan.
"Astagfirllah, ribet banget idupnya ya, Pak!" celetuk Vira.
Vira tak bisa berkutik, dia tak bisa menjauh dari Firlan walaupun sejengkal
"Widiiiih, kayaknya ada yang balikan neh?" goda Amartha melihat tangan Vira yang melingkar di lengan Firlan.
"Ck, aku mau gendong Evren," Vira ngomong lirih sambil ngeliat tangannya. Firlan pun melronggarkan lengannya dan mengambil dompet dan kotak perhiasan dari tangan Vira.
"Evreeeen, ikut ontiiii yuk?" Vira mengambil Evren dari gendongan Amartha.
"Ada kemajuan ya, Lan?" kini giliran si bos yang menyindir.
"Banyak!" sahut Firlan.
"Sebaiknya kita menyapa pengantinnya dulu, Vira. Baru nanti kamu bisa main dengan Evren," kata Firlan.
"Oh ya udah deh..." Vira mengangguk.
"Ta, aku sama Firlan mau ke pelaminan dulu. Nanti aku kesini lagi," kata Vira pada Amartha seraya menyerahkan Evren.
"Aku duduk disana, nanti kamu nyusul ya?" Amartha menunjuk sebuah meja VIP.
"Oh yang disebelah sana, ya? oke oke," ucap Vira.
"Mari Tuan..." ujar Firlan sedikit membungkuk sebelum pergi menggandeng Vira menjauh dari Amartha dan Satya. Firlan kemudian menyerahkan dompet dan kotak perhiasan pada Vira.
__ADS_1
Dan tanpa sengaja, Vira bertemu dengan orangtuanya.
"Mama? papa?" pekik Vira yang tak sengaja bertemu dengan Raharjo dan Dewi.
"Kok Mama sama Papa ada disini?" tanya Vira tak percaya.
"Ricko menikah masa iya papa sama mama tidak datang? keterlaluan itu namanya," ucap Raharjo.
"Iya, maksudnya bukan kayak gitu..."
"Haha, Ricko sengaja meminta kami merahasiakan ini, katanya biar bikin kejutan buat kamu..." ucap Dewi.
"Aaaih, dasar kak Ricko! tau gitu kan semalam mama papa bisa nginap di kontrakan aku..." Vira cemberut.
"Om, Tante ... kapan datang?" Firlan menyalami Raharjo dan Dewi.
"Semalam, Nak ... lalu kapan kamu mau membawa orangtuamu ke rumah?" todong Raharjo.
"Ehm, saya sih tergantung Vira, Om ... kalau Vira siap besok saya boyong keluarga untuk melamar Vira," kata Firlan sambil melirik kekasihnya.
"Papaaa!" Vira menggeleng melihat Raharjo.
"Hahahahaha, tuh Firlan saja sudah siap lahir batin. Kamu itu sudah cukup dewasa, Nak! sudah waktunya kamu membina rumah tangga..." ujar Raharjo pada anaknya, sepertinya oerasaan Firlan sudah terwakilkan oleh calon mertuanya.
"Ih, Papa ini acara nikahannya kak Ricko kenapa malah bahas Vira, sih?" Vira cemberut.
Ricko yang melihat kedatangan Firlan dan Vira pun melambaikan tangannya.
"Saya kesana dulu, Om ... Tante..." ujar Firlan membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
"Tuh denger kata orangtua, Vir! papa mama mu saja sudah setuju dengan hubungan kita..." kata Firlan berbisik di telinga Vira.
"Iishhh, bisik-bisik geli tau!" Vira mengusap telinganya.
Sekarang Vira perlahan menaiki anak tangga menuju pelaminan dengan bergandengan tangan dengan Firlan.
"Selamat ya, Kak Ricko..." ucap Vira tersenyum.
"Aku kira kamu nggak datang, Vir!"
"Aku pasti datang, cuma tadi ketemu sama Amartha jadi ngobrol dulu bentar," kata Vira.
"Selamat, Bro!" kata Firlan pada Ricko.
"Hey, kapan kalian menikah? jangan terlalu lama pacaran, itu tidak baik..." kata Ricko.
"Secepatnya, kau tenang saja..." kata Firlan sementara Vira hanya menaikkan satu sudut bibirnya mendengar kedua lelaki itu bicara.
"Selamat ya, Prisha. Oh ya, ini hadiah dari aku dan Firlan. Bukan sesuatu yang mahal, tapi aku harap kamu menyukainya," kata Vira.
"Semua wanita menyukai perhiasan, Kak! terima kasih..." ucap Prisha yang bisa menebak isi dari hadiah yang diberikan Vira.
__ADS_1
"Selamat atas pernikahanmu, Nona..." kata Firlan sopan.
"Aiih pakai Nona Nona segala. Panggil saja Prisha, bosmu itu bang Satya bukan aku...hahhaha," kata Prisha.
"Iya kan, Sayang?" Prisha melirik Ricko.
"Iya, Sayang..." ucap Ricko.
"Baiklah, kita membuat antrian panjang seperti antrian sembako. Aku yakin mereka ingin mengucapkan selamat pada kalian, kami permisi Kak Ricko ... Prisha..." ucap Vira seraya mrnunjuk antrian orang yang akan membetikan selamat pada kedua pengantin.
Sebelum turun, Vira sempat menyalami Sandra dan juga Abiseka. Dan Firlan dengan hati-hati membantu Vira untuk menuruni anak tangga.
"Kita cari Amartha..." kata Vira.
"Ck, nggak usah sih, Ay. Kita cari meja sendiri aja," kata Firlan yang tidak mau satu meja dengan Satya. Rasanya sangat bosan setiap hari bertemu dengan orang itu dan di acara seperti ini juga harus bertemu bos sengklek itu lagi.
"Tapi aku mau ketemu Evreeen..." Vira kesusahan menyamai langkah Firlan.
"Lain kali ketemu lagi juga bisa, sekarang kamu jatahnya sama aku..." kata Firlan yang menarik Vira untuk duduk di meja yang masih kosong.
"Kita duduk disini.." kata Firlan yang menarik sebuah kursi untuk Vira duduki.
"Kamu pengen apa? biar aku ambilkan..." ucap Firlan.
"Apa aja yang penting dingin..." ucap Vira.
"Ya udah kamu tunggu disini, aku ambil minuman dulu. Awas, jangan ada yang boleh duduk disini, ditempatku ini..." kata Firlan.
"Iya iya ih, bawel!" jawab Vira.
Firlan pun bangkit dan mencari stand minuman atau ice cream. Vira pun melihat ke sekeliling, mengagumi dekorasi yang sangat megah dengan ribuan bunga hidup yang membuat suasana resepsi sangat romantis apalagi dengan alunan music yang sangat mendukung ini.
Dan Vira dikagetkan dengan seorang pria yang tiba-tiba saja duduk di kursi yang tadi sempat Firlan tempati.
"Hai..." ucap seorang pria tersenyum pada Vira.
Vira merasa de javu, dia merasa pernah mengalami situasi ini sebelumnya.
"Hai, kau sendirian, Nona?" tanya pria itu.
"Emmmh, sebenarnya..." sebelum Vira menjawab, Firlan sudah keburu datang dan berdiri di belakang Vira.
"Ah, maaf membuatmu lama menunggu Sayang?" kata Firlan.
"Kau ingin ice cream yang ini, kan? atau kau ingin yang lain? katakan saja, biar aku mengambilkannya..." kata Firlan seraya mengelus perut rata Vira.
"Maaf, dia istrimu?" tanya pria yang belum memperkenalkan dirinya pada Vira
"Ah, iya ... apa kau teman istriku?" tanya Firlan sesantai mungkin, sementara si pria sepertinya merah menahan malu karena telah menyangka kalau ia tengah mendekati istri orang.
...----------------...
__ADS_1