
Firlan hanya menahan tawanya saat mendengar Vira yang keceplosan. Sementara wajah Vira sudah merah menahan malu.
"Astaga, kebiasaan banget mulut suka mendadak blong remnya!" gumam Vira menabok bibirnya sendiri, sedangkan Firlan menutup mulutnya dengan punggung tangan, tertawa kecil melihat Vira yang malu bukan kepalang.
"Kamu udah selesai?" tanya Firlan ketika melihat makanan Vira sudah habis.
"Hem..." jawab Vira.
"Ya udah, kita lanjut nonton film ya?"
Setelah selesai makan, Firlan melambaikan tangannya pada pelayan.
"Minta bill-nya..."
"Baik, sebentar, Tuan..."
Dan setelah beberapa saat pelayan itu datang dan membawa bill untuk dibayar.
"Nih..." Vira menyerahkan dompet pada Firlan, namun pria itu mendadak seperti sibuk dengan ponselnya.
"Uangnya ada di dompet, tolong kamu ambilkan, Sayang!" kata Firlan menunjuk dompet yang dipegang Vira dengan dagunya.
"Ck, menyebalkan!" gerutu Vira.
Dan mau tak mau wanita itu mengambil beberapa lembaran uang dari dompet Firlan dan menyerahkan pada pelayan.
Sedangkan beberapa wanita yang duduk tak jauh dari meja mereka pun tak sanggup jika tak berkomentar.
"Wah, enaknya pegang dompet suami. Kalau aku jadi dia, aku kuras tuh dompet buat belanja..." ucap salah seorang wanita.
"Ya betul, andaikan suamiku seperti itu..." timpal wanita yang lain.
Vira hanya geleng-geleng kepala melihat reaksi wanita-wanita rumpi tadi, sementara Firlan tersenyum bangga.
"Ayo, Sayang!" Firlan membantu Vira untuk berdiri.
"Halunya kumat nih orang!" ucap Vira dalam hatinya.
Dan mereka berdua pun meninggalkan restoran dan menaiki escallator menuju bioskop di lantai teratas.
"Tangannya, ih!" Vira melepaskan tangan Firlan yang memeluknya dari samping.
"Diem! nanti kamu jatuh," Firlan memperingatkan agar Vira jangan banyak bergerak saat tangga masih berjalan.
"Siapa suruh nggak mau balikan," gumam Firlan dalam hatinya.
Firlan dan Vira melebarkan langkahnya saat mereka sampai di ujung escallator.
Firlan tak juga melepaskan pelukannya dari Vira, ia membawa wanita itu ke dalam gedung bioskop.
"Kamu mau nonton film apa, Sayang?" tanya Firlan saat berada di depan counter pemesanan tiket.
__ADS_1
"Film kartun!" celetuk Vira.
"Jangan bercanda, Vira!" bisik Firlan di telinga Vira.
"Hahahahaha, kamu itu lucu sekali, Sayang. Ehm, bagaimana kalau film yang itu? pas banget mulainya 5 menit lagi," Firlan menujuk sebuah papan yang menampilkan film yang diputar hari ini, sebuah film hollywood genre romansa.
"Ya ... terserah kamu ajalah," kata Vira yang melihat sekitar.
"Vaik, silakan pilih tempat duduknya..." ucap si pegawai bioskop
Firlan pun memilih kursi yang masih tersedia.
"Sayang, ambilkan uang dalam dompetku," kata Firlan menunjuk tas Vira.
"Astaga, dia ngerepotin banget sih! kenapa nggak dipegang sendiri aja dompetnya," getutu Vira dalam hati.
Vira membuka dompet Firlan dan mengambil beberapa lembar uang dari sana.
"Nih, pegang sendiri. Tanganku pegel..." kata Vira menyerahkan dompet pada Firlan.
"Maaf ya, Sayang. Kamu jadi capek..." Firlan mulai lebay. Ia mengambil dompet dari tangan Vira dan memasukkannya di kantong belakang.
Setelah mendapatkan tiket film, Firlan menarik Vira untuk membeli popcorn dan minuman.
"Aku mau minuman bersoda!" kata Vira.
"Jangan, kamu punya sakit lambung..." Firlan menggeleng.
"Yuk, bentar lagi filmnya dimulai..." Firlan menarik tangan Vira untuk segera masuk ke dalam ruang theater 1.
Dan ketika Firlan dan Vira masuk suara dentuman musik yang keras menyambut gendang telinga mereka. Film baru saja akan dimulai.
"Disana," Firlan menunjuk dua kursi sesuai dengan tiket milik mereka.
"Permisi..." Vira melewati beberapa orang untuk mencapai tempat duduknya.
Vira mendudukkan dirinya di kursi yang kosong. Ia menaruh paper cup jumbo di tempat khusus di kursinya begitu juga dengan Firlan.
"Popcorn..." Firlan menawarkan popcorn pada Vira. Wanita itu memasukkan tangannya mengambil popcorn rasa karamel dan memasukkannya ke dalam mulutnya tanpa melepaskan pandangannya dari layar besar itu.
"Suka filmnya?" bisik Firlan.
"Hemm," Vira berdehem, sambil mulutnya terus saja mengunyah.
Dan...
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di pipi kiri Vira, wanita itu langsung menoleh menangkap sang pelaku yang duduk di samping kirinya, siapa lagi kalau bukan Firlan. Namun Firlan malah bersikap seolah tidak terjadi sesuatu dan matanya melihat ke layar.
"Dasar menyebalkan!" lirih Vira, ia menyentuh pipinya. Dia mengibaskan wajahnya yang kini terasa hangat padahal suhu di ruangan itu dingin bukan main.
__ADS_1
Sedangkan Firlan tersenyum senang karena berhasil mencuri satu kecupan. Rasanya sudah sangat lama dia tidak melakukan itu.
"Pokoknya kita harus balikan, Vira!" gumam Firlan sambil melirik wajah Vira yang samar karena lampu bioskop yang dipadamkan.
"Kenapa?" Vira menangkup kedua pipinya, berjaga-jaga Firlan akan menciumnya lagi.
"Minum!" Firlan menyumpal mulut Vira dengan sedotan yang ada di minuman cokelat dingin.
"Iish, aku bisa sendiri..." bisik Vira. Dia tidak ingin dianggap berisik, karena Vira pun merasa terganggu kalau ada orang yang mengobrol selama film diputar.
Selama dua jam Vira menikmati film yang berakhir dengan happy ending itu. Dan sekarang lampu bioskop perlahan dinyalakan.
"Tunggu, biarkan mereka jalan duluan. Aku nggak suka berdesakan," Firlan mencegah Vira untuk berdiri dan tetap duduk di kursinya.
Vira hanya diam dan duduk di tempatnya sampai orang-orang sudah keluar dari ruang theater.
"Yuk," Firlan mengajak Vira untuk berdiri. Pria itu menggandeng wanitanya keluar dari ruangan dengan suhu yang bisa membuat kulit pucat seketika.
"Kamu pengen apa lagi? mau belanja?" tanya Firlan.
"Nggak, lagi berhemat..." kata Vira.
"Aku yang bayarinlah!"
"Nggak usah," kata Vira.
"Dih, ngambekan mulu sih, Vir! jelek tau..."
"Biarin, udah tau jelek kenapa juga masih mau deketin?" ucap Vira sinis.
"Ya gimana ya, aku juga nggak tau sih. Pengennya deket terus sama kamu yang galaknya kayak singa betina ini. Jangan-jangan kamu pakai ilmu pelet, ya?" tuduh Firlan.
"Heh, sembarangan! mana ada aku pakai begituan, nggak usah ngarang ya!" Vira mencubit lengan Firlan yang keras.
"Dih, main nyubit..." Firlan mengusap lengannya yang dicubit Vira.
"Mau waffle, nggak?" tanya Firlan.
"Mau!" ucap Vira yang begitu lancar mengucapkan kata itu, wanita itu melepaskan tangan Firlan dan mendekat pada stand penjual waffle.
Vira memesan waffle dengan topping matcha ice cream dan taburan kacang almond diatasnya.
"Silakan, Nona!"
Terima kasih..." Vira menerima waffle itu dan begitu saja pergi sedangkan Firlan buru-buru memberikan uang pada penjual waffle tadi dan mengejar wanita yang dengan santainya menggigit waffle yang masih hangat.
"Astaga, main ninggalin suami aja sih! dasar istri durhaka," Firlan merangkul bahu Vira tiba-tiba.
"Dasar kang halu!" celetuk Vira.
...----------------...
__ADS_1