Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Tidak Bisa Dibiarkan


__ADS_3

Hari ini sepertinya Firlan tidak akan mengajaknya keluar, jadi Vira putuskan untuk bersih-bersih rumah. Lagian dia sedang malas untuk pergi kemanapun.


"Cucian numpuk, setrikaan numpuk! banyak kerjaan rumah yang terbengkalai," Vira ngomong sendiri, sambil muter baju di mesin cuci.


Ya dengan penghasilannya sekarang, Vira bisa membeli mesin cuci untuk mempermudah dirinya dalam menjalani kehidupan yang kejam ini.


Kalau cucian piring sih tidak banyak, ya bagaimana mau banyak, Vira tidak masak di rumah dia lebih banyak beli makanan jadi.


Pintu gerbang belum sempat Vira buka, dia masih konsen berada di dalam rumah untuk beberes.


"Akibat jarang nginem, rumah udah gatau bentuknya!" ucap Vira sembari mengelap tivi yang kata Firlan sudah uzur.


"Kamu jangan rusak, ya? karena aku lagi pengiritan..." Vira berbicara pada benda berbentuk flat itu.


.


.


Sedangkan di tempat lain, Firlan sedang berolahraga di fitnes center.


"Sendirian aja, Lan!" ucap seseorang yang sangat dikenalnya.


Tapi sayangnya Firlan tak berniat untuk menjawabnya. Pria itu konsen lari di atas treadmill.


"Kamu masih sama," celetuk wanita itu.


"Carilah tempat lain, Andini..." ucap Firlan tanpa menengok ke arah wanita yang hampir membuat hubungannya berantakan dengan Vira.


"Tapiku ingin disini," kata Andini.


"Lagian, lebih menyenangkan jika olahraga ada teman kan?" lanjut wanita itu.


"Baiklah, aku yang pergi..." Firlan segera menghentikan joggingnya di atas treadmill dan pergi dengan botol minumnya.


"Kenapa dia bisa ke sini?" gerutu Firlan.


"Tunggu...!" Andini mengejar Firlan.


Wanita itu menarik tangan Firlan agar mau berhenti.


"Ada apa lagi?" ketus pria itu.


"Aku..."


"Aku apa?" Firlan melepaskan tangan Andini dari lengannya.


"Begini ya, Andini. Bagaimanapun kita sudah selesai, kita udah sepakat waktu itu. Aku harap kamu tidak mengganggu hubunganku dengan Vira!" lanjut Firlan tanpa basa-basi.


"Jadi namanya Vira?" Andini berniat ingin mengelap keringat yang ada di pelipis Firlan namun segera ditepis pria itu.


Firlan segera meninggalkan Andini, namun wanita itu lagi-lagi mengekorinya.


"Kamu mau mengikutiku ke tempat ganti pria?" ketus Firlan.


Andini yang melihat Firlan masuk ke ruang ganti pun memutuskan untuk bergeser ke ruang ganti perempuan. Secepat kilat ia mengganti bajunya. Dan segera kembali.


Entah memang kebetulan atau bagaimana, Andini yang melihat Firlan keluar dari fitnes center yang ada di apartemen tempat Firlan tinggal pun langsung kembali mengejarnya.


"Lan, tinggu, Lan!" teriak Andini.

__ADS_1


"Astaga, berhenti mengejarku dan kembalilah pada kekasihmu itu!" Firlan kesal dengan Andini.


"Lagi pula, kenapa sepagi ini bisa-bisanya kamu ada di apartemen ini? kamu benar-benar mengganggu!" lanjut Firlan.


"Ya karena aku mulai kemarin sudah pindah kemari, tepatnya di sebelah unit milikmu! Dan aku jamin kita akan sering bertemu," Andini tersenyum.


"Terserah!" Firlan pergi meninggalkan Andini. Ia berjalan menuju lift, sedangkan Andini hanya melihatnya dengan menarik satu sudut bibirnya.


"Aku juga akan menjamin kita akan kembali lagi, Lan!" gumam wanita itu.


Sedangkan Firlan yabg sangat kesal karena acara olahraganya terganggu pun membuka pintu unitnya dan menutupnya dengan kasar.


"Sialan! kenapa bisa wanita itu tinggal di sebelah unit ku! ini nggak bisa dibiarkan!" Firlan melempar tas yang ia bawa tadi ke tempat fitnes ke atas sofa.


Kini pria itu mondar-mandir seperti setrikaan sambil berkacak pinggang.


"Ini nggak bener, sih!" Firlan melenggang ke kamarnya dengan perasaan yang kesal.


.


.


.


Sedangkan di rumah Gusti. Gia sedang melihat televisi di ruang tengah. Ia memegang boneka kesayangannya.


"Hey, putri kecil..." sapa Gusti yang baru datang dari luar.


"Loh, Papi? Papi darimana?" tanya Gia yang bangkit dan memeluk sang papi.


"Papi tadi ada urusan sebentar, Gia sedang apa?" tanya Gusti.


"Nonton kartun!" jawab Gia.


"Gia sudah sarapan?" tanya Gusti yang memang pergi pagi-pagi.


"Sudah, tadi..." sahut Gia yang kini bermanja-manja dengan sang papi.


Dan tak lama datanglah seorang pelayan.


"Maaf, Tuan. Ada nona, Vanya..." ucap pelayan itu dan munculah sosok Vanya.


"Hai, Varo..." sapa Vanya yang berjalan mendekat dan duduk taknjauh dati Gia dan Gusti.


"Ada apa weekend datang kemari, Van?" tanya Gusti pada Vanya.


"Nggak apa-apa, cuma pengen ngajak kamu pergi..." ucap Vanya.


"Maksudku tentunya dengan Gia juga. Kamu mau kan, Sayang?" tanya Vanya pada Gia.


"Nggak mau!" sahut Gia.


"Aih, anak ini benar-benar menyebalkan!" batin Vanya.


Namun sebisa mungkin dia mengontrol raut wajahnya agar tetap ramah.


"Kita ke taman bermain atau ke mall, kita jalan-jalan Sayang. Kebetulan ini hari libur dan semua anak-anak menikmati hari liburnya dengan jalan-jalan," rayu Vanya.


"Awas saja kalau dia tidak mau," batin Vanya.

__ADS_1


"Bagaimana? mau, ya?" tanya Vanya pada Gia.


"Mungkin Gia sedang ingin di rumah, Van..." kata Gusti.


"Iya tapi kan..."


"Gia memang bukan anak yang weekend harus keluar, dia terbiasa di rumah menghabiskan waktu bersamaku," kata Gusti menolak aecara halus.


"Baiklah kalau begitu..." ucap Vanya seraya menghela nafasnya.


"Gia, Gia dengan Penny dulu ya. Papi ada urusan sebentar dengan tante Vanya..." ucap Gusti sembari menurunkan putri kecilnya dari pangkuannya.


"Ayo, Non..." Penny mengajak Gia ke taman. Gia pun menurut saja, namun sesekali ia menengok ke arah wanita yang memakai baju merah itu.


"Aku tidak menyukainya, Penny!" ucap Gia pada Penny.


Sementara, seorang pelayan membawakan minuman untuk tamu majikannya.


"Silakan, Nona..." ucap pelayan tersebut sebelum meninggalkan Gusti dan Vanya di ruangan itu.


"Ayo diminum, Van!" ucap Gusti, dan Vanya pun mengambil minuman itu dan meminumnya sedikit.


"Tumben kesini, ada yang bisa aku bantu?" tanya Gusti basa-basi.


"Bukannya tumben, aku sering ke kantormu, bahkan terakhir kali aku kesana kamu terlihat sangat buru-buru..." kata Vanya.


"Oh, itu karena Gia sakit. Aku panik jadi ingin langsung pulang," jawab Gusti.


"Lalu bagaimana? apa sangat parah?"


"Kau bisa lihat sendiri, dia sudah sehat. Bahkan sangat ceria..." jawab Gusti.


"Dia buka. sangat ceria tapi sangat menyebalkan!" batin Vanya.


"Oh, begitu ya. Syukurlah kalau dia sudah sehat. Seharusnya waktu itu kamu memberitahuku, jadi aku bisa membantumu menemani Gia..." kata Vanya.


"Aku terlalu panik," sahut Gusti.


"Kamu ada acara hari ini?" tanya Vanya, pasalnya Gusti sudah sangat rapi, dia tidak tahu kalau pria itu memang habis keluar.


"Oh, ya tentu! ada hal yang perlu aku urus, dunia bisnis tidak mengenal hari libur!" ucap Gusti, dia sebenarnya malas jika harus diminta untuk menemani Vanya keluar. Karena memang Gusti tidak menyukai wanita itu, dia hanya menganggapnya sebagai teman.


"Padahal aku ingin mengajakmu pergi, menikmati hari libur," ucap Vanya.


"Mungkin lain kali, Van!" ucap Gusti.


"Kamu selalu berucap lain kali, tapi tidak ada satu hari pun yang kamu penuhi," kata Vanya.


"Aku sibuk, Van!" ujar Gusti.


"Ya ya ya, kamu memang gila kerja, sampai-sampai hari libur pun kamu pakai untuk bekerja..."


"Itu resiko seorang pengusaha, Van!" jawab Gusti.


"Kamu masih mau disini atau?" tanya Gusti seraya melihat arloji di tangannya.


"Aku pulang saja..." ucap Vanya seraya bangkit dari duduknya, ia mendekat pada Gusti yang juga tengah berdiri.


"Aku pulang..." Vanya mencium pipi Gusti sekilas sebelum akhirnya pergi, sedangkan pria itu hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan wanita yang sering sekali nongol di kantornya tiba-tiba.

__ADS_1


"Untung saja..." Gusti mengusap dadanya sendiri. Kini dia milih untuk naik ke lantai dua dan pergi ke kamarnya.


...----------------...


__ADS_2