Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Apa Boleh Buat


__ADS_3

Firlan sekarang tiduran setelah selesai mandi. Harusnya dia masih menghabiskan waktu satu jam lagi untuk membentuk otot perutnya di tempat fitnes, tapi karena bertemu dengan wanita yang sangat tidak diinginkannya itu akhirnya Firlan terpaksa pergi dari tempat itu padahal dia baru melakukan kardio selama setengah jam.


"Ayamku lagi apa ya?" gumam Firlan.


"Aku video call aja lah, itung-itung buat balikin mood yang sempat ancur tadi. Si ayam pasti belum bangun nih," ucap Firlan sambil menahan tawanya.


Firlan mengambil ponselnya dan kembali rebahan. Dia menunggu panggilannya dijawab oleh si Ayam.


"Kenapa lama?" tanya Firlan saat wajah Vira sudah nongol di layar.


"Tadi lagi jemurin baju dulu, nggak liat nih aku kucel kek gini, lagi nginem tau!"


"Oh, lagi nyuci. Kenapa nggak laundry? tinggal taruh, terus diambil..." kata Firlan enteng.


"Laundry mulu bisa jebol dompet aku! daripada ketawa doang, sini bantuin..." kata Vira.


"Aku kesana! tapi nanti kalau kamu udah selese, hahaha!"


"Aiih, dasar calon suami nggak ada akhlak..." Vira mendengus kesal.


"Ku belikan saja makanan yang kamu mau. Atau setelah kamu selesai berea-beres aku antarkan kamu ke tempat spa, biar badanmu terasa lebih enak..." kata Firlan.


"Ngomong-ngomong soal makan, aku makan terus nambah gendut nggak sih?" Vira memperhatikan wajahnya sendiri di layar ponsel.


"Nggak ada, gendut dari mana. Ya sudah, kamu kasih tau aku kalau udah mau selesai, aku mau bikin kopi dulu!" kata Firlan.


"Kamu udah mandi?" tanya Vira.


"Astaga, kuta video call daritadi dan kamu baru nanya aku udah mandi atau belum. Kamu keterlaluan, Ay!"


"Loh, kok rambut kamu basah? kamu nggak..."


"Aku habis olahraga, lagian aku setiap mandi selalu basahi rambut..." ucap Firlan tidak terima jika dituduh yang macam-macam.


"Ya udah, aku mau lanjut jemurin lagi! bye!" Vira menutup telfonnya.


Firlan berdecak, "Ck! buru-buru banget matiin telfonnya!"


Firlan yang memandang langit kamarnya kini berjalan ke dapur. Dia ingin membuat satu cangkir kopi panas.


Namun, terdengar ada yabg memencet bel apartemennya.


"Siapa, sih?" Firlan yang baru saja menyeduh kopinya tak menghiraukan bel yang dipencet terus menerus. Setelah dia menambahkam creamer dan gula barulah dia berjalan ke depan pintu. Ia melihat dulu siapa yang datang melalui kamera pengawas.


"Halah, kirain siapa. Ternyata dia yang dateng!" Firlan yang tadinya akan membuka pintu kini mengurungkan niatnya dan memilih untuk bersantai di depan ruang tivi.


Dia tidak urus dengan suara bel yang terus saja di pencet wanita yang sempat bertemu dengannya di tempat fitnes tadi.


Kini Firlan malah ke dapur lagi untuk mengambil beberapa kue dan ia membawanya ke ruang tivi lagi.


Bel masih dipencet, namun Firlan seolah tak mendengar suara apapun.


"Sampai jarimu kapalan juga aku tidak akan membukakan pintu apartemen ini buat kamu, apalagi hatiku!" gumam Firlan seraya menyeruput kopinya.


Sedangkan di luar, Andini yang sudah berpakaian dan berdandan sangat cantik pun kesal karena tak juga dibukakan pintu oleh Firlan.


"Sial, kemana dia!" umpat Andini dari balik pintu.


"Aku nggak mau kamu sama wanita itu, Lan! kita harus bersama lagi, aku yakin kamu masih mencintaiku..." ucap Andini sebelum pergi dan masuk kembali ke dalam unitnya.


Sementara di tempat lain, Vira sudah selesai beberes rumah, dan sekarang tinggal setrikaan yang lumayan menggunung.

__ADS_1


"Nggak sanggup, dah! gini nih kalau dulu waktu sekolah suka sistem kejar kebut semalam, apa-apa dikerjain mendadak!" keluh Vira.


"Aku nggak kuaaaaaaat!" Vira rebahan di depan tivi dengan keranjang baju yang sudah kering dan diangkat dari jemuran.


"Astaga, pegelnya. Pinggangku kayak mau copot!" Vira merasakan pegal di pinggangnya, dia mengelus bagian yang terasa sakit.


Tak lama ponselnya berdering.


"Si ayang embe nih pasti..." Vira segera beranjak dan mengambil ponselnya.


"Aku kesitu, kamu siap-siap!" kata Firlan dan kemudian mematikan sambungan telepon secara sepihak.


"Astaga, belum juga dijawab udah dimatiin aja!" gerutu Vira.


"Buka gerbang dulu deh, dari pagi bel dibuka. Ntar dia ngomel-ngomel lagi..." Vira keluar dengan membawa kunci gembok.


Setelah selesai membuka pintu gerbang, dia segera masuk ke dalam untuk mandi.


Dan benar saja, tak lama seseorang menfetuk pintu tepat setelah Vira sudah mandi. Dia baru memakai baju santai dengan handuk yang masih menyampir di kedua pundaknya.


Vira membuka pintu dan nampaklah sosok pria gagah bernama Firlan Anggara.


"Kok belum siap?" tanya Firlan seraya menerobos masuk, ia nampak membawa sesuatu dan meletakkannya di atas meja.


"Ya kan aku mandi dulu, gimana sih? nggak usah ngomel, deh! duduk dan tunggu disitu!" Vira menunjuk kursi untuk Firlan duduki.


"Tadi pagi kamu sarapan apa?" tanya Firlan.


"Sarapan angin!" seru Vira dari dalam kamar.


"Sarapan angin? jawaban macam apa itu!" gumam Firlan kesal.


Dan kurang dari 10 menit, Vira keluar dengan pakaian dan dandanan yabg sederhana namun manis.


"Aku emang belum makan dari pagi, kerjaan banyak lupa buat ngisi perut!" kata Vira.


"Emang nggak ada apa-apa di dalam kulkas?" tanya Firlan.


"Ludes, cuma ada air putih!" kata Vira.


"Ya udah, kita belanja aja sekalian..." kata Firlan.


"Nih, dimakan dulu. Lumayan kan bisa ngeganjel perut!" ucap Firlan seraya memberikan satu burger dan minuman ringan.


"Makan di mobil aja, deh! terus ke spa-nya kapan?" tanya Vira seraya mengambil burger dan minuman.


"Habis belanja aja, jadi kan tenang..." kata Firlan.


"Ya udah, sekarang aja..." kata Vira.


Tahu begini, hari ini Vira tidak akan beres-beres. Karena semua badannya terasa sangat pegal. Harusnya hari ini belanja keperluan rumah dan makan, besok baru beres-beres.


Vira mengunci pintu rumahnya terlebih dahulu sebelum melesat pergi menaiki mobil Firlan.


"Pakai dulu sabuk pengamannya," Firlan mengingatkan, pria itu memasangkan seatbelt pada Vira.


Kini pria itu menekan pedal gas dan perlahan mobil itu meninggalkan rumah yang sudah lebih dari satu tahun disewa Vira.


"Mau, Ay?" tanya Vira pada kekasihnya.


"Kamu aja, kamu kan yang kelaparan! aku nggak tega buat minta..." ucap Firlan.

__ADS_1


"Aih, ya sudah. Awas aja kalau minta..." Vira memakan burger itu dengan lahap.


"Kita makan dulu atau belanja dulu?" tanya Firlan.


"Makan dulu lah! perutku udah meronta-ronta tau! nggak denger apa udah pada demo di dalem?" Vira mengelus perutnya yang rata.


"Ya udah, kita makan dulu. Biar cacing-cacing di dalam perut kamu itu bisa terpuaskan ya..." kata Firlan.


Vira sesekali meneguk minumannya. Mu gkin karena sudah sangat lapar, dia menghabiskan satu burger melebihi kecepatan cahaya.


Firlan hanya menggelengkan kepalanya, melihat wanita itu sedang meneguk minumannya sampai habis.


"Alhamdulillah," ucap Vira saat selesai menikmati makanannya.


Dan sekarang Firlan menambah kecepatannya agar bisa segera sampai di pusat perbelanjaan yang mereka tuju.


"Nggak usah ngebut juga kali, Ay! kamu nggak lagi bawa orang yang mau lahiran!" Vira memperingati kekasihnya.


"Nanti kalau kelamaan kamu keburu pingsan di mobil karena kelaparan. Nggak nggak lucu kalau nanti aku bawa kamu ke IGD dengan kasus malnutrisi," seloroh Firlan.


"Sembarangan aja nih kalau ngomong!" Vira mencubit bibir Firlan.


"Astaga, capitan kamu itu, sakit Vira!" keluh Firlan.


Dan tak lama mereka pun sampai di tempat perbelanjaan di tengah pusat kota.


"Bisa sendiri kan?" tanya Fitlan melihat Vira membuka seatbelt-nya sendiri.


"Bisa lah, apa sih yang aku nggak bisa?"


Firlan hanya tersenyum dan keluar dari mobilnya. Ia membukakan pintu untuk sang kekasih yang mulutnya sedikit manyun.


"Jangan manyun-manyun, jelek tau!" sindir Firlan.


"Udah lapeerrr banget tau, Aaaaaay!"


"Iya kan ini kita mau makan," Firlan mencubit pipi Vira danengajaknya masuk mencari restoran yang tidak terlalu ramai.


"Chiness food lagi? atau mau pizza?" tanya Firlan.


"Aku lagi pengen makan nasi intinya," jawab Vira.


"Ya udah chiness food aja ya," kata Firlan yang kemudian diangguki oleh Vira.


Mereka pun masuk ke dalam restoran itu, namun lagi-lagi disana mereka bertemu dengan seseorang.


"Alia?" batin Firlan.


"Astaga, bisa tidak aku tidak bertemu dengan wanita-wanita itu!" Firlan bicara dalam hatinya.


"Ay, apa kita nggak ke restoran yang lain saja? restoran jepang misalnya," tanya Firlan.


"Aku udah laper, udah kesini aja. Tuh ada tempat yang kosong!" Vira menarik Firlan masuk.


Dan meja yang kosong itu ternyata disamping wanita yang sedang Firlan hindari.


"Apa boleh buat! terserahlah!" lirih Firlan.


Vira langsung duduk dan disambut pelayan, namun Alia belum menyadari kalau pasangan kekasih yang duduk di meja di sampingnya adalah Firlan, orang yang beberapa waktu terakhir mengisi hatinya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2