
Setelah seleaia makan, keduanpasangan yang kini mulai romantis itu meninggalkan restoran, tentu setelah membayar semua makanannya.
"Beli baju, ya? baju kamu basah, kan?" Firlan menarik Vira ke sebuah toko baju.
"Basah dikit aja, Ay! pemborosan..." kata Vira bisik-bisik.
"Silakan, Tuan, Nona..." sapa pelayan di toko itu.
"Ay, nggak usah deh. Beneran..." kata Vira menghentikan langkahnya.
"Nanti masuk angin! udah pilih aja mana yang kamu suka, aku tunggu disini," Firlan duduk di kursi yang disediakan.
"Mari, Nona. Di sebelah sini koleksi terbaru kami," ucap pelayan seraya berjalan di depan Vira, menunjukkan deretan baju-baju dengan warna yang soft.
"Ay..." seru Vira ke arah Firlan.
"Mbak, tolong pilihkan mana yang bagus!" kata Firlan pada pelayan toko.
"Baik, Tuan!" jawab pelayan tadi.
Wanita itu langsung memilihkan sebuah dress dengan bahan yang jatuh, dan lembut berwarna soft pink.
"Yang ini, Nona suka?" tanya pelayan.
"Ah, nggak. Hem, bagian bahunya terbuka, aku nggak suka..." kata Vira.
"Catikan saja baju yang casual yang bisa untuk pergi ngemall!" ucap Vira tanpa basa-basi.
"Hemm, mungkin yang ini cocok untuk anda, Nona..." ucap pelayan itu smbati menyerahkan jumsuit dengan kaos polos berwarna putih.
"Ya udah aku coba ini aja," kata Vira.
"Kamar gantinya dimana?" lanjut Vira.
"Disebelah sana, Nona..." pelayan itu mengantarkan Vira ke tempat fitting sementara Firlan duduk anteng di kursi.
Tak la Vira keluar dengan memakai jumpsuit yang sangat pas di badannya.
"Bagus, nggak?" tanya Vira pada kekasihnya.
"Bagus. Mau yang ini?"
"Iya yang ini," jawab Vira.
Dan ketika Vira mau berbalik,Firlan pun mencegahnya.
"Mau kemana?"
"Ganti..." jawab Vira.
"Ngapain ganti? kan baju yang tadi basah..."
"Oh iya, ya?" Vira nyengir kuda.
"Saya ambil baju yang ini," kata Firlan pada seorang pelayan, ia menyerahkan sebuah kartu.
"Aku ambil bajuku dulu yang ada di ruang ganti," ucap Vira sambil melepas tangan Firlan.
"Ya udah, aku tunggu disini..."
Setelah membayar baju yang dipakai Vira mereka pun melanjutkan berbelanja di supermarket, seperti biasa Firlan yang mendorong trolley, memasulkan banyak sekali bahan mentah ke dalam trolley itu. Dan terjadilah ribut-ribut kecil karena Vira terlalu banyak memasukkan makanan instant ke dalam belanjaannya.
"Nggak sehat, tau! banyak micinnya," kata Firlan.
"Hidup tanpa micin itu nggak enak!" kata Vira.
"Boleh, tapi jangan sebanyak ini juga..." kata Firlan.
"Aku males kalau bolak-balik kan jadi sekalian gitu," kata Vira tak mau kalah.
"Ya mending beli makan makanan jadi aja, atau nih bikin salad kan bisa. Pakai sayuran fresh kayak gini nih," Firlan menunjukkan selada dan banyak sayuran lainnya.
"Iya tapi masa tiap hari makan salad, boleh ya. Ini aku pengen mie korea yang pedes ini terus nanti ditambah kimchi," kata Vira dengan tatapan merayu.
__ADS_1
"Korban mukbang nih," tuduh Firlan.
"Hehehe, ya gitu lah. Boleh lah ya, aku pengen banget ini..." ucap Vira memohon.
"Iya, tapi nggak banyak-banyak. Terus kurangi makanan kalengan,"
"Aku nggak bisa masak," kata Vira.
"Aku nggak nyuruh kamu masak, aku nyuruhnya kamu makan makanan sehat," ucap Firlan sembari mengambil beberapa mie korea yang Vira inginkan.
"Iya deh..." ucap Vira pasrah.
Setelah selesai berbelanja, Firlan mengajak Vira untuk pergi ke tempat spa. Rencananya besok dia akan mengajak Vira untuk ke rumahnya, tapi untuk sekarang dia belum mengatakannya pada kekasihnya itu.
"Kamu mau sekalian?" tanya Vira.
"Sekalian apa?"
"Sekalian di masage," ucap Vira.
"Nggak, kamu aja..." kata Firlan.
"Terus, kamu nungguin gitu, Ay? lama loh..." ucap Vira.
"Ya jangan lama-lama kalau gitu,"
"Ya nggak bisa lah!" Vira ngegas.
"Ya udah sih, kamu masuk aja. Aku nanti ke cafe bentar, mau ketemu si bos..." ucap Firlan.
"Bukan ketemu sama..."
"Sama siapa? nggak usah aneh-aneh, deh!" Firlan kesal.
"Tadi aku sempat di chat sama tuan Satya, fia ngajak ketemu di cafe nggak jauh dari tempat spa kamu nanti, ada hal penting yang harus dibicarain..." kata Firlan.
"Oh," Vira membulatkan mulutnya.
Kini mereka sudah sampai di tempat Vira akan memanjakan tubuhnya yang lelah karena habis sehabis nginem.
"Iya, bawel!" kata Vira seraya melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil kekasihnya.
Setelah memastikan Vira masuk ke dalam gedung yang digemari para kaum hawa itu, Firlan pun melajukan mobilnya ke tempat yang ia tuju.
Ponselnya berdering.
"Ya, halo..." sapa Firlan
"Kamu sudah sampai?" tanya bos.
"5 menit lagi sampai," jawab Firlan.
"Baguslah, tunggu saja disitu. Jangan pergi sebelum saya datang," perintah Satya.
Bos laknat pun mengakhiri pembicaraannya di telepon secara sepihak.
.
.
.
Setelah sampai di tempat tujuannya Firlan segera keluar dari mobil. Ia berjalanasuk ke dalam cafe.
"Nadib asisten begini amat ya, ngurusin urusan bos mulai dari urusan kerjaan sampai urusan pribadi, haiiishhh ... kapan gitu sehari aja aku bisa tenang tanpa di ruwetin kerjaan?" Firlan berjalan sambil ngedumel
Ia duduk menghampiri sebuah meja, ia sengaja mengambil spot yang tidak terlalu tetlihat namun bisa mengamati area sekitar.
"Silakan, mau pesan sekarang atau..." tanya seorang pelayan laki-laki.
"Hot cappucino satu," kata Firlan tanpa melihat menu.
"Apa ada lagi, Tuan?" tanya pelayan itu lagi sambil mencatat.
__ADS_1
"Itu saja dulu, karena saya sedang menunggu seseorang..." jawab Firlan
"Baik, pesanan anda akan segera diantar..." kata pelayan yang kemudian meninggalkan Firlan sendirian.
"Astaga, punya bos kok ya konyol banget! ngapain aku disuruh kesini. Dia kan bisa melakukannya sendiri..." batin Firlan dongkol.
Tak lama pesanannya pun datang, secangkir cappucino panas dengan free donut rasa original.
Ketika Firlan sesang menyeruput minumannya, ia melihat Kenan masuk ke dalam cafe itu.
"Nah, tuh rivalnya dah dateng, si bos kok belum nongol-ngongol?" gumam Firlan sambil celingukan.
Firlan berinisiatif menelepon Satya, namun panggilannya di reject bosnya itu.
"Kenapa main reject-reject begitu coba? nggak ngerti aku!" gerutu Firlan.
"Nih target keburu bete terus kabur masalahnya!" Firlan kesal karena dia kesulitan menghubungi Satya.
Mata elang Fitlan tetap mengawasi gerak-gerik Kenan. Ptia itu hanya bisa menghembuskan nafasnya mencoba sabar, menunggu si bos datang.
"Sampai kapan aku harus ngawasin tuh orang?" Firlan menyeruput cappucinonya lagi.
Dan ketika ia melihat ke arah pintu ia melihat sosok Satya dengan tampilan yang berbeda, pakaiannya casual jauh dari kata formal. Baru beberapa melangkahkan kakinya masuk ke dalam cafe, Satya sudah bisa menemukan keberadaan asistennya yang sedang enak-enaknya mojok sambil menikmati kopi.
Firlan mulai menikmati seruputan terakhirnya sebelum perlahan mendekat pada Satya yang berjalan dari arah belakang Kenan. Satya menepuk pundak pria itu, sontak saja Kenan menoleh ia menyangka yang datang itu Amartha, mantan istrinya.
"Amartha?" ucap Kenan ketika bahunya ditepuk dari belakang.
Namun ketika si pemilik tangan muncul di hadapannya, senyum merekahnya langsung hilang.
"Satya?" pekik Kenan.
"Sudah lama kita tidak bertemu, ya!" ralat Satya.
"Aiiish, kenapa kau yang kemari?" tanya Kenan.
"Aku mewakili istriku buat ketemu sama mantan suaminya, kenapa?" Satya menarik kursi di depan Kenan demgan menatap rivalnya itu dengan tajam.
Firlan yang melihat itu hanya bisa menepuk jidatnya. Dia segera membayar bill minumannya dan segera mendekat ke arah dua pria yang sedang bersitegang itu.
"Mereka sama saja!" gumam Firlan sambil terus berjalan ke arah bosnya.
"Ada apa?" tanya Kenan yang tak mau basa-basi lagi.
"Heh, harusnya aku yang bertanya seperti itu!" kata Satya. Kenan menaikkan satu sudut bibirnya.
"Tidakkah kalian ingin memesan minuman terlebih dahulu?" tanya Firlan yang kini berdiri di samping antara Satya dan Kenan yang sedang duduk.
"Diam!" Kenan dan Satya kompak menyuruh Firlan untuk tidak bicara.
"Oke oke! santai, rileks!" Firlan mundur dan menarik kursi di belakang meja bosnya.
Satya kembali menatap Kenan. Pria itu terlihat menghembuskan nafasnya sebelum bicara.
"Bukannya kamu sudah menetap di Amerika? lalu kenapa kau kembali kemari?" tanya Satya.
"Siapa bilang aku menetap disana? rumahku tetap disini, Indonesia..." jawab Kenan.
"Oh ya, Amartha suka dengan bunga kirimanku? ah, pasti dia sangat senang, ya?" tanya Kenan.
"Heh, untuk apa kau kirimi Amartha bunga sebanyak itu? kau membuat rumah kami sesak dengan bunga, tau tidak?"
"Sebenarnya bunga itu bukan untuk Amartha tapi untuk putrimu, tapi berhubung aku belum tau siapa namanya, jadi aku kirimkan atas nama ibunya..." kata Kenan, namun sepertinya Satya tak mempercayai begitu saja apa hang dikatakan Kenan.
"Kenapa kau ingin sekali bertemu dengan istriku? jangan pikir aku akan membiarkannya menemuimu," kata Satya.
"Kau ini ternyata pecemburu sekali! apa salahnya menjalin silaturahmi dengan mantan istri? kau ini terlalu berlebihan, Sat!" kata Kenan.
"Apa kau bilang?" Satya tak terima jika dibilang berlebihan. Karena dia merasa dia melakukan hal yang benar, tidak akan mengijinkan siapapun masuk ke dalam rumah tangganya yang sudah sangat bahagia ini.
Firlan yang mendengar percakapan keduanya hanya bisa geleng-geleng kepala, dia harus membuang waktunya hanya untuk mendengarkan dua orang yang sama-sama tidak mau kalah.
"Hadeuh, kapan kelarnya kalau begini?" batkn Firlan.
__ADS_1
...----------------...