
Tak lama Vira keluar dengan tampilan yang terlihat lebih segar.
"Nah, ini orangnya yang ditunggu udah nongol!" ucap Amartha.
"Mau pergi sekarang?" tanya Vira.
"Buru-buru amat? nggak minum dulu?" tanya Amartha.
"Nggak usah, Ta. Udah sore banget, takut terlalu malem nyampe sana. Apalagi jalanan kan lagi macet banget kalau jam-jam pilang kantot kayak gini," kata Vira.
"Ya udah kalau gitu, kamu hati-hati ya..." ucap Amartha, dia memeluk sahabatnya.
"Kami permisi, Nyonya..." kata Firlan, dia berdiri.
Firlan mengajak Vira keluar dari rumah megah itu. Dia membukakan pintu mobil dan segera membawa Vira menuju ke rumah ibunya.
Diperjalanan.
"Kamu laper, nggak?" tanya Firlan.
"Lumayan,"
"Beli burger dulu deh, ya. Aku juga agak ngerasa laper juga..." kata Firlan.
"Ay, tumben-tumbenan kita disuruh kesana
Emang ada apa?" tanya Vira.
"Sebenernya, Ibubcuma nyuruh aku yang kesana. Cuma aku males kalau sendirian, jadi aku ajak kamu aja. Lagi pula kalian harus sering bertemu, supaya lebih akrab..." jelas Firlan.
"Ya ampuuuun! aku kira emang nyuruh kesana sama aku juga, ternyata cuma akal-akalan kamu aja. Harusnya kamu ke rumah ibu sendirian aja, Ay ... barangkali ada hal penting yang emang ibu kamu mau omongin," kata Vira.
"Paling juga masalah pernikahan kita, Ay. Jadi sekalian lah, kalau ada kamu kan pembicaraannya malah lebih enak..." kata Firlan sembarii tetap fokus menyetir.
Mereka sempat berhenti di salah satu brand makanan cepat saji untuk membeli minuman dan juga burger. Dan sekarang, Vira sedang melahap makanan yang ia beli tadi di dalam mobil.
"Tuh macetnya kayak gini! untung kita udah beli makanan, seenggaknya kita nggak kelaparan di mobil," kata Firlan.
Vira menyodorkan burger pada Firlan, pria itu melahap makanan yang diberikan padanya.
"Macetnya sampai kapan ini?" Vira menghela nafasnya.
"Ya sampai selesai macetnya!" kata Firlan ngasal.
"Bukan jawaban yang diharapkan!" celetuk Vira.
Firlan hanya terkekeh, dia mengambil minuman lalu meneguknya.
"Biasa kalau arah ke rumah ibu ya kalau jam segini siap-siap macet di jalan! makanya aku bawa kamu, males kayak gini sendirian..." ucap Firlan.
"Aiiih, menyebalkan! harusnya kan aku udah rebahan di kamar sambil merem. Lah ini liatin mobil-mobil pada baris, jalan dikit-dikit udah kayak bebek lagi antri..."
"Hahahahahah, minum-minum! makan sambil ngomong nanti kamu keselek tau, Ay!" Firlan menyodorkan minuman pada kekasihnya itu.
Entahlah sepanjang perjalanan, sepertinya ada hal yang mengganjal di hati Vira. Hatknya seperti tidak tenang, namun ia berusaha dengan keras untuk menepis perasaan-perasaaan tersebut.
"Kok diem?" tanya Firlan.
"Terus harusnya gimana? teriak?" tanya Vira.
Mereka sudah menghabiskan dua burger, dan kini Vira hanya melihat lurus ke jalanan. Pikirannya melayang entah kemana.
"Lagi mikirin apa, sih? aku lihat kamu kebanyakan bengong daritadi," tanya Firlan.
"Nggak ada. Eh, itu cepet jalan!" kata Vira, ia sumringah saat mobil yang di depannya jalan dengan sedikit lebih cepat.
__ADS_1
"Oh, pantesan macetnya parah banget! ternyata ada mobil yang nabrak pembatas jalan, Ay!" ucap Vira sambil menengok ke jendela ketika mereka sudah melewatinya.
"Walaupun nggak ada kejadian kayak gitu juga daerah sini itu langganan macet!" sahut Firlan.
Firlan lalu menekan pedal gasnya lebih dalam, Vira menepuk pelan lengan pria itu.
"Jangan ngebut-ngebut," kata Vira.
"Maaf, kebiasaan, Ay! soalnya kalau sama tuan Satya kan dia maunya cepat-cepat," kata Firlan yang mengurangi sedikit demi sedikit kecepatannya.
"Ini kalau ibu hamil yang naik, bisa langsung brojol di mobil, Ay! kalau nyetirnya modelan kayak tadi!" celetuk Vira.
"Iya iya, maaf..."
Dan mereka pun akhirnya sampai di rumah Ratna. Hati Vira deg-degan, saat turun dari mobil dan melihat bangunan rumah calon ibu mertuanya.
"Jangan tegang kayak gitu, kamu kan udah pernah kesini ... dan sudah beberapa kali bertemu dengan Ibu," kata Firlan.
"Tetepa aja, Ay! tatapan ibu kamu itu bikin aku deg-degan..." kata Vira.
"Kan ada aku..." Firlan menggandeng tangan Vira untuk masuk ke dalam rumah. Dan saat pria itu membuka pintu utama, Ratna sudah menunggu di ruang tamu. Wajah wanita itu tak seperti biasanya, ada raut ketegangan yang terukir disana.
"Assalamualaikum..." Firlan memberi salam. Ratna bangkit dari duduknya.
Firlan menggandeng Vira mendekat pada ibunya. Namun baru berjalan beberapa langkah, tangan Ratna melayang dan memberikan dua tamparan berturut-turut pada Firlan.
PLAKKK!
PLAAAKK!
"Akkhhh!" Vira memekik spontan. Ia tak menyangka kalau kekasihnya itu akan ditampar oleh ibunya sendiri.
"Kamu nggak apa-apa, Ay?" tanya Vira khawatir, wanita itu memegang pipi kekasihnya yang terlihat merah.
"Ada apa ini, Bu? kenapa Ibu menamparku?"
"Kau masih tanya kenapa? astaga, Firlan! apa yang kamu lakukan membuat Ibu malu!" Ratna tak bisa menyembunyikan amarahnya.
"Apa yang sudah aku lakukan, Bu? aku tidak melakukan apa-apa!" Firlan merasa bingung dengan sikap ibunya saat ini. Vira yang melihatnya tak bisa banyak bicara, dia hanya memegang tangan Firlan dengan kuat.
"Kau bilang tidak melakukan apa-apa? menjalin hubungan dengan dua wanita sekaligus kau bilang tidak melakukan apa-apa?"
"Dua wanita? wanita yang mana, Bu? kekasihku hanya, Vira. Calon menantu Ibu..." jelas Firlan.
"Andini, keluarlah, Nak!" ucap Ratna.
Mendengar nama Andini, Firlan sangat terkejut. Kenapa Andini bisa sampai ke rumahnya, hubungan mereka sudah selesai sudah lama. Apalagi yang dilakukan wanita ini.
Andini keluar dengan mata yang sembab. Firlan semakin tak mengerti.
"Kalian duduk!" suruh Ratna pada Firlan dan juga Vira.
"Kau juga duduk, Andini..."
Dan disinilah mereka, duduk saling berhadapan. Vira tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi, namun Firlan memiliki Firasat lain. Firlan yakin ada sandiwara yang dilakoni Andini.
"Ibu minta kau sebagai lelaki harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu lakukan!" kata Ratna dengan tegas.
"Aku tidak melakukan apa-apa!"
"Dia sedang mengandung anakmu! dan kau bilang tidak melakukan apa-apa?" seru Ratna.
Jederrr!
"Aku sudah lama putus dari wanita ini, bahkan sebelum aku menjalin hubungan dengan Vira. Lalu bagaimana bisa dia mengandung anakku, Bu? lelucon apa ini!" Firlan naik darah.
__ADS_1
'Astaga, bukankah kita putus karena kau sudah mengandung anak orang lain. Atau jangan-hangan itu cara licikmu untuk memikat pria, dengan semua fitnah yang kau buat, Andini?" batin Firlan mengingat masa lalu bagaimana dia dan Andini bisa putus.
"Dan kau, Andini! aku tidak pernah menyentuhmu, dan kalau pun kau mengandung! aku pastikan itu bukan darah dagingku!"
Vira merasakan genggaman tangan Firlan begitu kuat. Mata pria itu menyorot tajam pada mantan kekasihnya yang sedang menunduk, menangis.
"Diam Firlan!" Ratna membentak anaknya.
"Katakan kalau kau sudah berbohong, Andini..." ucap Vira. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
"A-aku tidak berbohong ... tidak, aku tidak berbohong!" Andini menangis, Ratna memeluk wanita yang terlihat begitu ringkih itu. Vira hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Aku tidak punya hubungan dengan dia, Vira! sama sekali tidak. Aku nggak pernah melakukan tindakan haram itu!" ucap Firlan mencoba meyakinkan kekasihnya.
Vira melepaskan tangannya dari Firlan dan menatap Andini dan Ratna secara bergantian.
"Mungkin Ibu tidak menyukaiku, mungkin aku bukan calon menantu yang Ibu harapkan. Tapi satu hal yang aku yakini, kalau Firlan tidak akan melakukan hal seperti itu..." ucap Vira.
"Lagipula, kami perlu bukti kalau memang benar anak yang dikandung wanita ini memang anak dari calon suamiku, bukan hanya sekedar omong kosong seperti ini!" lanjut Vira dengan nada yang tenang. Firlan meraih tangan Vira, namun wanita itu tak membalas genggamannya.
"Apa yang kamu maksud, Vira! aku berani bersumpah..." Andini belum sempat meneruskan ucapannya, Vira segera membalasnya.
"Aku tidak butuh sumpahmu, aku butuh bukti. Aku akan melepaskan Firlan jika memang dia ayah dari anak yang kau kandung!"
"Kita akan lakukan tes DNA!" ucap Firlan.
"Jadi kau bersiap-siaplah Andini!" lanjut Firlan.
"Tidak, Bu ... kita tidak perlu melakukan tes semacam itu, itu akan membutuhkan waktu yang lama. Sedangkan perutku nanti akan terus membesar,"
"Baiklah, aku kira tidak ada hal lagi yang perlu kita bicarakan. Aku pamit, Bu!" Firlan membawa Vira keluar dari ruangan itu.
Sedangkan Andini masih terus saja menangis.
"Turuti saja kemauan mereka," ucap Ratna seraya pergi meninggalkan Andini sendirian di ruangan itu.
Sementara di dalam mobil Vira sama sekali tidak bicara. Firlan yang melihat tak ada ekpresi apapun dari wajah calon istrinya itu malah menjadi khawatir. Dia menepikan mobilnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Vira datar.
"Vira ... kamu nggak berpikir kalau..."
"Kalau apa?" serobot Vira.
"Aku nggak pernah melakukan itu, kamu percaya, kan?"
"Hem..." Vira hanya berdehem.
"Sungguh, aku nggak pernah!"
"Entahlah..." Vira tak bisa berpikir saat ini.
"Lihat aku, Vira ... lihat aku! susah payah aku mendapatkan kamu dan nggak mungkin aku menghancurkan semuanya dengan kelakuan bodoh seperti itu!" Firlan menangkup wajah Vira dan menatap kedua mata milik wanita itu.
Vira menatap dalam, dia mencoba mencari kebohongan disana.
"Sudahlah, aku ingin pulang! kalau kamu ingin berlama-lama disini, biar aku pulang dengan taksi," ucap Vira seraya melepaskan tangan pria itu dari kedua pipinya. Wanita itu melepas sabuk pengaman.
"Jangan!" Firlan mencegah Vira keluar dari mobilnya. Fia memasangkan kembali seatbelt yang sempat Vira lepaskan tadi.
"Kita pulang sekarang! aku akan mengantarmu sampai rumah," kata Firlan. Vira duduk kembali dengan tenang.
Dan mereka membelah jalan raya dengan sejuta keheningan.
...----------------...
__ADS_1