Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Bioskop


__ADS_3

Firlan mengajak Vira untuk membeli beberapa baju, tapi Vira tidak mau. Saat ini dia sangat malas untuk tawaf di mall. Vira berjalan perlahan dan hanya melewati toko- toko begitu saja.


"Biasanya cewek paling suka belanja?" tanya Firlan.


"Iya dulu aku suka sebelum tau rasanya susahnya cari uang. Kalau sekarang aku pakai uang hanya sesuai kebutuhan aja, kebutuhan untuk tampil cantik, hahahhaaha," Vira tertawa.


"Tapi kan ini aku yang belikan, jadi nggak apa-apa dong harusnya?" tanya Firlan.


"Ya nggak gitu juga, Ay. Aku lagi nggak pengen beli apa-apa, beneran deh. Tas yang dari Amartha aja jarang aku pakai," kata Vira.


"Ya sudah, kalau kamu nggak mau. Kalau kita nonton aja gimana?" tanya Firlan.


"Film apa?" tanya Vira.


"Apa aja yang kamu suka," kata Firlan yang sedang belajar bersikap lembut dengan Vira.


"Emmmh!" Vira berhenti berjalan dan pura-pura mikir.


"Halah, pakai acara mikir segala, kayak apaan..." kata Firlan yang kini merangkul Vira untuk menaiki escallator menuju bioskop yang ada di lantai paling atas.


"Popcorn jangan lupa," kata Vira.


"Beres! rasa apa? caramel kan?" tanya Firlan.


"Ya, tapi aku mau soda juga," kata Vira.


"Coklat dingin aja," tawar Firlan.


"Tadi udah minum cokelat masa sekarang cokelat lagi?" gerutu Vira.


"Iya tapi hanya kali ini aja," ucap Firlan. Dan mereka berdua pun melangkah dari escallator kemudian berjalan menuju gedung bioskop.


Mereka berdua membeli tiket nonton film horor. Firlan hanya ingin menyenangkan Vira, agar melupakan kekecewaannya terhadap sikap ibunya tadi. Dan setelah tiket sudah di dapat, mendadak Vira menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Firlan mengernyit heran.


"Aku mau ke toilet dulu," ucap Vira yang celingukan mencari sign toilet.


"Ya udah, aku beli popcorn sama minum juga, ya?" ucap Firlan menunjuk tempat pembelian popcorn dan cemilan lainnya.


"Iya, iya. Aku udah nggak tahan!" Vira langsung pergi ke toilet sedangkan Firlan berjalan dan ikut mengantri untuk membeli minuman untuk Vira.


"Antriannya panjang banget, huuffh!" Fitlan menghela nafasnya. Firlan beberapa kali menscroll ponselnya untuk membaca pesan yang ada di aplikasi chat, setidaknya itu bisa mengurangi rasa bosannya menunggu. Perlahan antrian mulai memendek dan kini gikirannya untuk memesan minuman dan makanan ringan.


"Silakan, Kak..." ucap pelayan.


Firlan pun mebyebutkan pesanannya, ia menginginkan 1 pop corn ukuran besar dengan rasa karamel dan juga dua minuman bersoda ukuran besar.


Dan setelah membayar, Firlan berjalan dengan tangan yang penuh dengan minuman dan cemilan yang dia beli.


"Haiiish Vira lama sekali!" gerutu Firlan.


Dan saat matanya mencari sosok kekasihnya ada sebuah suara yang sangat familiar di telinganya.

__ADS_1


"Pak Firlan?" ucap seorang wanita yang kini ada di depannya.


"Alia?"


"Nggak nyangka ketemu disini, mau nonton?" tanya Alia agak gugup.


"Iya, kamu?" tanya Firlan.


"Iya saya juga..." jawab Alia.


"Alia, aku udah dapat sodanya," ucap seorang pria yang kini menghampiri Alia.


"Kalau begitu saya permisi, Alia..." ucap Firlan yang segera berlalu meninggalkan Alia dan mencari kekasihnya.


Sedangkan mata Alia tak lepas dari sosok Firlan.


"Dia siapa, Al?" tanya pria yang ada disamping Alia.


"Oh, itu salah seorang kenalan..." jawab Alia.


Dan tak lama sosok ceria yang ditunggunya akhirnya muncul juga.


"Lama banget, Ay?" tanya Firlan dengan wajah betenya.


"Ya gimana rame banget di dalem," ucap Vira.


"Sini aku bantuin bawa satu," ucap Vira yang mengambil satu minuman dari tangan Firlan.


"Pintu theater dua telah dibuka..." terdengar suara pengumuman, Vira pun mengajak Firlan untuk masuk.


"Disana!" seru Vira yang sudah tak sabar ingin menonton film yang akan memacu adrenalinnya.


"Abis ini jangan takut malem-malem dikontrakan sendirian, ya?" ledek Firlan.


"Ihhhhh, Ayank kok gitu sih! nggak usah nakut- nakutin, deh!" ucap Vira seraya duduk dipojokan. Firlan hanya terkekeh melihat ekspresi kesal Vira.


Lampu ruangan pun dipadamkan, dan hanya ada cahaya dari layar besar yang kini sudah menampilkan bagian awal dari film.


Seseorang duduk di samping Firlan.


"Mau popcornnya Al?" tanya seorang pria pada wanitanya.


"Nanti aja, Ka..." ucap wanita itu.


Merasa tidak asing dengan suara itu, Firlan menoleh.


"Alia? kenapa juga ketemu dia lagi?" batin Firlan.


Tak sebgaja, Alia yang sedang memperbaiki posisi duduknya menyenggol kaki Firlan.


"Eh, sorry nggak sengaja!" ucap Alia pada pria yang ada disampingnya dan ia terkejut saat pria yang tak sengaja ia senggol adalah Firlan.


"Pak Firlan?" cicit Alia lirih, namun Firlan hanya tersenyum tipis kemudian berpaling pada Vira.

__ADS_1


Sedangkan Alia, mulai menyenderkan badannya di sandaran kursi sambil sesekali memperhatikan Firlan yang tengah memakan popcornnya.


"Dia kesini sendiri atau?" batin Alia bertanya-tanya.


Alia ingin melongok kursi yang ada di pojokan namun suasana yang gelap menjadikannya tak bisa melihat jelas apakah di kursi itu ada orang atau tidak. Apalagi film sudah dimulai, semua orang fokus pada layar.


"Popcorn?" tanya Raka, pria yang mengajak Alia kencan sore ini.


"Makasih," ucap Alia yang mengambil popcorn yang ditawarkan pria yang duduk disisi kirinya.


Alia memasukkan popcorn ke mulutnya sambil sesekali menengok ke arah Firlan yang kini menatap lurus layar besar.


Merasa ada yang terus memperhatikannya, Firlan pun menoleh sesaat dan pandangannya dengan Alia bertemu. Alia yang ketauan tengah memperhatikan pria yang duduk disisi kanannya pun kembali memutar kepalanya lurus, kembali menonton film.


Dan tiba-tiba saja, sosok menyeramkan muncul di layar besar itu.


"Akkkh!" Alia yang ketakutan refleks memegang sebuah tangan, bahkan kini ia bersembunyi dibalik lengan pria itu.


Firlan yang merasakan tangannya dipegang dua wanita pun menengok ke arah samping, sedangkan Vira tengah bersembunyi di dada bidangnya. Wanita itu tak berani melihat ke depan.


Firlan yang melihat Alia memegang tangannya pun perlahan melepaskan genggaman tangan itu.


"M-maaf," ucap Alia lirih.


"Its, okay!" kata Firlan.


Dia mengelus kepala Vira dengan tangan yang tadi dipengang Alia. Vira yang mendengar ucapan Firlan mengira kalau Firlan sedang menenangkan dirinya.


Selama menonton, Firlan sengaja terus memeluk Vira. Supaya tangannya tak dipegang Alia lagi saat adegan menyeramkan muncul.


"Ay, lepas napa?" kata Vira.


"Udah diem aja kayak gini, setannya bentar lagi paling nongol..." ucap Firlan.


"Tapi aku pengen minum, haus!" kata Vira.


Dan mau tak mau, Firlan melepaskan Vira, wanita itu kini mengambil minumannya dan menyeruputnya.


"Mau dong!" Firlan meminta minuman yang dipegang kekasihnya.


"Kan punya sendiri..."


"Pengennya punya kamu!" ucap Firlan yang kini sudah merebut minuman yang ada ditangan Vira.


"Astaga, aneh-aneh aja kamu, Ay!" ucap Vira seraya memasukkan popcorn ke dalam mulutnya.


Sedangkan Alia yang mengetahui kalau Firlan sedang bersama kekasihnya mendadak tak bisa fokus menonton. Matanya ke depan tapi pikirannya entah kemana.


Dan sebelum film berakhir, Firlan buru-buru mengajak Vira untuk keluar. Dia tidak ingin Vira bertemu atau melihat Alia yang duduk di sampingnya, walaupun tidak ada unsur kesengajaan, tapi Firlan tak ingin menyakiti hati Vira.


"Ay, filmnya belum kelar!" ucap Vira yang kesulitan menyamai langkah lebar Firlan keluar dari ruang bioskop.


"Aku laper, nggak kuat!" ucap Firlan mencari alasan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2