
Vira yang menikmati sarapan yang dibuatkan ayang pun, merasa senang karena merasa diperhatikan oleh Firlan.
"Seneng sih seneng, tapi perut sakit lagi..." ucap Vira seraya memegangi perutnya yang kini mendapat serangan nyeri lagi.
"Kayaknya aku nggak bisa nemenin anak-anak dengan kondisi begini," ujar Vira yang sudah menghapiskan satu tangkup roti dan juga secangkir teh panas yang dibuat dengan penuh cinta.
Wanita itu membiarkan saja bekas makannya tergeletak di meja, dia akan mencucinya nanti setelah keadaannya lebih baik.
"Aku harus kasih tau Fidya dan Zanna, biar mereka handle kelas hari ini..." Vira berbicara sendiri. Wanita dengan rambut sebahu itu pergi menuju ruang tamu untuk kembali mengunci pintu.
Sekarang Vira beralih ke kamarnya dengan membawa dua kantong besar hasil belanja Firlan.
"Dasar laki-laki, maksudku kan cukup beli satu. Lah ini beli sebanyak ini, benar-benar pemborosan!" gumam Vira, kemudian ia tertawa kecil saat membayangkan betapa malunya Firlan membeli barang yang khusus untuk wanita.
"Astaga, aku sampai lupa mau menghubungi Zanna..." Vira segera menaruh dua kantong besar dari tangannya lalu segera menyambar ponselnya..
Vira mencari kotak Zanna lalu segera menghubunginya.
"Halo, pagi Zanna?" sapa Vira.
"Pagi, Kak..."
"Zan, hari ini saya tidak datang ke tempat privat. Saya lagi kurang enak badan, jadi tolong kamu handle kelas hari ini, ya? katakan juga pada Fidya untuk mengatur jadwal kelas untuk bulan depan," ucap Vira.
"Oh, siap Kak. Semoga cepet sembuh ya, Kak..." ujar Zanna di balik telepon.
"Iya, makasih ya Zan..." ucap Vira, lalu memutuskan panggilan itu.
Vira bernafas lega, akhirnya dia bisa tiduran dengan nyaman tanpa beban di pikirannya. Namun, baru saja ia merebahkan dirinya, tiba-tiba saja ia terbangun.
"Kayaknya aku mandi dulu, deh..." Vira bicara sendiri.
Akhirnya Vira memutuskan untuk mandi, barulah dia akan beristirahat kembali dengan badan yang lebih segar dan wangi tentunya.
Kini wanita itu melesat untuk memulai ritual mandinya. Tak berapa lama, Vira pun keluar dengan rambut yang memang sengaja tak ia basahi. Wanuta itu sudah cantik dengan kaos dan celana hot pants.
__ADS_1
"Nah, kalau gini kan enak. Udah seger dan " sekarang lanjut mager..." kata Vira yang mengganjal perutnya dengan bantal.
"Untung banget nggak kerja sama orang, coba nih aku lagi sakit kayak gini terus harus jaga shift di rumah sakit, yang ada orang sakut jagain orang sakit, kan nggak efektif ya..." Vira mengoceh.
"Tapi bagaimana pun bisa kerja di rumah sakit sebesar itu, buat pengalaman aku juga. Kalau aku juga pernah jadi seorang perawat cantik, aaaawwh ... sakit!" pekik Vira saat rasa nyeri menyerang perut bagian bawahnya.
"Hadeeeeuh, sakit banget, sih!" keluh Vira.
"Lemes kan jadinya ... sssshhh, kayak gini nih jadi perempuan harus terbiasa dengan rasa sakit yang datang setiap bulan. Aku yakin kalau laki-laki yang nyobain sakitnya datang bulan, mereka auto nyerah karena nggak kuat..." kata Vira.
Vira pun memejamkan matanya, berusaha untuk tidak fokus pada rasa nyeri yang menghantam dirinya berkali-kali.
.
.
.
Sedangkan di tempat lain, Gusti memikirkan Vira dari pagi. Pria itu ingin mengajak Vira makan sianf, namun bagaimana cara untuk mengatakannya agar Vira mau untuk makan siang berdua dengannya.
"Ah, kalau telfon dulu jadi nggak surprise! biasa banget," Gusti menggeleng.
"Atau aku langsung datang saja ke tempat privatnya?" Gusti kini membenarkan posisi duduknya yang mulai kurang nyaman.
"Ehm, ya. Aku bilang aja kebetulan lewat dan setelah mengobrol sebentar baru aku ajak dia makan siang bareng. Dengan begitu kesannya natural dan nggak keliatan kalau aku kesana dengan sengaja..." Gusti menyunggingkan senyumnya.
Pria itu melihat jam di arlojinya, wajtu baru menunjukkan pukul 10.30. Itu artinya jam makan siang masih lama.
"Baiklah, aku akan kerjakan pekerjaan ini sebentar. Setelah itu aku akan perg menemuinya..." ucap Gusti.
Beberapa dokumen yang garus ia tanda tangani dan ia cek ulang, membuat waktu bergerak begumitu cepat terutama bagi mereka yang mempunyai segudang kesibukan seperti Gusti saat ini.
Karena terlalu fokus dengan apa yang dijerjakannya, membuat Gusti hampir lupa dengan recananya untuk menemui Vira.
"Astaga, sudah siang ternyata. Aku harus prgi sekarang..." pekik Gusti saat tak sengaja melihat jam di ponselnya.
__ADS_1
Pria itu segera bangkit dari kursi kebesarannya dan bergegas untuk jeluar dari ruangannya.
Namun ketika ia membuka pintu, ternyata bertepatan dengan seseorang ynag akan masuk ke dalam ruangannya.
"Vanya? ada perlu apa kamu datang kemari?" Gusti mengernyit heran saat melihat wanita cantik yang ada di hadapannya.
"Untuk menemuimu. Kau mau pergi kemana?" tanya Vanya yang masih berdiri di ambang pintu.
"Oh, aku ada keperluan di luar. Kalau begitu aku duluan, Van! kita bisa ketemu lain waktu," ucap Gusti seraya menutup ruangannya dan pergi meninggalkan sosok perempuan bernama Vanya.
"Astagaaaa! dia main ninggalin aku gitu aja. Awas aja kamu, Varo! Ini jam makan siang, nggak mungkin kan dia ketemu dengan client atau investor?" Vanya bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Aku harus cari tau! jangan-jangan dia akan menemui seorang wanita? nggak, ini nggak bolrh terjadi. Bagaimana pun akulah satu-satunya wanita yang pantas menggeser posisi putri di hati Varo! aku harus ikuti dia sejarang!" Vanya segera berjalan mengejar pria yang ia kenal dengan nama Varo itu.
Namun, ketika Vanya mencoba mengikuti pria yang sudah berkali-kali menghindarinya itu, dia kehilangan jejak.
Gusti sudah terlebih dulu menaiki lift untuk turun ke bawah.
"Sial! harusnya aku lebih cepat!" Vanya menggerutu saat harus menunggu pintu lift terbuka.
"Aih, kenapa pintu lift ini lama sekali? dasar tidak berguna!" umpat Vanya pada kotak besi yang ada di hadapannya.
Sementara Vanya kini sedang menaiki lift, Gusti sudah menaiki mobilnya yang sudah terparkir di depan.
Pria itu menancapkan gasnya melesat meninggalkan perusahaan milik keluarga Alvaro.
"Tungguuuuu!" Vanya berteriak saat melihat mobil Gusti yang sudah melaju.
"Aaarrrrggghhh! sial...! oke, kali ini aku boleh gagal mengikutimu, Varo. Tapi aku akan mulai mengikuti krmana kamu pergi mulai besok, aku harus tau wanita mana yang sedang mendekatimu!" ucap Vanya dengan sinis.
Wanita itu berbalik, berjalan menuju basement. Sedangkan Gusti yang mendapat laporan dari orang kepercayaannya kalau tadi Vanya sempat mengejarnya pun hanya menaikkan satu alisnya.
"Ngapain dia ngejar-ngejar segala, kayak nggak ada kerjaan lain aja!" guman Gusti.
Ia tak memperdulikan Vanya yang saat ini begitu kesal karena gagal mengikuti dirinya yang akan menemui Vira siang ini. Pria itu hanya fokus pada apa yang akan dikatakannya saat bertemu wanita yang sudah merebut hatinya dan juga putri kecilnya.
__ADS_1
...----------------...