Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Harus Tahan Emosi


__ADS_3

Lama Firlan terdiam.


"Halo?" suara lembut Alia terdengar kembali.


"Bagaimana, ya? aku baru saja pulang. Maaf pekerjaanku sedang sangat banyak, karena tuan Satya sedang pergi berlibur. Dan kau tahu sendiri daily life seorang assisten," jelas Firlan.


"Oh, baiklah kalau begitu. Selamat beristirahat,"


"Semoga kau cepat pulih," kata Firlan lalu mematikan sambungan telepon itu.


Firlan menghela nafas lega saat berhasil mengeluarkan alasan yang masuk akal pada Alia. Tujuan utamanya kini makan bersama Vira, dan itu tidak boleh sampai gagal.


Hati senang riang dan gembira itulah yang dirasakan Firlan saat ini.


"Akh, aku seperti suami yang dinantikan kepulangannya oleh istri tercinta," ucapnya saat merapikan rambut dan jasnya sebelum keluar dari mobil.


"Penampilanku harus sempurna!" kata Firlan yang kemudian memencet tombol lock pada kunci mobilnya.


Firlan segera mengetuk pintu kontrakan Vira. Pria itu merapikan sedikit jasnya sebelum seseorang membukakan pintu untuknya.


Wajah bete Vira nongol dari balik pintu. Firlan tak membuang waktu, dia langsung nyelonong masuk.


"Ck, udah berasa kayak di rumah sendiri dia!" gerutu Vira yang kesal dengan tingkah Firlan.


"Hey, mantan! cuci tangan dulu sebelum pegang makanan!" seru Vira mengekor di belakang Firlan yang berjalan menuju meja makan.


"Ya, aku sudah tau!" Firlan menyahut sambil mengangkat jempolnya.


Firlan melepas jasnya, menyampirkannya di kursi yang akan di dudukinya. Pria itu kemudian membuka keran air di wastafel, membasahi tangannya dengan sabun dan mencuci tangannya sampai bersih.


Sedangkan Vira sedang mebata makanan yang sudah dibelinya dan menuangkan es jeruk segar dari jug yang terbuat dari kaca ke dalam gelas bening yang tinggi.


"Vira, nasi..." ucap Firlan yang duduk di kursinya.


"Ambil sendiri,"


"Kamu nggak lihat? aku udah cuci tangan. Ayolah, tamu adalah sultan!" kata Firlan.


"Sultan yang dipaksakan ya?" celetuk Vira.


"Aku udah lapar," protes Firlan, karena permintaannya tak juga dipenuhi Vira.


Dengan bibir monyong 5 senti, Vira mengambilkan nasi untuk Firlan, dan meletakkan piring putih itu di hadapan pria menyebalkan yang sudah memporak-porandakan hati seorang Vira Anugrah.


"Makasih," kata Firlan.


Vira pun duduk berhadapan dengan pria itu. Ia mengambil ayam bakar


"Kamu beli dimana?" tanya Firlan yang mengambil ayam bakar bagian paha dan menaruhnya diatas nasi yang ada di piringnya.

__ADS_1


"Di warung makan, masa iya di toko bangunan?" celetuk Vira yang mrngambil sambel dan timun segar.


"Kenapa dia jadi jutek seperti ini? sshh, sabar Firlan, sabar..." batin Firlan. Dia memasang senyum termanisnya. Namun yang melihatbitu malah mengernyitkan dahinya, heran. Biasanya Firlan akan merong-merong atau setidaknya dia akan menangkis celetukan Vira dengan ucapan pedasnya.


"Kenapa?" tanya Firlan saat melihat Vira menatapnya dengan tatapan yang aneh.


"Nggak ada. Siapa juga yang ngeliatain. Pede banget!"


Tapi Firlan jelas tahu kalau Vira sedang terkagum-kagum dengan rem mulutnya saat ini. Dan Firlan sangat senang akhirnya wanita itu sesekali mencuri pandangan padanya.


"Ayam bakarnya enak, dan aku suka ini sambalnya..." kata Firlan yang bingung mencari topik pembicaraan.


"Emang ayamnya enak," sahut Vira.


"Es jeruknya juga manis," lanjut Firlan.


"Ya pastilah, kalau yang pahit itu kehidupan!" celetuk Vira.


Firlan terlihat tersiksa menahan emosinya mendengar jawaban Vira yang menyebalkan itu. Tapi dia harus bersabar dan terus menahan agar tidak kebobolan.


"Oh, ya? gimana hari kamu?" tanya Firlan sambil menyuwir ayam bakar miliknya


"Hari aku? maksudnya?"


"Ya maksudnya , ehm. Maksudnya, apa aja yang kamu lakuin seharian ini?" Firlan tahan emosi.


"Seperti biasa, ngajar les..." kata Vira yang cuek saja menyuapkan ayam bakar dengan sambal dan juga nasi dalam satu suapan.


"Udah tau!" serobot Vira.


"Astaga bener-bener si Vira nguji banget!" batin Firlan meronta.


Dan makan malam mereka diakhiri dengan minuman es jeruk yang sengaja Vira tambahkan es batu yang banyak supaya dinginnya awet.


Walaupun sudah makan tapi mulut Vira masih ngunyah cemilan, Firlan hanya geleng-geleng kepala melihat wanita yang sedang ia rebut hatinya.


Pukul 8 malam Firlan pamit untuk pulang. Vira pun kemudian menutup pintu dan kembali ke kamarnya. Merebahkan diri diatas kasur empuk yang membuatnya langsung mengantuk.


Sedangkan di tempat lain.


Gusti yang sudah menyelesaikan makan malamnya dengan Gia, dipaksa untuk mengikuti kemana gadis kecil itu pergi.


"Gia mau bawa papi kemana?" tanya Gusti, tapi Gia tak menjawab. Dia hanya menarik tangan sang papi.


"Penny kau kembali saja ke kamarmu. Karena aku sedang ingin dengan Papi," kata Gia pada pengasuhnya.


"Baik, Non..." jawab Penny.


"Gia mau main?" tanya Gusti saat Gia mengajaknya ke ruangan khusus bermainnya.

__ADS_1


"Ada yang ingin Gia tunjukkan sama Papi," kata gadis kecil itu yang membuat Gusti ikut masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi dengan mainan anak perempuan.


"Apa yang ingin Gia tunjukkan? hem?" tanya Gusti.


"Tutup mata Papi!" ucap Gia yang menyuruh Gusti menutup mata dengan satu tangannya.


"Kenapa harus tutup mata?


"Lakukan saja, Papi..." rengek Gia.


"Baiklah, papi akan tutup mata. Tapi Gia jangan lepaskan pegangan tangan Gia dari papi, ya?" ucap Gusti.


"Iya iya. Gia nggak aka lepasin. Sekarang tutup dulu matanya," kata Gia. Akhirnya Gusti pun menurut.


Gia menuntun sang papi untuk berjalan perlahan menuju satu sudut di ruangan itu yang digunakan Gia untuk mengekspreksikan perasaannya.


"Sekarang buka mata Papi!"


Dan Gusti pun kemudian membuka matanya.Dia melihat sesuatu yang ditutupi kain berwarna putih.


"Buka, Pih..." Gia menyuruh papi nya untuk membuka kain penutup itu.


Dan Gusti menari ujung kain itu ke bawah. Dan terlihat sebuah lukisan yang sangat indah.


"Apa ini Gia yang membuatnya?" tanya Gusti.


"Bukan hanya Gia tapi juga tante Vira," jawab Gia.


"Jadi ini karya kalian berdua?"


"Hu'm..." Gia mengangguk.


Gia meminta Gusti untuk duduk. Dan Gia mengambilkan lukisan itu untuk diberikan pada ayahnya.


Gusti meligat satu perempuan dengan baju outih berada di tengah hamparan kebun bunga itu.


"Ini mami..." ucap Gia.


Mata Gusti langsung berkaca-kaca, dia tahu Gia pasti sangat merindukan sosok ibu dalam hidupnya.


"Wah, papi kira ini Gia..." ucap Gusti yang menyeka air mata di salah satu sudut matanya.


"Bukan. Tapi ini mami ... mami yang selalu Gia rindukan," ucap Gia menunjuk satu sosok perempuan yang dilukis dari sisi belakang.


"Sini, Sayang..." Gusti mengecup kepala anaknya.


"Mami pasti bangga memiliki anak seperti Gia. Dan mami pasti akan selalu ada di hati kita berdua," ucap Gusti seraya memeluk Gia. Dia hanyut dalam rasa rindu dan sedih, tapi Gusti tidak boleh menunjukkannya pada Gia.


Gusti menjarak tubuh keduanya, dia menunjukkan lukisan yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Kita harus memasang lukisan ini," ucap Gusti.


...----------------...


__ADS_2