Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Mendatangi Andini


__ADS_3

"Aku nggak yakin dia lagi hamil," ucap Firlan santai.


"Masa dia mau bohong soal sebesar itu?"


"Jadi, aku bayar orang buat ngikutin tuh perempuan seharian ini kemana aja. Dan kamu tau nggak? pagi-pagi dia udah nyatronin rumah Ibu..."


"Kesana? ngapain?" Vira mengerutkan keningnya.


"Kalau kata bik Nem sih, dia minta supaya Ibu maksa aku buat nikahin Andini..." jelas Firlan, dia bicara sambil terus fokus menyetir.


"Aku nggak mudeng,"


"Pagi-pagi, orang suruhanku itu bilang kalau Andini datang ke rumah Ibu. Aku telfon rumah dan nyuruh bik Nem buat nguping apa aja yang Andini omongin sama Ibu. Ya udah bik Nem ceritain semuanya di telfon..." jelas Firlan.


"Terus ibu bilang apa?" Vira penasaran.


"Kata bik Nem sih, ibu datar-datar aja. Dia malah bilang kalau nyuruh Andini ngikutin aja apa mau aku, yang artinya ibu mendukung tes itu..." kata Firlan.


"Masalah ibu kamu nggak usah pikirin, yang jrlas. Sekarang aku lagi usahain buat si Andini itu nggak bisa ngerusak rencana pernikahan kita..." lanjut Firlan.


"Terus? ada info lain lagi?" Vira malah jadi penasaran.


"Andini itu punya hutang sama temennya spai ratusan juta. Aku juga nggak tau pasti buat apa dia hutang sebanyak itu, tapi menurut rekaman yang aku terima siang tadi. Dia lagi dalam kondisi terjepit dan dia sudah tidak ada hubungan dengan kekasihnya yang biasa memberikan semua fasilitas dan kemewahan yang dia suka..." jawab Firlan ia menghentikan mobilnya di tepi jalan. Pria itu sedikit menggeser tubuhnya agar bisa melihat wajah Vira.


"Maksud kamu, kamu curiga kehamilan itu cuma akal-akalan dia?"


"Yang jelas aku yakin karena aku nggak pernah ngapa-ngapain. Demi apapun aku nggak pernah," Firlan mebatap wajah Vira serius.


"Iay iya aku percaya, liatnya nggak usah gitu amat juga kali!" kata Vira.


"Habisnya bikin kamu percaya itu susah banget, sih!"


"Bukannya aku nggak percaya, aku cuma kesel dengan situasi ini..." kata Vira.


"Aku cuma takut kamu ragu dan aku takut kehilangan kamu, Vira! aku udah susah payah bikin kita bisa bersama seperti sekarang kini, dan aku nggak akan biarin satu serangga pun memisahkan kita..." kata Firlan, ia meraih tangan Vira dan mengecup punggung tangan wanita itu sekilas.


"Kamu percaya kan sama aku?" tamya Firlan, Vira mengangguk.


Firlan menarik kepala Vira untuk bersandar di bahunya.


"Kita bakal menikah, dan nggak ada satu orang pun yang bisa mengagalkan itu..." Firlan mengelus kepala Vira.


Tanpa di duga, ada seseorang yang mengetuk kaca mobil mereka.


"Ada orang, Ay!" Vira kembali ke tempat duduknya dan menunjuk kaca jendela di sisi kanan Firlan.


"Sebentar," jawab Firlan.


"Permisi, Tuan! apa ada masalah dengan mobil anda?" tanya seseorang dengan seragam polisi yang sedang berpatroli.


"Tidak, ada Pak!"

__ADS_1


"Disini rawan kejahatan, sebaiknya anda jangan menepi di tempat ini," ucap pria itu.


"Terima kasih, Pak..." ucap Firlan, kemudian melesat meninggalkan tempat itu.


"Untung yang nyamperin kita polisi bukan begal atau perampok, Ay!" ucap Vira.


"Maaf, Ay! aku baru ngeh kalau tadi jalan yang lumayan sepi..." ucap Firlan sembari fokus menyetir.


"Rencananya aku bakal menemui Andini buat ngajak dia ke dokter, menurut kamu gimana?" tanya Firlan.


"Lakuin aja yang menurutmu baik, Ay! aku manut aja..." jawab Firlan.


"Baiklah, aku akan membuatnya semakin cepat mengaku!" kata Firlan, Vira pun mengangguk.


Dalam hubungan percintaan memang tidak akan kau temui jalan yang mudah dan lurus. Pasti banyak kerikil dan juga jalanan yang berkelok-kelok, asalkan kedua pasangan itu bisa tetap bergandengan tangan dan sejalan. Maka mereka akan mampu melewati semuanya.


.


.


.


Dua hari setelahnya.


Firlan sengaja tidak menghubungi Andini, dia mengetuk unit yang dihuni wanita itu.


Pintu dibuka, terlihat Andini begitu segar dengan handuk yang masih menutupi kepalanya.


"Masuk, Lan!" ucap Andini sumringah melihat Firlan datang.


Firlan masuk dan duduk di sofa.


"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Firlan.


"Melakukan apa?" Andini balik bertanya.


"Sudahlah, aku nggak mau bertele-tele, sebaiknya kita pergi sekarang..." ucap Firlan.


"Kemana?" tanya Andini.


"Nanti juga kamu tau, tapi kalau kamu sedang sibuk kira bisa pergi lain waktu!' Firlan beranjak dari duduknya berniat pergi namun Andini segera mencegahnya.


"Aku nggak sibuk, aku bersiap dulu. Tunggulah disini," kata Andini.


"Hem," Firlan hanya berdehem.


Andini langsung pergi ke kamarnya. Dia segera mengeringkan rambut panjangnya


"Nggak nyangka calon mertuaku bisa menyeret Firlan supaya datang kemari! ah, ini kemajuan yang besar. Aku nggak boleh melewatkan kesempatan ini, aku nggak boleh ngebiarin ladang uangku pergi gitu aja!" ucap Andini pada dirinya sendiri sembari mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Kebetulan hari ini hari sabtu, sehingga Andini tidak perlu ijin lagi. Dia sebenarnya sudah sangat sering ijin dengan alasan-alasan sakit, padahal dia pergi ke tempat lain untuk liburan dan melakukan hal-hal yang dia suka. Andini sangat brubah saat mengenal seorang sosok pria bernama Dimitri. Pria matang yang sering mebghujani wanita itu dengan harta, dan pria itu juga yang membuat hubungannya kandas dengan Firlan.

__ADS_1


Dan saat ini Dimitri sudah meninggalkannya, dia kembali pada mantan istrinya dan mencampakakkan Andini begitu saja. Andini yang sudah terbiasa hidup hedonis pun akhirnya meminjam uang pada beberapa temannya untuk membeli barang-barang dan pergi liburan. Dia tidak bisa hidup sederhana seperti dulu.


Di ruang tamu Firlan menunggu dengan gelisah.


"Astaga lama sekali wanita itu!" gerutu Firlan.


Firlan mengirim chat pada Vira dan mebagtakan kalau dirinya bersama Andini akan pergi ke dokter, dan Firlan meminta agar Vira menunggunya disana. Agar Andini tidak curiga.


Meskipun Firlan sebenarnya sangat malas menemui wanita itu tapi demi hubungannya dengan Vira maka dia harus melakukan ini.


"Berapa lama lagi aku harus menunggu!" Firlan beranjak dari duduknya.


Dan tak lama mynculah wanita dengan dress ketat dengan rambut yang sengaja ia gerai menutupi punggungnya.


"Lama sekali, hampir saja aku tinggal!" protes Firlan.


"Jangan marah-marah sepagi ini, Lan! semua wanita akan lama jika berurusan debgan penampilan!" ucap Andini yang dengan tidak tahu malu menggandeng lengan kekar Firlan.


"Janga macam-macam!" Firlan melepaskan tangan wanita itu dan pergi mendahului Andini.


"Astaga, kenapa dia jadi seperti itu!" gerutu Andini seraya mengikuti Firlan dari belakang.


Ketika sampai di mobil, Firlan takembukakan pintu untuk Andini. Dia main masuk ke dalam mobilnya sedangkan wanita itu hanya berdiri btanpa berniat menyentuh handle pintu mobil. Firlan menurunkan kaca.


"Masuk!" suruh Firlan.


"Ya ampun, apa dia nggak bisa buka pintu mobil sendiri!" Firlan geram saat melihat Andini yang tak menghiraukan ucapannya.


Pria itu pun keluar dan membuka pintu untuk Andini.


"Nah gitu, dong! sama calon istri..." ucap Andini.


Firlan yang mendengarnya pun sebenarnya sangat muak. Tapi dia harus bersabar, apalagi mereka akan bersama di dalam mobil dalam waktu yang tidak sebentar.


"Aku lapar, Lan..." ucap Andini.


"Tahan saja dulu..."


"Tapi anakmu ini juga lapar, apa kamu tega?" ucap Andini yang sebenarnya meledek Firlan.


"Aku belum punya anak, maaf!" kata Firlan.


Tapi sebagai bentuk rasa kemanusiaan, akhirnya Firlan membelokkan mobilnya ke aalah satu restoran cepat saji dan membelikan wanita itu bubur ayam dan juga minuman.


"Terima kasih calon suami..." ucap Andini.


"Tidak usah banyak bicara dan cepat makan!" kata Firlan.


Halah, ucapanmu begitu ketus! tapi di dalam lubuk hatimu aku tau, kamu masih peduli sama aku. Batin Andini.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2