Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Panic Attack


__ADS_3

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya pelayan wanita.


"Saya ingin bertemu dengan pemilik restoran ini," ucap Firlan dengan tatapan mengintimidasi.


"M-maaf, ada yang salah dengan makanan anda, Tuan. Biar kami ganti dengan yang baru," kata pelayan wanita itu takut.


"Saya ingin bertemu dengan pemilik restoran ini," Firlan mengulangi perkataannya.


"Apakah makanan ada yang kurang atau bagaimana, Tuan? tolong jangan laporkan hal ini pada atasan kami, kasihanilah kami, Tuan!" pelayan itu mengiba.


"Aih, Saya hanya ingin bertemu, bukan ingin melaporkan masalah makanan..."


"Emh, begini saja saya ingin tau siapa pemilik restoran ini..."


"Restoran ini milik tuan Kenan Pradipta, Kak..." ucap pelayan itu antara takut dan lega, karena ternyata pria yabg dihadapannya itu tak berniat untuk komplain soal makanan.


"Kalau begitu kau boleh pergi..." ucap Firlan mengibaskan tangannya.


"Permisi, Tuan..." ucap pelayan itu.


Sesaat Firlan terdiam dan mencoba mencerna informasi yang dia dapatkan hari ini.


"Kenan Pradipta..." gumam Firlan.


Dan tak lama kemudian, munculah Irwan dengan seorang pria yang sudah pasti sangat dikenali Firlan, pria yang menjadi pemilik restoran ini.


Firlan segera menelepon seseorang, "Segera ikuti mereka," suruh Firlan.


Firlan yang buru-buru meminum lemon teanya dan membayar makanannya terlebih dahulu sebelum pergi meninggalkan restoran itu.


.


.


.


Hari semakin sore, setelah mengecek laporan yang masuk melalui emailnya, pria tampan itu membuka jasnya dan meninggalkannya begitu saja di ruang kerjanya.


Ia menggulung kemeja sebatas siku dan membuka satu kancing bajunya. Ia berjalan menaiki tangga berniat untuk mandi, namun ketika sampai di lantai 2, ia berbelok ke kamar Gia untuk melihat keadaan anaknya dan juga Vira.


Gusti membuka pintu dan berjalan mengendam masuk ke dalam. Namun ternyata Gia tiba-tiba bergerak membuat pria itu kaget. Tapi setelah didekati ternyata gadis kecilnya masih tertidur.


"Aku kira dia sudah bangun..." Gusti mengelus dadanya sendiri.


Pria itu mengelus puncak kepala anaknya, dan ia menempelkan punggung tangan di pipi Gia.


"Sepertinya panasnya sudah turun, syukurlah..." gumam Gusti.


Kini tangannya beralih menyentuh wajah Vira.


"Astaga, apa yang aku lakukan!" umpat Gusti saat ibu jarinya menyentuh bibir wanita itu.

__ADS_1


Gusti segera menyingkirkan tangannya dan ia memilih untuk pergi ke kamarnya untuk mandi.


Namun, ketika dia akan berbalik tangannya ditarik Gia secara tiba-tiba.


"Papi, Gia pengen gendong..." ucap Gia lirih.


"Kamu sudah bangun, Sayang?" suara Gusti seperti orang berbisik.


"Emmmmhh!" Gia hanya bergumam tak jelas.


Gusti segera mengangkat putrinya dan menggendongnya, Gia meletakkan kepalanya di bahu kekar papinya. Matanya kembali terpejam.


Langit kini sudah gelap, dan tiba-tiba saja suara petir bergemuruh. Gusti masih menggendong Gia, pria itu menyingkap sedikit korden untuk melihat situasi di luar, ternyata hujan deras dan terlihat beberapa kali kilat menyambar.


"Sepertinya cuaca sangat buruk, padahal baru jam 5 sore tapi langit begitu gelap!" ucap Gusti seraya mengusap punggung Gia perlahan.


Dan pintu pun diketuk seseorang, Gusti membuka pintunya secara perlahan.


"Ada apa?" tanya Gusti.


"Ada asisten anda, Tuan. Katanya ada dokumen penting yang harus anda tanda-tangani sekarang..." ucap Penny.


"Gia ... Gia sama Peny dulu, ya? papi ada tamu..." ucap Gusti, namun gadis krcilnya semakin mengeratkan tangannya pada leher sang papi.


"Ya sudah bilang kalau sebentar lagi saya akan turun..." perintah Gusti pada Penny.


"Baik, Tuan..." jawab Penny.


"Ada apa, Van?" tanya Gusti saat meluhat Vandra duduk di sofa ruang tamu.


"Gia kenapa, Tuan?" tanya Vandra pada bosnya yang tengah menggendong anaknya.


"Hanya sedikit kurang enak badan," ucap Gusti seraya duduk di sofa.


"Mana dokumennya?" tanya Gusti.


"Ini, Tuan..."


Gusti segera menandatangani dokumen itu dan tiba-tiba lampu padam. Dan dengan segera Vandra menyalakan senter di ponselnya.


"Papiiii..." Gia takut karena suasana rumah gelap ditambah hujan yang sangat deras.


"Tenang, Sayang..." ucap Gusti menenangkan putrinya.


"Van, tolong kamu keluar dan suruh Ramli untuk mengecek genset," suruh Gusti.


"Penny...!" panggil Gusti.


"Ya, Tuan..." pengasuh Gia itu segera datang dengan sebuah lilin besar di tangannya.


"Kenapa genset tidak langsung menyala?" tanay Gusti.

__ADS_1


"Sepertinya ada sedikit masalah, Tuan. tapi pak Ramli sedang mengeceknya sekarang..." ucap Penny.


"Kau gendong Gia dulu, aku akan mengambil lampu emergency untuk aku taruh di kamar Gia," kata Gusti.


.


.


.


Sementara di kamar Gia, Vira terbangun karena suara petir yang sangat menakutkan. Namun, suasana gelap, Vira yang takut akan gelap mencari ponselnya.


"Astaga, tasku ketinggalan di kamar mas Gusti. Bagaimana ini? hh ... hhh ... aku tidak bisa melihat apa-apa!" Vira panik, nafasnya terengah-engah.


"Hhh hhhh ... Gia! dimana Gia?" Vira meraba kasur di sampingnya tapi tidam ada gadis kecil itu.


"Hhhh ... dimana, Gia? apakah dia terjatuh?" Vira kemudian perlahan turun dari ranjang dan berjalan perlahan disisi ranjang satunya, ia mencoba menyentuh lantai namun tak ada Gia. Gia tak ada disana.


Nafasnya semakin sesak, Vira semakin panik.


"Hhh ... hhh ... bagaimana ini? aku susah bernafas! apa yang harus aku lakukan!" Vira memegang dadanya yang terasa sesak.


Dan tiba-tiba saja pintu terbuka, seseorang membawa penerang ke kamar itu.


"Viraaa!" pekik Gusti saat melihat Vira berada di lantai sambil memegangi dadanya.


"Hey, kamu kenapa?" tanya Gusti yang kini berjongkok dan meraih tubuh wanita itu yang sudah lemas.


"Gelaph ... hah ... hhh..." Vira bicara dengan nafas yang terengah-engah.


"Tenang, ada aku disini..." ucap Gusti sambil mengangkat Vira ke atas ranjang.


"Dibawah dingin, kamu bisa sakit..." lanjut Gusti dan sekarang mereka berdua duduk di ranjang Gia, dengan tangan Gusti yang merangkul bahu wanita itu.


Ketika ada cahaya yang berasal dari lampu emergency, perlahan Vira bisa mengatur kembali nafasnya menjadi lebih tenang.


"Aku ... aku sudah lebih baik, hemmmh terima kasih..." ucap Vira yang berniat menjarak tubuhnya dari Gusti.


Namun pria itu mencegahnya, dia menangkup wajah Vira, "Apa kamu memiliki phobia terhadap gelap? hem?" tanya Gusti sembari melihat kedua mata indah milik Vira.


"Iya ... aku akan mendadak panik jika melihat sekelilingku tak ada cahaya," Vira mencoba mengatur nafasnya.


"Aku bersedia menjadi cahaya itu, Vira. Aku tak akan membiarkanmu sendirian dalam gelap..." ucap Gusti.


Vira tak mengerti apa yang Gusti ucapkan, tangannya berusaha melepaskan tangan Gusti yang menyentuh kedua pipinya, tapi bukannya melepaskan tangannya Gusti malah semakin mendekatkan wajahnya dengan Vira. Mata Vira membulat saat melihat wajah Gusti semakin dekat.


Dan tiba- tiba saja...


Lampu sudah menyala.


"Papiiiiiiiiii!" pekik Gia, dan mereka berdua pun menoleh ke arah pintu. Disana sudah ada Gia dan Penny yang melihat Vira dan Gusti sedang duduk berhadapan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2