Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Buat Setan


__ADS_3

Firlan memejamkan matanya namun tidak benar-benar tidur, ia hanya ingin mengistirahatkan dirinya. Dan kini ia merasakan ada seseorang yang membuka pintu dan berjalan seperti mengendap-endap.


"Tidur ternyata, pantesan nggak bales..." suara wanita yang sangat familiar. Firlan merasakan wanita itu duduk di samping ranjangnya. Dia tetap saja memejamkan matanya, dia ingin tahu apa saja yang akan dilakukan wanita yang akan ia lamar di depan keluarganya.


"Kalau lagi tidur kayak gini keliatan ganteng, nggak ada raut jutek, galak, sengak kayak biasanya..."


Firlan yang mendengar ucapan Vira sekuat tenaga untuk tidak menampilkan raut wajah kesal.


"Tahan Lan ... tahan..." Firlan mencoba menyabarkan diri.


"Kalau aku sentuh dia bangun nggak, ya?" lirih Vira setengah berbisik.


Tangan Vira sudah terulur ingin menyentuh wajah tampan yang sedang terbaring di tempat tidur. Namun, lengan baju Vira yang lebar menjuntai ke bawah tepat di hidung Firlan.


Dan akhirnya...


"Huaaaatchih!" Firlan bersin, hidungnya gatal karena terkena lengan baju Vira. Pria itu lantas bangun dari tidurnya. Dan memandang wanita yang masih terpaku di depannya.


"Sejak kapan kamu berada disini?" tanya Firlan yang pura- pura tidak tahu.


"A-aku ... aku baru aja dateng, aku mau bangunin. Katanya kan mau pulang siang ini, nanti keburu kemaleman loh di jalan!" kata Vira seraya bangkit dari duduknya.


"Masa?"


"Iya, lah!"


"Emang sekarang jam berapa?" Firlan menaikkan satu alisnya.


"Emh, jam ... jam dua! ayok, bangun..." kata Vira.


"Lah kan ini aku udah bangun kan?" ucap Firlan.


"Ya udah aku ... mau ke dapur dulu!" Vira langsung pergi


Sedangkan Fitlan hanya memandang wanita itu hilang ditelan pintu.


Firlan merapikan bajunya, dan keluar mengikuti Vira.


"Tante ... saya mau pamit," ucap Firlan pada Dewi yang duduk di ruang tengah.


"Loh kok buru-buru?" tanya Dewi.


"Iya, supaya tidak kemalaman sampai rumah. Karena besok saya mau kesini lagi bersama ibu..." jelas Firlan.


"Om dimana ya, Tan?" lanjut Firlan.


"Ada di kamar, sebentar tante panggil dulu..." Dewi beranjak, dia berjalan menuju kamar.


Sedangkan ketika Firlan akan pergi ke ruang tamu, Vira memanggilnya.


"Mau kemana, Ay?" tanya Vira yang membawa secangkir cappucino panas.

__ADS_1


"Mau ke hutan!"


"Ditanya bener-bener malah jawabnya gitu!" Vira manyun.


Firlan malah mlengos ke ruang tamu meninggalkan Vira dengan bibir mengerucut. Wanita itu mengekori Firlan dari belakang.


"Ya ampun nyebelinnya kumat lagi!" umpat Vira dibelakang tubuh tegap kekasihnya.


"Nyebelin- nyebelin juga calon suami kamu, Vira!" sahur Firlan tanpa menengok ke belakang.


Pria itu lantas duduk dan menatap Vira dengan tersenyum penuh arti. Vira meletakkan cangkir yang ada di tangannya ke atas meja.


"Cappucino," kata Vira.


"Buat?"


"Buat setan!" sarlas Vira, sayangnya ucapannya itu didengar raharjo.


"Vira, ngomong sama calon suami tidak boleh begitu! yang sopan, Firlan ganteng begini kok dibilang setan!" ujar Raharjo yang duduk berhadapan dengan Firlan.


"Vira hanya bercanda saja, Om..." kata Firlan dengan wajah memelas.


"Dih playing victim!" batin Vira


"Duduk, Vira!" suruh Raharjo.


"Duduk, Sayang..." Dewi mengulangi ucapan suaminya, Vira duduk di samping Firlan.


"Walaupun hanya bercanda, tidak boleh seperti itu Vira. Nanti akan jadi kebiasaan yang jelek, bagaimanapun Firlan nanti akan jadi suamimu. Kamu harus menghormati dia, jangan bicara sembarangan bagaimana nanti kalau orang dengar?" Raharjo menasehati anaknya panjang lebar.


"Papa tidak mau kamu berkata seperti itu lagi," kata Raharjo.


"Iya, Paaa..." jawab Vira sambil melirik ke arah Firlan.


"Rasain! emang enak, karma buat kamu Ay! siapa suruh ngerusak citra aku dengan bilang aku takut kecoa. Lagian nggak ada kamus aku takut sama kecoa!" batin Firlan puas.


"Maafkan Vira ya, Lan! maklum, dia dulu jarang bersama kami ... dia sering kami tjnggal-tinggal, jadi beginilah bentukannya, sedikit ajaib..." kata Raharjo.


"Iya, Om..."


"Diminum dulu, Nak..." ucap Dewi pada Firlan.


"Iya, Tan..." Firlan mengangkat cangkir dan menyeruputnya, ia meletakkan ke tempatnya semula.


"Oh, iya. Om Tante ... saya pamit pulang, kebetulan saya juga ada urusan lain malam nanti," kata Firlan.


"Ada urusan apa dia malam-malam? jangan-jangan sama Andini? awas aja kalau iya, aku geprek nanti!" batin Vira.


"Wah padahal Om belum ngobrol banyak," kata Raharjo.


"Besok saya dan ibu akan kesini, tapi mungkin hanya kami berdua. Karena kebetulan ayah saya sudah menghadap yang maha kuasa. Ehm, jadi mungkin lamaran nanti akan sangat sederhana, Om Tante..." ucap Firlan.

__ADS_1


"Oh begitu, tidak apa-apa, Nak. Yang pentingkan kalian bisa saling mengikat. Besok Om tunggu, semoga semuanya diberi kelancaran, aamiin..." ujar Raharjo.


"Kalau begitu saya permisi, Om Tante ... Vira..." Firlan bangkit dan menyalami kedua calon mertuanya.


Pria itu berjalan keluar menuju mobilnya, Vira pun ikut mengantar sampai pelataran rumah yang basah karena bekas hujan.


"Aku pulang..." kata Firlan sebelum masuk ke mobilnya.


"Hati-hati..." kata Vira.


"Pasti," Firlan masuk dan duduk di kursi kemudinya. Perlahan mobil itu bergerak, Firlan membuka kaca mobilnya sebelum melesat pergi meninggalkan rumah Vira.


Vira melihat mobil hitam yang dikendarai Firlan mulai menjauh dan kini tak terlihat lagi. Raharjo dan Dewi sudah masuk ke dalam rumah, sedangkan Vira masih menikmati suasama di luar rumah.


Jarang sekali wanita itu berdiri di deoan rumah dengan sejuta kegabutan. Banyak yang berubah terutama rumah tetangga yang sekarang sepertinya sudah banyak yang direnovasi.


.


.


Sedangkan di tempat lain. Seorang wanita yang juga tampil dengan potongan rambut pendek duduk sendirian di sebuah cafe.


"Hai, Zan!" sapa seorang wanita yang menarik kursi di depan Zanna dan mendudukinya.


"Punya kamu, udah aku pesenin tadi..." kata Zanna.


"Makasih..."


"Ada apa nyuruh aku kesini? tumben..." tanya Zanna pada wanita itu.


"Ada yang mau aku omongin, Zan..."


"Omongin? apaan? biasanya juga ngkmong di tempat les, Fid..." kata Zanna.


"Ya kan kita lagi libur panjang, jadi nggak ketemu juga kan..." kata Fidya.


"Ya udah mau ngomong apa?" tanya Zanna sembari menyeruput minumannya.


"Zan, beberapa hari yang ada kejadian apa antara kamu, kak Vira dan juga pacarnya kak Vira?"


"Apa? kejadian apa?" Zanna bertanya balik pada Fidya.


"Aku kemarin lagi ngecekin cctv, soalnya kan tempat lesau ditinggal beberapa hari. Jadi akuau mastikn kalau cctv itu menyimpan semua data recording. Tapi aku nggak sengaja ngeliat rekaman saat kamu sama pacarnya kak Vira yang keliatan lagi pelukan pas lampu dinyalain, terus aku liat kak Vira pergi ninggalin kalian..." tutur Fidya.


"Bukannya aku udah bilang sa kamu ya Zan? menyukai pria yang sudah jadi milik orang lain iti resiko..."


"Jangan nuduh sembarangan, Fid!" kata Zanna.


"Aku nggak nuduh, aku cuma nanya. Dan aku ngingetin ... barangkali kamu lupa. Kak Vora udah baik banget sama kita, bagaimana pun kita kerja sama dia, Zan. Dia bos kita, kamu nggak boleh ngelakuin hal kayak gitu, itu bisa ngehancurin hubungan mereka..." kata Fidya.


"Aku ngaco, Fid! aku nggak tau apa-apa, dia yang meluk aku..."

__ADS_1


"Tapi dengan penampilan kamu yang seperti ini dari belakang saja orang bisa mengira kamu itu seperti kak Vira. Kenapa kamu potong rambut persis seperti kak Vira kalau ku emang nggak ada niat aneh-aneh..." ucap Fidya.


...----------------...


__ADS_2