
Vira cemberut saat dipanggil ayam oleh Firlan.
"Iya iya aku minta maaf..." kata Firlan.
"Udah dong, nggak usah cemberut gitu. Jelek tau!" lanjut pria itu.
"Abisnya ngeselin!" ucap Vira yang dengan kesal memasukkan udang ke dalam mulutnya.
"Makan lagi, ini kepitingnya masih banyak..."ucap Firlan yang kini mengaduk minumanny dengan sedotan.
"Enak nggak?" tanya Vira.
"Apanya?"
"Minumannya..." ucap Vira gemas.
"Kan kalau kamu bikin minuman nggak pernah gagal," ucap Firlan.
"Aiiiihh, bilang enak aja susah banget!" gerutu Vira.
"Bukan enak tapi seger, pas dengan makanan yang kita makan sekarang..." ucap Firlan, ia meminum lagi minuman berwarna biru itu.
"Kita kayak pasangan baru menikah ya, masak bareng dan makan berdua..." kata Firlan.
"Iya ... kamu yakin mau nikah sama aku yang kalau masak pasti selalu gosong?" tanya Vira.
"Tinggal beli di luar, atau suruh orang buat masak dan kalau aku lagi nggak capek ya aku juga bisa masak..." ucap Firlan.
"Sekarang bilang gitu, nanti pas udah nikah kamu protes. Kan biasanya kan kalau masa pacaran gitu yang diliatin yang baik-baik, eh pas udah nikah keluar deh segala tuntutan dan sifat jeleknya" ledek Vira.
"Ya terserah kamu mau percaya sama aku atau nggak. Yang jelas, kamu cuma jadi perlu jadi istriku, urusan masak memasak nggak usah dipikirin. Aku nyari istri bukan nyari pembantu, yang penting kita bisa maklumin itu aja..." kata Firlan.
"Kita liat nanti kamu konsisten apa nggak dengan ucapanmu itu, Ay..." kata Vira.
"Yang namanya nikah pasti ada aja konfliknya, selama orang masih bisa bernafas, pasti mengalami yang namanya masalah. Dan aku nggak bisa janji kita akan mulus dari masalah itu, tapi yanng jelas aku mau kamu disampingku apapun keadaannya, dan kalau ada masalah jangan main kabur. Selain masalah bisa jadi berlarut-larut, kalau kamu ngilang atau kabur juga bikin aku pusing!" kata Firlan.
"Iya iya..." sahut Vira.
__ADS_1
"Udahlah, jangan bahas yang serius-serius kepalaku kliyengan!" kata Vira lagi.
"Loh, kan tadi kamu yang mulai bahas seauatu yabg serius, aku kan cuma jawab..." ujar Firlan.
Setelah selesai menikmatiakan siangnya, Vira dan Firlan pun kompak membersihkan bekas makan mereka. Semua makanan ludes tak tersisa. Firlan yang orangnya serius seperti itu ternyata mempunyai bakat terpendam, memasak.
Banyak hal yang baru membuat hubungan mereka yang semua diisi dengan pertikaian kini mulai semakin membaik. Firlan telah banyak berubah, sekarang hanya Vira yang perlu memantapkan hatinya supaya bisa bertekad menaklukan hati calon mertuanya yang sudah pasti jutek dan rewel.
.
.
Sekarang Vira sedang duduk di sofa sedangkan Firlan berbaring dan menaruh kepalanya di pangkuan Vira.
"Jangan ganti-ganti mulu napa, Ay!" kata Vira yang gemes melihat Firlan mengganti channel tivi.
"Nih, barangkali kamu mau nonton yang lain," ucap Firlan sambil menikmati rambutnya yang di usap lembut oleh Vira.
"Iya gitu, Ay. Kepalaku jadi enak banget rasanya, nyaman..." ucap Firlan yang kini memejamkan matanya.
"Enak juga tangan kamu, Vir. Iya bener kayak gitu..." ucap Firlan.
"Ya enak lah, gratis lagi..."
"Beneran, aku nggak bohong. Rasanya enak kali kalau habis kerja terus dikayak giniin sama istri. Rasa papek seharian ngadepin bos sengklek itu, bisa hilang seketika. Ya terus kayak gitu, Ay..." ucap Firlan.
"Kalau kerja sama orang ya kayak gitu. Apalagi kamu orang kepercayaan di perusahaan, Ay. Pasti kamu lebih capek daripada yang punya perusahaan, karena semua kamu yang handle. Aku sih nggak akan bisa tahan kalau jadi kamu, Ay..." kata Vira.
"Emang, semua aku yang urusin. Aku juga nggak tau kenapa aku bisa selama itu kerja di disana..." suara Firlan mulai lirih menanggapi ucapan Vira.
Dan tak lama pria itu pun tertidur dipangkuan kekasihnya. Vira yang semula memijit kepala Firlan mendadak berhenti setelah mengetahui pria itu sudah terbang ke alam mimpi.
"Hadeh, lama-lama pegel juga..." Vira meregangkan otot-otot tangannya.
"Kalau lagi tidur begini, kalem. Tapi begitu matanya melek, beuh vibes nyuruh-nyuruh dan maksanya keluar seketika. Awalnya aku ragu buat nerima kamu lagi, aku nggak suka kamu yang dulu, yang selalu egois. Tapi syukurlah sekarang kamu udah mulai berubah, dan semoga itu akan bertahan selamanya..." lirih Vira sembari mengelus wajah Firlan dan ia mendaratkan satu kecupan di kening pria itu.
"Hadeh, aku kaki ku pegel di jadiin bantal begini," kata Vira, perlahan ia beranjak dan menaruh kepala Firlan diatas bantal sofa yang empuk.
__ADS_1
Vira meregangkan tubuhnya, dia merasakan pinggangnya sangat pegal.
"Aku pengen mangga, ah!" Vira berjalan ke arah dapur. Ia membuka lemari pendingin yang super besar, dan mengambil satu buah mangga yang tadi sempat ia letakkan disana.
Vira mengupas mangga dan menaruhnya di sebuah wadah. Ia memgambi garpu kemudian kembali ke ruang tivi.
"Masih tidur..." gumam Vira melihat Firlan tidur sangat nyenyak.
"Dia nggak pernah tidur siang kali ya, dipijet sebentar aja udah wuss ngilang ke alam mimpi..." ucap Vira.
Vira duduk di karpet dengan punggungnya bersandar pada sofa yang ditiduri Firlan.
Wanita itu memasukkan buah ke dalam mulutnya, rasa manis langsung menyapa indera perasanya.
"Nggak salah pilih emang, bisa manis kayak loh!" Vira memuji dirinya sendiri.
Dengan lincah tangannya memijit channel tivi, setelah menghabiskan satu mangkok mangga kupas, wanita itu tertidur dengan posisi duduk.
Setelah kurang lebih satu jam, Firlan tertidur. Ia mulai mengerjapkan matanya. Dan menyadari kalau kepala Vira mendongak, wanita itu tidur sambil duduk.
"Astaga, kenapa kamu tidur seperti itu?" gumam Firlan. Dia perlahan bangun dan membopong tubuh Vira ke dalam kamarnya.
Firlan meletakkan Vira dengan perlahan di atas kasur empuknya, dia menyelimuti setengah badan wanita itu.
"Tidurlah, aku akan tunggu di luar..." ucap Firlan yang kembali ke ruang tivi. Baru juga duduk, Firlan beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur untuk membuat kopi yang dicampur dengan creamer.
Ia menyeduh minumannya dengan air panas, dan membawanya ke ruang tivi. Ketika melihat ke bawah, Firlan melihat satu mangkok tergeletak di atas karpet.
"Habis makan buah rupanya," gumam Firkan. Ia meletakkan mangkok itu diatas meja.
Pria itu duduk sambil menikmati kopi yang masih sangat panas, bau harum dari kopi yang diseduh langsung memenuhi ruangan yang sangat dingin itu.
"Kepalaku rasamya ringan banget," Firlan menyentuh kepalanya sendiri. Dia merasa lebih baik setelah mendapat pijatan lembut dari kekasihnya.
"Aku bikin sesuatu buat dia apa ya? bangun tidur pasti laper tuh ayamku..." ucap Firlan.
...----------------...
__ADS_1