
Selepas Fidya pergi, Zanna termenung di cafe itu sendirian.
"Bener kata Fidya, kenapa aku jadi kayak gini ya? aku suka sama orang yang udah punya oranglain," gumam Zanna.
"Pasti kak Vira kesel dan kecewa banget ya, sampai sakit gitu. Ini semua salah aku, aku yang pengen mengambil apa yang dia miliki. Walaupun aku udah merubah penampilan, tapi kita berdua orang yang berbeda..." Zanna berdialog dengan dirinya sendiri.
"Aku harus minta maaf..." ucap Zanna seraya menghela nafas panjang.
Wanita itu beranjak dari duduknya, ia pergi setelah membayar minumannya.
Sementara Firlan pulang ke rumah ibunya setelah ia mengambil koper dari apartemennya. Beruntung dia tidak bertemu dengan Andini. Wanita itu mungkin sudah bosan mengganggunya atau dia memang jarang menempati unit yang ia beli atau ia sewa yang letakknya persis di samping unit milik Firlan.
Firlan sampai di rumah ibunya tepat jam 8 malam, dia memarkirkan mobilnya di garasi dan masuk ke dalam rumah.
"Ibu dimana, Bik?" tanya Firlan ketika melihat bik Surti di ruang keluarga membereskan beberapa buku bacaan.
"Ada di ruang makan," jawab bik Surti.
"Mas Firlan, sini biar kopernya bibik bawakan..." kata bik Surti yang melihat koper yang ada di tangan Firlan.
"Taruh di kamar saya ya, Bik?" kata Firlan, bik Surti mengiyakan ucapan Firlan lalu pergi menuju lantai atas.
Sedangkan pria itu menghampiri ibunya di ruang tamu.
"Assalamualaikum, Bu..." sapa Firlan.
"Waalaikumsalam,"
"Tumben malam kesini, Lan? ada apa lagi?" tanya Ratna.
"Ya ampun ibu, anak dateng malah ditanya ada apa lagi? minimal ditanya kabar dulu..."
"Kan udah keliatan sehat walafiat," sahut Ratna.
"Ibu nggak lupa kan besok kita..."
"Nggak lupa, kecuali sudah ganti calon yang mau dilamar!" serobot Ratna yang menyudahi makan salad buahnya.
"Ya nggak lah, Bu. Masa iya ganti calon? oh ya, Firlan nginep disini, biar besok bisa pagi-pqgi perginya..." kata Firlan.
"Ya atur saja..." ucap Ratna yang tidak mau repot. Karena sejujurnya dia belum bisa begutu menerima gadis pilihan putranya.
"Ya sudah, aku ke atas ya, Bu. Mau istirahat, aku capek banget..." kata Firlan.
"Kamu nggak mau makan dulu?" tanya Ratna.
"Aku nggak lapar, aku udah ngantuk banget..." sahut Firlan, pria itu naik ke lantai atas.
__ADS_1
Ratna hanya bisa menghela nafas panjang
"Kita lihat saja nanti, bagaimana wanita pilihanmu itu, Lan. Semoga tidak mengecewakan..." lirih Ratna.
Firlan yang sudah sangat lelah melemparkan dirinya ke atas kasur. Rasanya nyaman sekali. Dia kini memejamkan matanya. Namun matanya terbuka tiba-tiba saat ia melupakan sesuatu.
Firlan segera mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu untuk kekasihnya, mengabarkan kalau ia sekarang sudah di rumah dan akan beristirahat.
.
.
Pagi harinya, di kediaman Raharjo semuanya sedang riweuh menyiapkan acara lamaran. Dewi mendekor sedikit ruang tamunya dengan bunga-bunga hidup. Wangi bunga membuat sensasi yang menenangkan di rumah itu.
Dewi juga sudah menyiapkan catering untuk menjamu calon menantu dan besannya.
"Jangan lupa siapkan piring di meja makan..." kata Dewi.
"Siap, Bu..." kata pegawai di restoran yang sengaja ia suruh datang ke rumah untuk bantu-bantu.
Dewi sekarang ke kamarnya melihat suaminya.
"Papa pakai batik ini saja ya, Mah?" ucap Raharjo.
"Boleh, Paa. Kebetulan warnanya senada dengan punyaa mama juga..." kata Dewi sembari mengancing lengan baju suaminya yang belum sempat terkancing.
"Belum, lagi di dandanin dikit biar cantik. Ini mama mau tengokin, barangkali alisnya pindah ke pipi, atau dandanannya terlalu menor, biar disuruh hapus dan di ulang lagi..." seloroh Dewi.
"Mama ini bisa saja, masa iya alis pindah ke pipi segala, hahahaha..." kata Raharjo.
"Ya kan barangkali, Paah. Ya sudah, mama mau lihat Vira dulu..." kata Dewi, seraya merapikan kerah baju suaminya, lalu ia pergi meninggalkan Raharjo yang masih di dalam kamarnya.
Dewi melangkah ke kamar putrinya, ia mengetuk pintu kamar itu beberapa kali sebelum akhirnya ada suara yang cukup nyaring.
"Masuk ajaaaaa..." kata Vira dari dalam.
Dewi mendekat dan melihat putrinya sedang dirias.
"Kenapa, Maa?" tanya Vira saat Dewi menatapnya tak berkedip.
"Nggak apa-apa, kamu beneran anak saya?" tanya Dewi.
"Ya ampun, Maaa. Mama nggak amnesia kan? ini Vira, Maaa. Mbak mama saya kenapa ini? kok jadi begini?" tanya Vira pada periasnya yang hanya cekikikan. Wanita itu berdiri dan memegang kedua bahu Dewi.
"Ih, si Mbak! ditanyain malah ketawa! tolongin ini!"
"Mama nggak apa-apa kan? Mama habis jatuh atau tadi habis kebentur apa? masa nggak inget sih, Maaa ini Vira. Mama udah punya anak, bukan anak gadis lagi!" kata Vira menatap ibunya cemas.
__ADS_1
Dewi yang melihat anaknya begitu lebay dan heboh pun tak bisa menahan tawanya.
"Hahahhaah, astaga, Vira ... Vira. Mama baru ngomong satu kalimat kamu udah nyerocos kayak kereta api. Maksud mama kamu ini nggam kayak Vira yang biasanya yang petakilan dan slengean. Ini dandan begini kok cantik dan kalem banget, apalagi dengan kebaya brukat warna pink ini, bikin kamu tambah kalem. Udah bener tadi diem anteng begitu, jangan ngomong biar aura keanggunan kamu nggak rusak..." kata Dewi.
Vira hanya melongo, jadi mama nya ini tifak sedang hilang ingatan. Dia hanya terpesona oleh kecantikan anaknya yang memakai sanggul modern dan kebaya yang menampilkan lekuk tubuhnya.
"Mbak Vira duduk lagi, ya ... riasannya mau dirapihkan lagi..." kata si mbak perias.
"Kamj lanjutkan lagi, biar maksimal. Alhamdulillah nggak menor seperti bayangan mama. Mama keluar dulu..." kata Dewi yang merasa lega ketika melihat riasan wajah Vira yang minimalis tapi membuat anaknya twrlihat sangat berbeda.
Sedangkan di tempat lain. Gia terus saja merengek ingin bertemu dengan Vira. Dia ingin mengetahui keadaan wanita yang sangat dekat secara emosional dengannya.
"Piiiihhh, bangun Piiiiiih..." Gia naik ke tempat tidur Gusti.
Tidak seperti biasanya pria gagah itu masih menyembunyikan diri di balik selimut.
"Piiiiiihhhh, Gia mau jengukin tante Vira..
" Gia menggoyang-goyangkan bahu ayahnya.
"Tante Viranya sakit, Gia. Dia butuh istirahat..." Gusti bangun dan duduk. Ia melihat wajah Gia yang penuh harap.
Semalam Gusti tak bisa tidur karena dia mendapat info kalau hari ini Vira akan melaksanakan pertunangannya dengan Firlan. Ternyata pria itu tidak asal sesumbar, dia memang benar-benar akan menjadi calon suami Vira. Dan itu cukup membuat Gusti sangat kacau.
"Papiiih..."
"Nanti saja ya, Gia. Papi sedang tidak enak badan, nanti kita jengukin tante Vira tapi tidak hari ini ya, Sayang? nanti malah tante Vira ketularan papi..."
"Tapi bener, ya? kita akan jengukin tante Vira. Papi nggak bohong, kan?" ucap Gia.
"Papi nggam bohong, Sayang! kita akan jenguk tante Vira kalau papi sudah sehat. Gia luhat wajah papi, pucat tidak?" tanya Gusti.
"Sedikit..." sahut Gia.
"Nah, makanya papi juga harus istirahat supaya bisa sehat lagi, oke?" Gustienunjukkan telapak tangannya, dan Gia langsung menyambut nya dengan menepuk embggunakan tangan kecilnya.
"Ya sudah, Papi istirahat. Gia akan keluar dan main dengan Penny..." kata Gia.
"Hati-hati, Sayang..." ucap Gusti, yang sebenarnya tidak ingin membohongi Gia. Namun ia bisa apa, dia tidak mungkin menfajak gadis kecil itu ke rumah orangtua Vira untuk menemui wanita yang mungkin sedang melaksanakan acara lamarannya.
Dan ketika pikirannya melanglang buana, ada panggilan masuk.
"Hey, Varo! aku di Indonesia, cepat temui aku!" ucap seorang wanita yang sangat familiar.
"Kaylee?" lirih Gusti.
"Cepatlah, nanti siang temui aku! awas kalau kau tidak datang! bye!" ucap wanita itu.
__ADS_1
...----------------...