
Yasmine tersenyum miring kala melihat wajah keras Kaviar. Yasmine yakin kalau ucapannya tadi mampu membuat harga diri Sang Putra Mahkota tersentil.
Kecuali kalau Kaviar tidak memilikinya, Yasmine pun tidak tahu dengan cara apa lagi dia menyadarkan Kaviar, kalau sampai kapan pun dia tidak akan pernah termakan bujuk rayu buaya gurun macam dia.
"Apa yang kau katakan Putri! ucapan mu itu terdengar begitu merendahkan harga diri Putra Mahkota kami!"
Yasmine mengalihkan atensinya ke arah lain, tepatnya pada pria yang duduk berdampingan dengan Kaviar. Sang Princess yakin kalau pria tua itu adalah salah satu bagian keluarga Bangsawan Abraham.
"Apa kau merasa di rendahkan oleh ku, Putra Mahkota?" tanya Yasmine.
Sang Princess tidak menanggapi ucapan pria tua itu, dia justru memberikan satu pertanyaan pada Kaviar. Yasmine ingin mendengar secara langsung dari mulut Kaviar, apa pria berjambang itu memang merasa di rendahkan olehnya atau tidak.
"Kau menyakiti hatiku, Princess," ujar Kaviar penuh drama.
Sang Putra Mahkota keluarga Abraham itu memegangi sebelah dadanya, seolah memang ada luka yang diberikan Yasmine padanya. Bahkan dengan tidak tahu malu, Kaviar tersenyum menggoda pada Yasmine, membuat wanita bergaun selutut itu memutar bola matanya jijik.
"Kau benar benar tidak tahu malu ya!" cemo'oh Yasmine.
Dia membalas senyuman menggoda Kaviar dengan senyuman miring dan mencemo'oh. Yasmine tidak habis pikir, kenapa pria itu begitu kekeuh tebar pesona demi mendapatkan perhatiaannya. Padahal Kaviar tahu sendiri, kalau dia sudah dimiliki oleh orang lain. Apa Kaviar tidak bisa mendapatkan wanita yang dia inginkan? bukannya harta, tahta, rupa, dan segalanya sudah dia miliki.
"Jaga ucapan mu Putri Yasmine, kau sudah sangat keterlaluan! kami pastikan kalau keluarga Abraham akan meng-,"
__ADS_1
"Jaga nada bicara-mu pada istriku!" tukas Elvier yang sedari terdiam.
"Istriku tidak sebanding dengan-mu!" sambungnya.
Elvier menatap tajam pada bawahan Kaviar, dia tidak menerima kalau pria tua itu meninggikan suara pada Sang Princess. Karena dia saja tidak pernah melakukan hal itu, biarpun emosinya selalu naik karena kejahilan wanitanya.
Elvier tidak pernah membentak apa lagi bermain tangan dengan Sang Princess, karena baginya hanya pria bermental kerupuk yang berani melakukan hal itu pada seorang wanita.
"Dan sepertinya, tidak ada lagi yang penting di sini. Kalau kalian belum puas, silahkan cari kebenarannya- aku bahkan akan senang hati memberikannya." ucap Elvier begitu serius.
Sudah cukup Yasmine selalu di salahkan oleh para petinggi kedua keluarga bangsawan, Elvier tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh miliknya.
Suara seorang pria dari arah pintu masuk, membuat Elvier dan Yasmine menoleh- begitu pula dengan Kaviar dan yang lainnya. Yasmine bahkan menggenggam erat lengan suaminya- karena gugup. Dia tidak menyangka kalau Papinya akan sampai di tempat ini- dengan Galaska.
Bahkan Murad- salah satu pengawal setia Elvier terlihat menelan saliva susah payah, kala melihat tatapan tajam sang Nyonya Elvier. Pria muda itu sudah berusaha sebisa mungkin untuk menahan, bahkan mengalihkan perhatian Gentala. Tapi karena ulah Galaska, semua usahanya sia sia. Pria setengah baya itu mengikuti saran Galaska untuk mencari Yasmine terlebih, sebelum mereka pergi ke Burj Khalifa- seperti yang di inginkan para wanita keluarga Prayoga. Padahal Murad sudah mengatakan kalau dia akan menyampaikan pesan mereka pada Sang Nyonya Elvier.
"Papa mertua, disini tidak baik untuk mu. Jadi ayo kita kel-,"
Ucapan Elvier terhenti kala melihat Gentala mengangkat sebelah tangannya. Pria setengah baya itu semakin mengikis jarak dengan Yasmine dan Elvier, di ikuti oleh Galaska dan Murad.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada mereka Sayang, kenapa Princess Papi di hakimi seperti ini hm?" ucap Gentala pelan.
__ADS_1
Satu tangannya merangkul pundak Sang Princess, bahkan tanpa sungkan Gentala memberikan satu kecupan pada Putrinya.
"Enggak ngapa ngapain Pi, Yas cuma bikin putri keluarga Abraham sekarat." celetuk Yasmine tanpa beban.
"Itu karena Zoyya berani masuk ke kamar Yas, terus meluk El yang lagi mandi. Masih untung cuma sekarat, aku berharapnya dia masuk kuburan." sambung Yasmine.
Wanita itu dengan cepat berbicara kembali, sebelum Gentala mendahuluinya.
Lalu apa tanggapan pria setengah baya itu? Gentala malah menyunggingkan senyuman miringnya pada Yasmine.
"Bagus! itu baru wanitanya Prayoga!"
GEMESZZ PINGIN JAMBAK
YUHUUU PART TERAKHIR YAAA
SEE YOU NEXT TOMORROW
BABAYYY MUUAACCHH
__ADS_1