Jerat Cinta Sang Player

Jerat Cinta Sang Player
Kejutan Besar


__ADS_3

Ommar menghela napas kasar, saat melihat seorang wanita tengah tertawa kecil di sebuah kamar isolasi. Sudah satu minggu berlalu dari kejadian na'as itu, kini keluarga Albarack dibuat heboh karena Sang Permaisuri mengalami depresi hebat- karena kehilangan Putra Mahkota.


Lavera bahkan harus di rawat di ruang khusus, karena sering mengamuk. Wanita itu akan melemparkan apa saja pada orang yang mendekat, sembari mengatakan,


'Jangan sakiti putraku sialan!' 


"Tuanku?"


Ommar mengangguk, dia segera pergi meninggalkan ruang rawat istrinya, di ikuti oleh Yaser. Ommar menyerahkan semua pengobatan Sang Permaisuri kepada dokter pilihan. Ommar berharap, psikis Lavera akan segera pulih dan bisa menyadari segala kesalahannya selama ini- terutama pada Elvier dan Yasmine.


"Pangeran Kedua dan Putri Yasmine, ada diruangan Selir Haraya- Tuanku,"


Ommar menoleh, lalu mengangguk pelan. Pria paruh baya itu segera mempercepat langkahnya menuju tempat dimana Haraya di rawat.


Kenapa Haraya juga bisa berada ditempat yang sama dengan Lavera? jawabannya- karena Haraya pun mengalami hal yang sama dengan Lavera. Depresinya kembali kambuh, dan kini malah bertambah parah. Haraya bahkan beberapa kali hendak melakukan percobaan bunuh diri- namun para perawat berhasil mencegahnya.


Alhasil- sekarang Haraya terpaksa si ikat. Lebih tepatnya kedua tangan Haraya terikat kuat di besi penyangga tempat tidurnya.


"Tuanku?" seru salah satu pengawal.


Elvier dan Yasmine yang sedari tadi fokus mendengar penuturan dokter- menoleh, sepasang suami istri itu mengernyit saat melihat Ommar tengah berjalan tergesa ke arah mereka.


"Bagaimana?" tanya Ommar.


"Tidak baik, pihak hukum tidak akan mau menjerat wanita gila seperti menantu ketiga Ayah." cetus Elvier.


Ommar menghela napas kasar, dia sudah menduga kalau hal ini pasti akan terjadi. Mungkin kalau keluarga Albarack akan merelakan Haraya di sembuhkan terlebih dahulu- sebelum wanita itu mendapat hukuman. Tapi tidak untuk Abraham, keluarga mereka menuntut hukuman mati untuk Haraya- dan pengadilan mengabulkannya.


"Kalian pulanglah, bukannya Putri Yasmine merasa kurang enak badan, tadi?" Ommar mengabaikan ucapan pedas putra semata wayangnya.


"Cuma sedikit lemas Ayah mertua, nanti aku dan El akan pulang." ucap Yasmine pelan dan lebih sopan.

__ADS_1


Wajah Sang Princess memang terlihat pucat. Beberapa hari ini Yasmine memang merasa ada yang salah dengan tubuhnya. Kedua Payu*da*ranya terasa linu dan sakit, bahkan rasanya lebih mengembang dari biasanya.


Selain itu, Yasmine juga sering mengalami kram perut dan merasa malas untuk bergerak- namun Yasmine tidak pernah membicarakan ini pada Elvier.


"Ayo kita pulang Mine, kau tidak dengar- kalau kita sudah diusir," celetuk Elvier.


Ommar menghela napas, saat mendengar ucapan putranya. Elvier memang tidak pernah berubah saat berbicara dengannya, walaupun hubungan keduanya semakin membaik.


"Ya ya pulanglah sana!" usir Ommar.


Sang Tuan Bangsawan menepuk pundak Elvier agak sedikit kencang, sebelum pria paruh baya itu melangkah menjauh.


                            🐎🐎🐎


Sepanjang perjalanan Elvier tidak henti hentinya mengecupi punggung hingga telapak tangan Yasmine. Raut wajah bahagianya tidak dapat dia sembunyikan lagi.


Selepas mereka pulang dari rumah sakit jiwa, Elvier sengaja membawa Yasmine ke salah satu klinik, guna memeriksa kesehatan Sang Princess. Tapi ternyata, Elvier malah mendapat kejutan besar- sang dokter mengatakan kalau Yasmine kelelahan dan harus beristirahat total- demi janin yang sedang dikandungnya.


Elvier sempat loading, saat mendengar kata janin. Namun saat sang dokter menjelaskan, dan Yasmine tiba tiba memeluknya- kesadaran Elvier kembali pulih.


Yasmine terus saja menempel- ralat bukan Yasmine yang terus menempel, melainkan Elvier yang sengaja menempelkan tubuh Yasmine padanya.


Tidak lama kemudian keduanya sampai di area istana. Para penjaga menunduk saat melihat mobil Ferarri kuning yang Elvier dan Yasmine naiki melewati mereka.


Elvier masih mengembangkan senyum, saat mereka keluar dari dalam mobil. Bahkan Elvier segera membukakan pintu mobil untuk Sang Princess. Menuntun Yasmine keluar dari dalam mobil dengan hati hati, seakan kalau Yasmine itu sebuah kristal mahal yang mudah rusak.


"Mau ku gendong?"


Yasmine menggelengkan kepala, ayolah dia belum lumpuh kenapa harus di gendong.


"Ayolah Mine, biarkan aku menggendongmu," rayunya.

__ADS_1


"Enggak El! aku masih kuat jalan," tolak Yasmine.


"Ayolah Baby, kau pasti lelahkan?" rayunya lagi.


"El, jangan bikin keki deh!" Yasmine mulai terpancing.


Namun sepertinya Elvier belum menyerah, dia kembali mendekat pada si calon ibu muda itu. Kedua tangannya sudah merengkuh Yasmine dari belakang, seakan tidak ingin melepaskannya lagi.


"El!" Yasmine memberontak saat Elvier mulai mengecupi tengkuknya.


"Ayolah,"


"El jangan ngajak debat ya!"


"Ayolah Sayang," rayunya lagi pantang menyerah.


"Aku marah ya kalau kamu maksa kayak gini!" ancamnya, namun sepertinya tidak dapat membuat Elvier menyerah.


"Aku hanya ingin mengen-,"


"Kalian sudah pulang? bagus!"


Ucapan Elvier terhenti, saat mendengar suara seorang pria yang sangat mereka kenali.


"Papi!"


"Papa Mertua!"


Ucap keduanya serempak, bahkan Yasmine masih sempat melirik pada Elvier. Namun karena Yasmine melihat Elvier diam karena terkejut, dia yakin kalau ini bukan kejutan dari suaminya.


Kenapa perasaan Yasmine jadi tidak enak begini?

__ADS_1



MAKAN YANG BANYAK BUMIL 😘😘😘😘


__ADS_2