Jerat Cinta Sang Player

Jerat Cinta Sang Player
Selangkah Lebih Mesra


__ADS_3

Yasmine meringis sendiri kala dia mengobati luka di dahi Elvier, padahal orang yang dia obati terlihat biasa saja.


"Sakit?" tanya Yasmine penasaran.


Elvier tersenyum tipis,"Hanya orang sinting yang bilang tidak." sahut Elvier.


Yasmine membuka mulutnya lebar mendengar ucapan suaminya, Elvier membalikan kata kata yang pernah dia ucapkan.


"Gak kreatif, masa kata katanya ngikutin aku!" ketus Yasmine.


Bahkan tekanan tangannya di dahi Elvier menguat, membuat pria jangkung itu sedikit meringis.


"Lagian kok bisa sih Hisan jatuh, bukannya kata kamu Hisan adalah Kuda pelari. Tapi kok bisa dia-,"


"Hisan kelelahan dan belum siap setelah lama vakum, Mine. Dia masih butuh pemanasan dan latihan otot lagi seperti dulu." Elvier menyela cepat ucapan Yasmine, sebelum gadis itu semakin berceloteh panjang lebar.


"Ssstt- pelan pelan Mine!" protes Elvier.


Pria jangkung itu melotot tajam pada istrinya, gadis ini benar benar kejam bukan. Sudah tahu dahinya terluka, Yasmine malah dengan sengaja menekannya.


Yasmine tidak peduli dengan ringisan suaminya, sang gadis tetap mengobati luka di dahi Elvier dengan obat yang di bawakan oleh salah satu penjaga.


"Lain kali kalau memang belum siap, enggak usah gaya gaya'an nerima tantangan Jin Gurun itu! menang enggak nyusruk iya!" sarkas Yasmine.


Gadis itu sedikit kesal pada Elvier, ternyata apa yang dia khawatirkan tadi terjadi juga. Elvier terluka saat menerima tantangan berkuda dari Kaviar.


Elvier terdiam, sepertinya pria ini lebih menikmati ocehan sang Princess dari pada ikut berbicara. Karena Elvier tahu kalau dia akan kalah saat adu mulut dengan Yasmine.


"Kamu galak," celetuk Elvier.


Sudut bibir pria jangkung itu berkedut geli saat melihat pelototan Yasmine, apa lagi saat raut wajah garang gadisnya saat ini, rasanya Elvier ingin tertawa.


"Your eyes Mr, shut your lambe!"

__ADS_1


Tatapan Yasmine terlihat sinis, mulutnya terlihat bergerak kecil seakan tengah mengomel. Namun gadis itu tidak mengeluarkan suara, hanya bibir tipis mungil semerah cherry nya saja yang bergerak.


"Mine?" panggil Elvier.


"I-,"


Belum sempat Yasmine menyahut, Elvier sudah terlebih dahulu menarik pinggang serta tengkuk Yasmine, agar sang gadis lebih mendekat padanya. Dengan jarak yang hanya tersisa dibawah 5 centi meter, keduanya bisa  merasakan hembusan napas hangat di wajah masing masing.


Bahkan Yasmine sekuat tenaga menahan napasnya, tapi kalau terlalu lama dia bisa mati kehabisan udara. Tapi kalau tidak di tahan, rasa gugupnya semakin menjadi.


'E-El?" cicit Yasmine, saat melihat Elvier semakin mendekatkan wajahnya.


Hingga akhirnya kedua hidung mancung dan minimalis tipe 36 itu, bersentuhan untuk kesekian kalinya. Sepertinya Elvier lupa kalau mereka masih ada di kandang Kuda, tepatnya di kandang Hisan.


"Aku menginginkannya," ujar serak Elvier.


Satu tangannya terulur untuk mengusap lembut permukaan wajah Yasmine. Elvier menatap sayu pada sang istri, gadisnya terlihat membiarkan dia melakukan apa pun saat ini. Yasmine belum bersuara sedikit pun untuk mengiyakan atau pun menolak keinginan suaminya.


Gadis itu masih memperhatikan raut wajah Elvier yang semakin memerah menahan gairah, Yasmine yakin kalau Sang Pangeran Terbuang menginginkan bibirnya saat ini.


"Apa?" sahut Yasmine tenang.


Kedua sudut bibirnya terangkat saat melihat Elvier memejamkan kedua mata, lalu menjauhkan diri dari Yasmine dengan raut wajah masam. Namun belum sempat Elvier menjauh, Yasmine sudah terlebih dahulu menarik leher bagian belakang Elvier dengan kedua tangannya.


"Kenapa?" tanya Yasmine pelan.


Dengan berani gadis itu menyeka keringat yang ada di dahi suaminya, dengan lembut dan perlahan.


"Aku tidak peduli kalau Burak akan mencibirku nanti!" gumam Elvier.


Dan seperdetik kemudian, kedua bibir Yasmine dan Elvier bertemu. Hanya menempel, tidak ada gerakan sama sekali. Keduanya masih meresapi perasaan yang tengah melanda jiwa. Bahkan Elvier yang tadinya nekat pun terdiam, pria jangkung itu masih meresapi betapa manis bibir sang Princess, padahal hanya menempel.


"Kalau kamu enggak gerak, mending lepasin." gumam Yasmine.

__ADS_1


Bahkan saat dia bergumam, bibirnya ikut bergerak menghantarkan gelayar panas pada dada Elvier. Namun pria jangkung itu tidak kunjung bergerak, membuat Yasmine memutuskan untuk menjauhkan bibir mereka berdua.


Tapi belum sempat menjauh, Elvier sudah terlebih dahulu meraup bibir tipis Yasmine dengan lembut namun menuntut. Bahkan Elvier terus saja menekan tengkuk sang gadis agar tautan bibir mereka semakin dalam.


Entah insting atau memang sudah paham, perlahan satu tangan Yasmine meremas kepala belakang Elvier membuat pria berdarah Arab Turki itu menggeram pelan.


Keduanya larut dalam ciuman perdana yang memabukkan, saling menyalurkan rasa lewat kecupan, decapan, dan lu*matan. Bahkan kini Yasmine sudah berada di atas pangkuan Elvier tanpa sungkan, keduanya sampai lupa kalau saat ini Hisan juga ada di sana.


Salah! bukan hanya Hisan, ternyata Ommar, Yaser dan Kaviar pun ada di tempat itu. Ketiganya hanya mematung saat melihat sepasang suami istri itu tengah berciuman mesra.


"Suruh mereka berdua menemui ku, kalau sudah selesai!" titah Sang Tuan Bangsawan, sebelum dia berbalik meninggalkan kandang Hisan.


"Baik Tuan ku!" sahut Yaser patuh.


Sedangkan Kaviar, sang Putra Mahkota keluarga Abraham itu mengumpat berkali kali di dalam hati, saat melihat Elvier begitu menikmati bibir merah milik Yasmine.


'Awas saja kau Pangeran sialan!' umpatnya lagi, sebelum Kaviar pergi meninggalkan kedua sejoli itu. Menyusul langkah cepat Ommar dan Yaser- tangan kanan keluarga Albarack.



**DINGIN BANGET TUH MUKA BANG


HOLLA ASSALAMUALAIKUM MET PAGI EPRIBADEH


GIMANA KABAR HARI INI


PUASA LANCAR


UDAH PADA SAHUR


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA YA


SEE YOU NEXT PART

__ADS_1


MUUAACHH**


__ADS_2