Jerat Cinta Sang Player

Jerat Cinta Sang Player
Cangkok Hati


__ADS_3

Elvier menghela napas pelan, kedua tangannya saling bertautan erat. Hari ini dia akan melakukan operasi cangkok hati- lebih tepatnya satu jam kedepan.


Kedua netra setajam Elangnya terus saja memindai Yasmine yang tengah berbicara dengan dokter. Ahmet dan Burak pun terlihat sudah ada di ruangan ini, Paman dan saudara sepupu sekaligus asistennya itu ikut menyimak apa yang sedang di jelaskan oleh dokter.


"Kalau begitu saya permisi, kami akan mempersiapkan semuanya. Pendonor pun sepertinya sudah siap- saya harapย  Pangeran juga sudah siap."


Yasmine melirik pada Elvier yang terlihat memejamkan kedua mata di atas tempat tidur. Kedua tangannya saling bertautan, menandakan pria jangkung itu tengah gugup.


"Suamiku akan siap dok, terimakasih atas bantuannya." ucap tulus Yasmine, sebelum wanita itu berlalu dan mendekat pada Elvier. Meninggalkan sang Dokter dan Pamannya.


"Hai, are you oke?" Yasmine mendudukkan diri di dekat Elvier.


Tangannya terulur untuk mengusap wajah suaminya, napas Yasmine sedikit tercekat kala melihat Elvier menatap sendu padanya. Bahkan Sang Pangeran Kedua tidak sungkan untuk membawa tangan Yasmine ke bibirnya.


"Aku akan baik baik Mine. Aku akan bertahan demi kau." Elvier memperlihatkan senyuman tipisnya pada Yasmine.


Bibirnya tidak berhenti mengecupi punggung serta telapak tangan Yasmine. Kedua mata coklat ke abu abu'annya menatap dalam pada sang pemilik hati.


"Itu harus, kamu harus kuat demi aku."


Yasmine segera mendekap tubuh suaminya, menenggelamkan wajahnya di dada bidang yang selalu menjadi sandarannya, dikala sedih atau pun bahagia. Yasmine mendekap erat tubuh besar Elvier, seakan tidak ingin melepaskannya lagi.


๐ŸŽ


๐ŸŽ

__ADS_1


๐ŸŽ


Waktu terus bergulir, lampu ruang operasi masih menyala- menandakan kalau dokter belum selesai melakukan tugasnya. Yasmine yang sedari tadi tidak tenang, semakin di buat berantakan.


Kedua matanya terus saja mengarah pada pintu ruang operasi- dan sekilas melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Bukan jam miliknya, melainkan milik Elvier- suaminya. Entah kenapa Yasmine lebih suka dan nyaman memakai jam tangan sport pria, bukan karena harganya yang fantastis- tapi karena nyaman saat dia memakainya. Jadi jangan tanya kenapa koleksi jam tangan sport milik Elvier keluar semua dari sarangnya, setelah Yasmine hadir.


"Kenapa lama banget sih?" Yasmine bergumam pelan, namun gumamnya itu masih terdengar oleh Burak.


"Tenanglah Princess, aku yakin Vier akan baik baik saja." ucap Burak mencoba menenangkan.


Bahkan Ahmet yang tengah menunduk sembari menggumamkan doa, terlihat mengalihkan pandangannya pada Yasmine. Pria paruh baya itu menatap sendu pada keponakan menantunya.


"Berdoalah Nak, minta pada Tuhan agar semuanya berjalan baik."


Yasmine tidak menjawab- wanita itu hanya menganggukkan kepala. Jari jemarinya saling bertautan satu sama lain, bibirnya terus saja bergumam pelan- melantunkan banyak doa keselamatan untuk suaminya yang tengah berjuang antara hidup dan mati.


"Maaf Nyonya, pasien harus segera kami bawa."


Langkah Yasmine terhenti saat salah satu perawat mencegahnya mendekat, padahal Yasmine ingin sekali melihat siapa orang yang telah mendonorkan hati untuk suaminya. Karena Yasmine yakin kalau pasien yang terbaring itu bukan Elvier- dia sangat yakin.


"Apa Paman tahu siapa yang mendonorkan hatinya untuk El?"


Karena rasa penasarannya teramat tinggi, akhirnya Yasmine bertanya pada Ahmet. Rahasia ini benar benar membuatnya begitu penasaran, ingin mengetahui indentitas pendonornya saja Yasmine begitu kesulitan.


"Ayah! Princess, Vier sudah keluar!"

__ADS_1


Yasmine dan Ahmet menoleh, mata keduanya berbinar kala melihat dokter mendorong bankar yang di tempati oleh Elvier.


"Syukurlah operasinya berjalan dengan lancar, walaupun ada sedikit kendala tapi tim medis kami berhasil mengatasinya."


Yasmine dan yang lainnya mengucap banyak syukur, disaat hati mereka harap harap cemas- akhirnya kabar baik bisa mereka dengar setelah dokter keluar dari ruang operasi.


"Maaf dok, bagaimana keadaan pendonornya, apa dia juga baik baik saja?" nada bicara Yasmine terlihat begitu khawatir.


"Pendonor baik baik saja, walaupun tadi sempat lost- tapi sepertinya sang pendonor ingin melihat Pangeran Kedua berhasil menjalani operasinya."


Yasmine menghela napas lega, wanita itu mengangguk. Langkah kecilnya membawa dia mendekat pada Elvier yang belum sadarkan diri.


"Cepat sembuh, Pangeran ku," lirih Yasmine, sembari ikut mendorong ranjang rumah sakit yang di tempati suaminya.



IYA PRINCESS


***HOLLA MET PAGI EPRIBADEH


GIMANA KABAR KALIAN HARI INI


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA YA***


__ADS_1


***AIS UDAH UP MANGGA DI KEPOIN, KLIK AJA PROFIL OTHOR ATAU CARI DI PENCARIAN OKE


SEE YOU NEXT PART MUUUUAACCHH***


__ADS_2