
Elvier melangkah tegap terkesan arogan saat melewati beberapa penjaga di kediaman keluarga bangsawan Albarack.
Sementara Yasmine semakin di buat heran saat melihat para penjaga menundukkan kepala kala Elvier dan dirinya melewati mereka.
"Buka pintunya!" titah Elvier pada salah satu penjaga.
Namun sepertinya penjaga itu sedikit ragu, bukan karena dia tidak tahu siapa pria yang ada di hadapannya saat ini. Namun karena status sang pria yang sudah abu abu di keluarga Albarack. Dia hanya takut kalau melakukan kesalahan.
"Tap-,"
"Pangeran kedua?" panggilan seseorang membuat ucapan sang penjaga terhenti.
Elvier mengalihkan pandangan ke arah lain, sementara Yasmine semakin di buat bingung dengan keadaan saat ini.
Pangeran kedua?
Maksudnya bagaimana? siapa yang di panggil pangeran kedua oleh pria berjas formal yang tengah mendekat ke arah mereka.
Tidak mungkinkan kalau Elvier? bahkan lebih tidak mungkin lagi kalau orang yang sedang menjaga pintu?
"Tuanku sudah menunggu anda di ru-,"
"Antar aku ke sana!" tatah Elvier.
"Baik Pangeran! mari ikuti saya."
Elvier tidak ingin membuang waktu dan kata, dia segera meraih telapak tangan Yasmine yang terasa dingin karena masih dilanda shock.
Bahkan untuk melangkah saja Yasmine merasa tidak mampu. Semua kebenaran ini tidak pernah ada didalam ekspetasinya. Ternyata suami denda'annya ini adalah putra dari seorang sultan Dubai. Untungnya tadi Elvier sudah memberikannya alat bantu translate, jadi Yasmine bisa mengetahui apa yang tengah mereka bicarakan.
__ADS_1
Glek!
Yasmine menelan saliva susah payah, dia tidak pernah menyangka kalau ejekan Burak dan Hanna si robot adalah kenyataan dalam hidupnya.
Bahkan yang lebih parah adalah dia pernah melemparkan sepatu murahannya pada pangeran mata duitan ini.
Yasmine menghirup napasnya dalam, dia mengusahakan tubuhnya agar tidak limbung apa lagi sampai pingsan. Tanpa sadar Yasmine meremas erat telapak tangan Elvier yang kini tengah menggenggam tangannya.
"Pangeran kedua telah tiba!" seru sang pengawal.
Saat pintu besar berwarna emas itu terbuka, semua mata yang ada di dalam tertuju pada Elvier dan Yasmine. Bahkan Yasmine sedikit tersentak kala melihat beberapa penari bercadar menyambut kedatangan mereka berdua.
Kalau Yasmine terlihat begitu terpesona oleh tarian para wanita bercadar, Elvier justru menajamkan tatapannya pada pria paruh baya yang tengah tersenyum tipis padanya. Elvier dapat melihat kalau kedua pria paruh baya itu berkaca kaca, menatap sendu padanya.
"Selamat datang, Pangeran-," sambut Lavera.
"-terbuang." lanjutnya.
Bahkan Yasmine pun segera mengakhiri rasa kagumnya, saat mendengar ucapan wanita yang memakai pakaian mewah berlapis perhiasan hampir di seluruh area tubuhnya.
Pangeran terbuang?
Dahi Yasmine berkerut, gadis itu sedikit memiringkan kepalanya agar dapat melihat ekspresi wajah suaminya.
"Dan selamat datang juga untuk-,"
"Putri Yasmine, Yang Mulia." sela seseorang.
Lavera menoleh, lalu tersenyum pada pria yang menyela ucapannya tadi.
__ADS_1
"Terimakasih Jalal, ah rasanya tidak terlalu penting aku menghapal namanya, bukan? bagaimana menurutmu suamiku?" lanjut Lavera.
Ommar Albarack terlihat berdiri, langkah lebarnya membawa sang bangsawan mendekat pada Elvier dan Yasmine.
"Selamat datang Putraku, selamat datang menantuku." ucapnya pelan terkesan sendu.
Satu tangan sang bangsawan besar itu terulur untuk mengusap kepala Yasmine, namun tangan Ommar melayang di udara saat Elvier dengan sigap meraih pinggang Yasmine agar lebih mendekat padanya.
"Bisakah kalian membiarkan kami duduk terlebih dahulu. Apa istana ini sudah kekurangan kursi karena terus digerogoti tikus?" tutur Elvier, terkesan penuh sindiran.
Salah satu sudut matanya melirik pada seseorang yang sedari tadi menatap dalam padanya.
"Aku juga mengucapkan selamat datang pada adikku dan adik iparku." ucap Yazan Rasyid Albarack- Sang Putra Mahkota.
"Sebelah sini Pangeran kedua," ajak seorang pelayan pada Elvier.
Tanpa menunggu Elvier segera membawa Yasmine yang masih terdiam untuk duduk. Elvier yakin kalau saat ini Yasmine tengah shock, bahkan telapak tangan sang gadis terasa dingin. Elvier terus saja menggenggam tangan Yasmine tanpa ingin melepaskannya.
"Aku ingin berbicara empat mata dengan Ayah, sekarang!" pinta Elvier tanpa ingin ber basa basi lagi.
**BERBULU YAS, APA KAMU GAK NGILER😂😂😂
YUHUUUU JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA YA
SEE YOU NEXT TOMORROW
__ADS_1
BABAYY MUUAACCHH
SELAMAT SAHUR MARHABAN YA RAMADHAN**