Jerat Cinta Sang Player

Jerat Cinta Sang Player
Kosong


__ADS_3

Hembusan angin laut menerpa wajah Elvier, riuh gelombang ombak di lautan membuat pria berkaos tanpa lengan itu semakin memejamkan kedua matanya. Suara burung laut seperti menjadi melodi pengantar tidur untuknya.


Selama hampir satu bulan setelah kepergian Yasmine- Sang Pangeran Kedua seperti hilang arah. Setiap hari dia pergi ketempat di mana Yasmine mengalami nasib na'asnya. Bahkan Elvier sampai tidur didalam mobil semalaman hingga pagi menjelang- hanya demi harapannya. Dia berharap kalau Yasmine akan datang dan berlari ke arahnya, merentangkan kedua tangan meminta dekapan hangatnya.


Tapi ternyata semua itu hanya angan belaka, bahkan bangkai mobil Buggati mewah yang terjatuh bersama istrinya- tidak kunjung di temukan ditempat ini. Elvier sudah berusaha mencari- namun selama satu bulan ini hasil pencariannya selalu nihil. Bahkan Elvier tidak berani memberitahukan masalah ini ada keluarga istrinya, sebelum dia mendapatkan kepastian. Elvier pun belum mendapat titik terang, siapa dalang dari semua kejadian yang menimpa istrinya. Dirinya masih berduka, sangat berduka- hanya Burak dan Ahmet yang saat ini bisa dia andalkan untuk mencari siapa dalang dari semuanya.


"Kau dimana Mine? aku merindukan mu- sangat merindukan mu." lirihnya


Kedua mata Elvier terbuka, tatapannya terlihat kosong tak bernyawa. Menatap nanar ke arah lautan luas yang membentang di depan kedua matanya.


🐎


🐎


🐎


"Dia sudah sadar?" pekiknya.


"Sayang, wanita itu sudah sadar!" pekiknya lagi.


Bahkan kedua matanya berkaca kaca, dia bahagia akhirnya wanita yang dia tolong beberapa minggu belakangan ini sudah sadarkan diri.


"Syukurlah, aku akan memanggil dokter."


Pria itu segera menekan tombol yang ada di dekat tempat tidur. Mulutnya terlihat bergumam pelan, entah apa yang dia gumamkan.


"Apa kau bisa mendengar ku?"


Kedua mata indah itu perlahan terbuka, sedikit menyipit untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya.


"E-El," lirihnya.

__ADS_1


"Nope! aku bukan El. Maaf aku tidak tahu siapa El. Sepertinya aku pernah melihatmu, tapi aku lupa dimana. Rasanya wajahmu tidak as-,"


"Permisi Tuan, Nyonya- saya akan memeriksa pasien terlebih dahulu."


Ucapan pria itu terhenti saat dokter menyela ucapannya, dia membiarkan sang dokter untuk memeriksa kondisi wanita yang dia temukan di pinggir laut, dalam keadaan tidak sadarkan diri- dengan banyak luka di sekujur tubuhnya.


"Bagaimana, dok?"


Dokter itu menghela napas lega, "Kondisi pasien stabil, dulu saya mengira kalau pasien tidak akan bertahan- tapi ternyata keinginannya untuk hidup, membuat proses kesembuhan di tubuhnya lebih berjalan cepat. Mungkin beberapa hari ini pasien bisa segera pulang." jelasnya.


Sepasang suami istri itu menghela napas lega, "Terimakasih dok,"


"Sama sama, kalau begitu saya permisi."


Setelah kepergian sang dokter, sepasang suami istri itu mendekat pada wanita yang masih menatap kosong ke arah langit langit kamar rumah sakit.


"Hai, kau baik baik saja?" tanyanya khawatir.


Sepasang suami istri itu saling lirik, keduanya melempar senyum ramah pada sang wanita.


"Kau sedang dirawat di rumah sakit, selama satu bulan ini kau mengalami koma." jelas Sang Pria penolong.


"Koma?" beonya.


Ingatannya kembali berputar ke belakang, dimana saat mobil yang dia kendarai bersama pengawalnya di hantam dari belakang, lalu di dorong dengan paksa menuju jurang laut yang curam.


"Kau tidak apa apa?" tanya si pria.


"Jadi sudah satu bulan aku tidur? astaga bagaimana nasib suamiku, El- Elvier dimana? apa dia tahu kalau aku disini?" paniknya.


Sementara sepasang suami istri itu kembali saling pandang, mereka berdua baru pertama kali menemukan orang yang bersikap seperti ini selama hidup mereka.

__ADS_1


Aneh


"Apa itu nama suaminya?" bisik si wanita pada suaminya.


"Sepertinya begitu," sahutnya heran.


Keduanya semakin meringis kala mendengar omelan sang wanita yang mereka tolong.


" Ssstt- tenanglah, nanti kami berdua akan membantu mu, untuk pul-,"


"Tunggu! dan diam ditempat mu! bukankah kau ini- ARJUNA!"  pekiknya pelan, kedua mata sayu itu memindai setiap lekuk wajah pria yang menolongnya.


"Kau Arjuna kan? yang dulu pernah menembak Kak Bell? iya kan, ayo mengaku!" sambungnya.


Sementara pria yang di panggil Arjuna itu hanya menggaruk lehernya yang tidak gatal, saat melihat tatapan menuntut istrinya.


"Aku akan menjelaskannya nanti, Sayang." bujuknya.



**PULANG YU BANG EL, NANTI OTHOR BUATIN SUSU ANGET


HOLLA MET PAGI EPRIBADEH


GIMANA KABAR HARI INI


UDAH SENIN AJA NIH


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVIRITNYA YA


SEE YOU NEXT PART MUUUAACCHH**

__ADS_1


__ADS_2