Jerat Cinta Sang Player

Jerat Cinta Sang Player
Timbal Balik 2


__ADS_3

Elvier melangkah angkuh menuju ruang eksekusi, di belakang Elvier sudah ada dua pengawal yang tadi mengurung Lavera dan antek anteknya.


"Yang Mulia dan yang lainnya masih didalam, Pangeran." ucap sang pengawal.


Elvier tidak menyahut, sang Pangeran kedua hanya mengisyaratkan lewat mata pada pengawalnya agar mereka membukakan pintu. Setelah selesai mengobati dan mengganti seluruh pakaian Yasmine, dari bagian luar hingga dalam. Elvier segera kembali keruangan ini, ruangan yang menjadi tempat Lavera memberikan dua cambukan pada istrinya, walaupun bukan dengan tangannya sendiri. Namun Elvier tidak peduli, dia akan menunjukan bagaimana rasanya di cambuk pada mereka.


Kriieett


Suara pintu terbuka, keempat orang itu menoleh ke arah pintu masuk. Lavera menatap nyalang pada Elvier, sang Permaisuri terlihat sangat marah pada anak tirinya.


"KAU PIKIR SIAPA DIRIMU! MENGURUNGKU DI TEMPAT KOTOR INI, HUH!" pekik kencang Lavera.


Napasnya terlihat memburu, jelas terlihat sekali kalau wanita itu benar benar marah. Namun sepertinya Elvier tidak peduli, kedua matanya bergulir pada Jalal.


Pria tua bangka yang sudah berani melukai istrinya, bahkan dia saja tidak pernah berani menyentuh kulit putih mulus Yasmine. Tapi pria bau bangkai ini begitu berani memberikan luka di tubuh indah itu.


"Ikat dia!" titah Elvier.


Kedua orang pengawal mengangguk, mereka segera mendekati Jalal. Walaupun pria tua itu sempat melawan, namun akhirnya kedua pengawal berhasil melumpuhkannya lalu mengikat kedua kaki serta tangan Jalal di tiang besi.


Elvier melangkah pelan mendekat pada Jalal, sangat pelan namun terlihat mengerikan di kedua mata orang kepercayaan sang Permaisuri.


Apa lagi saat melihat Elvier membawa sebatang lempengan besi lentur di salah satu tangannya. Jalal sangat tahu apa kegunaan benda itu, benda yang kata orang pukulannya lebih menyakitkan dari pada sebuah cambuk.


"Ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Elvier pelan.


Salah satu sudut bibir Elvier terangkat, membentuk senyuman remeh.


"A-aku tidak bersalah Pang-,"


CTAR!


"AAAKKHH!" raung Jalal, saat Elvier menghantamkan lempengan besi lentur itu pada tubuh tua Jalal.


Bahkan pria tua itu belum sempat menyelesaikan ucapannya. Rasa panas perih sakit bahkan remuk kini tengah Jalal rasakan. Rasanya satu cambukan yang Elvier berikan padanya sudah cukup untuk menghantarkan dia menuju ICU.


"Bicaralah," ujar Elvier lagi.


Bahkan sang Pangeran terbuang menepuk pipi Jalal, agar pria tua itu tetap sadar.


"Pang-,"

__ADS_1


CTAR!


"AAAKKHHH!" raung Jalal lagi untuk kedua kalinya.


Dan kali ini raungan Jalal terdengar pilu hingga suaranya pun sampai tak terdengar.


"Itulah yang dirasakan Yasmine ku, saat kau mencambuknya. Kau berani sekali tua bangka, bahkan aku saja tidak pernah berani melukai tubuh indah itu. Tapi kau-," Elvier menjeda ucapannya.


"-Bereskan dia!" titah Elvier.


Pria jangkung itu tersenyum angkuh pada Jalal, setelah melihat Jalal sudah tak sadarkan diri dan dibawa pergi oleh salah satu pengawal, kali ini kedua mata Elang Elvier menatap tajam pada ketiga wanita yang tidak jauh darinya.


"Siapa yang ingin merasakannya terlebih dahulu?" tanya Elvier santai.


Bahkan pria itu masih sempat membersihkan lempengan besi lentur, menggunakan tissue yang di berikan oleh pengawal.


"K-kau jangan gila Vier! Ayahmu akan marah kalau kau sampai menyakiti kami!" gugup Lavera.


Wanita glamor itu berkedip berulang kali kala melihat wajah dingin anak tirinya.


"Suami ku akan menghukum mu kalau kau berani melukai ku, Pangeran Kedua!" sahut Sang Putri Mahkota.


Zorra sama takutnya dengan Lavera, sementara Zoyya hanya bisa berlindung di bawah kekuasaan kakak iparnya.


Lavera memberontak kala melihat para pengawal yang memang setia pada Elvier dengan cepat mendekat ke arah meraka bertiga. Padahal setahu Lavera kalau mereka semua sudah tidak ada di dalam istana ini, setelah dia memerintahkan Jalal memecat mereka yang pro pada Elvier. Saat sang Pangeran terbuang diasingkan oleh suaminya ke negara orang.


"LEPASKAN AKU PANGERAN SIALAN!" raung Lavera.


Ketiganya sudah terikat di satu tiang besi, Elvier semakin melebarkan senyuman Iblis nya kala melihat raut takut ketiganya.


"Ada yang ingin kalian sampaikan?" tanya Elvier, sama seperti yang dia lakukan pada Jalal tadi.


"Elvier, a-aku tid-,"


CTAR!


"AAKKHHH!" raung Zoyya yang mendapatkan cambukan lempengan besi di punggungnya. Wanita itu bahkan meraung saat merasakan panas perih serta remuk di area punggungnya.


"KAU JANGAN GILA VIER! TUAN ABRAHAM AKAN MARAH PADA AYAHMU SAAT DIA TAHU KALAU PUTRI BUNGSUNYA TERLUKA!" raung Lavera.


Kedua bola mata wanita itu memerah menahan tangis, tangisan yang terlihat memuakkan dikedua mata Elvier. Namun apa tanggapan pria itu, Elvier hanya terkekeh merendahkan.

__ADS_1


"Kau pikir GENTALA PRAYOGA tidak akan marah padaku saat dia tahu kalau putri kesayangannya terluka!" balas Elvier.


CTAR!


"AAKKHHH!" raung Zoyya lagi.


"CUKUP! ADIKKU BISA MATI VIER!" pekik kencang Zorra.


"Itu malah lebih baik bukan?" sahut Elvier tak acuh.


Sang Pangeran terbuang siap melayangkan lempengan besi pada Zorra, namun belum sempat benda itu menyentuh wanita itu suara sang Putra Mahkota berhasil menyelamatkannya kali ini.


"APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA KELUARGAKU!" teriakan keras Yazan, membuat Lavera dan Zorra mengangkat wajahnya. Sementara Zoyya sudah tidak sadarkan diri, karena tidak kuat menahan sakit.


"Kau tanya sendiri pada ibu mu serta istri dan adik ipar mu, apa yang sudah mereka lakukan pada istriku!" tukas dingin Elvier.


Keduanya saling menatap dingin penuh kebencian, Elvier membersihkan lempengan besi lentur kesayangannya dengan santai.


"Kali ini kalian berdua selamat, tapi tidak untuk lain kali. Kalau sampai luka di tubuh istriku tidak hilang, akan ku buat luka yang sama di tubuh kalian." ancam Elvier.


Sang Pangeran kedua melenggang pergi, bahkan saat Yazan memberi ancaman padanya pun Elvier tidak peduli. Urusan dia dan saudara tirinya itu akan dia urus nanti, Elvier melangkah cepat tanpa menghiraukan siapa pun.


Saat Sang Tuan Bangsawan berpas pas'an dengannya pun, Elvier sama sekali tidak menoleh apa lagi menyapanya. Kedua mata Elvier menatap lurus ke arah depan, yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah Yasmine. Walaupun sebenarnya ingin sekali Elvier berkata,


Aku muak padamu!


Tiga kata yang ingin Elvier ucapkan tepat di depan wajah sang Ayah.



ELVIER LEBIH KEJAM SAAT MARAH, TANPA PANDANG BULU



KENAPA BERBULU SIH PANGERAN DOORPRIZE


**YUHUUUU JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA YA


AYO BERDOA SEMOGA HARI INI OTHOR OTAKNYA ENCER SEHAT SELALU BIAR BISA KASIH BOCHAP YA


SEE YOU NEXT TOMORROW

__ADS_1


BABAYY MUUUAACCHH**


__ADS_2