
"K-kau masih hidup?" ucapnya tak percaya.
Kedua mata Haraya semakin membulat, kala melihat gadis penari yang tengah mencekalnya itu- membuka cadar di wajahnya.
"Masih belum percaya? atau kau ingin aku mencongkel kedua matamu- lalu meletakan nya lebih dekat pada wajahku, hm?"
Haraya memberontak, namun cekalan tangan kecil Sang Princess terlalu kencang- membuat dia sulit untuk lolos.
"Wajah orang yang sudah kau bunuh," sambungnya.
Bugh!
Tanpa di duga, Haraya memukul wajah Yasmine menggunakan satu tangannya yang terbebas. Sang Princess sedikit oleng, darah segar mengalir dari hidung minimalisnya. Yasmine yakin, kalau saat ini hidung kecil kesayangannya sudah berkurang beberapa centi meter, karena hantaman Haraya.
"Kau tidak akan pernah bisa mengalahkan ku, Yasmine!" desisnya culas.
Haraya menyeringai, kala melihat Yasmine tengah menyeka darah yang keluar dari hidungnya. Lalu Haraya-
"TOLOOONGGG! ADA YANG INGIN MEMBUNUH PUTRA MAHKOTA! TOLOONG AKU!"
Haraya tiba tiba berteriak histeris, dan itu berhasil membuat para pengawal mendekat kearah mereka bertiga. Haraya menjatuhkan tongkat baseball yang ada ditangannya- Sang Selir mendekat pada Yazan, kemudian terdengar menangis sembari memangku kepala Sang Putra Mahkota.
'Drama selir,' cibir Yasmine dalam hati.
Bukannya panik atau ketakutan, Yasmine malah bersandar santai di pembatas balkon, sembari menyeka darah di hidungnya menggunakan cadar putih yang dilepaskannya.
"Ada apa ini?"
Suara pekikan Lavera membuat Yasmine dan Haraya menoleh. Disaat Haraya memasang wajah teraniaya, Yasmine justru malah menunjukan wajah dingin dan datarnya.
"Yang Mulia Permaisuri, ga-gadis penari itu mencoba untuk membunuh Putra Mahkota. Dia memuk-,"
Bruuk!
Yasmine melemparkan sebuah ponsel pada Lavera, untung saja wanita tua itu refleknya masih bagus- kalau tidak mungkin ponsel itu sudah terjatuh dilantai.
"Buka rekamannya! kau akan mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi disini, Ibu mertua tiri."
__ADS_1
Kedua bola Lavera dan beberapa pengawal mendelik, jantung mereka di paksa berdetak lebih kencang saat mendengar suara yang sangat mereka kenali.
"K-kau, su-suaramu? kau Put-"
"Buka!" titah Yasmine.
Kedua mata Lavera mengerjab cepat, dengan tergesa dan sedikit bergetar- Sang Permaisuri mengotak atik ponsel yang di berikan Yasmine padanya. Tapi sebelum Lavera berhasil membuka rekamannya- Haraya lebih dulu merebut lalu membuang benda itu jauh.
"Dia hanya ingin mempengaruhi Yang Mulia, tolong anda jangan percaya pa-,"
'I kill you!'
Itulah ucapan terakhir yang bisa Lavera dengar dari rekaman yang tengah Yasmine putar. Sang Princess menyunggingkan senyum sinisnya pada Haraya. Maaf saja, dia bukan wanita bodoh yang hanya mengandalkan satu ponsel untuk merekam.
"ITU TIDAK BENAR! DIA, DIA MENJEBAK KU! DIA MENJEBAK KU!" raungnya.
Haraya menatap nyalang pada Yasmine dan Lavera, kedua matanya bergerak liar. Bahkan dengan kasar, Haraya kembali mencampakan kepala Yazan dilantai- membuat pria itu perlahan tersadar.
"KALIAN! KALIAN SEMUA MENJEBAK KU! AKU TIDAK TERIMA! AKU TIDAK TERIMA!" raungnnya lagi.
Haraya segera berlari pergi, menghantam tubuh Lavera dan beberapa Pelayan serta pengawal yang menghalangi jalannya. Bahkan Elvier dan Ommar pun menjadi sasarannya, Haraya seperti orang kesetanan- wanita itu berlari kencang menuju lantai dasar.
Ommar menahan lengan Elvier, saat Sang Putra berinisiatif untuk mengejar Selir putra pertamanya. Elvier menghela napas pelan, kali ini dia menurut pada Sang Ayah. Keduanya terlihat lebih dekat, benar Ommar dan Elvier memang terlihat semakin dekat- apa lagi saat Elvier tahu kalau Ommar lah yang memberi akses Yasmine bisa kembali ke istana ini.
Ternyata diam diam Arjuna mencari tahu tentang Yasmine, tanpa di ketahui Deephika atau pun Yasmine sendiri. Setelah mendapatkan cukup bukti jelas, Arjuna menghubungi Ommar- yang merupakan pemimpin utama Keluarga yang menikahi Yasmine- saat wanita itu baru koma selama satu minggu.
Ommar sengaja menitipkan Yasmine pada Arjuna dan Deephika, tanpa ingin memberitahukannya pada Elvier. Hingga akhirnya hari itu datang, dimana Yasmine kembali- Ommar membiarkan menantu bar barnya itu melakukan hal yang dia mau. Walaupun tadi Elvier sempat mengamuk karena masalah ini, namun perlahan Ommar berhasil menenangkannya.
"Ayo!" ajak Sang Tuan Bangsawan.
Elvier melangkah mendahului Sang Ayah. Raut wajahnya terlihat begitu khawatir, dia khawatir kalau Yasmine kembali terluka.
"Mine!"
Seruan keras Elvier, membuat Yasmine dan yang lainnya menoleh. Rahang Elvier mengetat, kala melihat kedua lubang hidung Yasmine tengah di sumpal kapas oleh salah seorang pelayan wanita.
"Dia melukai mu?" tanya dengan suara rendah.
__ADS_1
"Enggak apa apa El, cuma mimisan doang. It's oke, aku enggak apa apa- enggak sakit kok, sumpah." bujuknya.
'Cuma nyut nyutan aja nih kepala,' lanjutnya dalam hati.
Bukannya melunak, rahang Elvier semakin mengetat. Pandangan tajam Sang Pangeran Kedua tertuju pada Yazan, yang terlihat masih linglung di pangkuan Lavera- ibunya.
"Semua ini gara gara kau, bangsat!"
Bugh!
Lavera memekik keras saat melihat Yazan tersungkur, karena hantaman keras yang di layangkan Elvier di wajahnya.
"Kalau saja kau tidak membawa jal*a*ng mu ke istana ini. Isrriku, tidak akan terluka untuk kesekian kalinya. Kau benar benar membuat ku ingin membunuh mu!"
Bugh!
Satu hantaman kembali Elvier layangkan, napas Sang Pangeran Kedua terengah karena menahan emosi. Lavera pun hanya bisa menjerit, tanpa ingin menjawab ucapan anak tirinya.
"Sudah Vier! kau bisa membunuh Kakak mu!" lerai Ommar.
Mau bagaimana pun dia tidak bisa memihak satu belah pihak saja, kedua pria ini adalah darah dagingnya- Ommar hanya ingin menjadi Ayah yang bijaksana mulai saat ini, belajar dari kesalahan.
"Cih! pria ini memang pantas mati!" geram Elvier.
"Dia sudah berani menyentuh istriku, untuk kesekian kalinya. Aku tidak akan memaafkannya kali i-,"
"I-istri? maksudmu, gadis penari itu adalah Putri Yas-,"
"Maaf Pangeran! Selir Haraya berhasil melarikan diri."
Elvier dan yang lainnya menatap nyalang pada pengawal istana yang saat ini tengah melapor pada mereka.
"Dan Selir Haraya, membawa Putri Mahkota secara paksa, Yang Mulia Putra Mahkota. Maafkan kami, kami pantas di hukum!"
Yazan bangkit, kedua sorot matanya terlihat gelisah, dia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Haraya adalah cinta pertamanya, sedangkan Zorra- wanita yang tengah mengandung keturunannya. Jadi mana yang harus dia pilih?
"Ayo kita cari keduanya!" final Elvier, saat dia melihat Yazan yang masih terdiam tak bersuara.
__ADS_1
HARAYA HARAYA, ASTAGA HARAYA