
Di sisi lain...
Yazan terlihat serius mendengarkan ucapan Ayahnya, pria yang bergelar sebagai Putra Mahkota keluarga Bangsawan Albarack itu, sesekali melirik pada laptop di hadapannya.
"Kau sudah paham?" tanya Sang Tuan Bangsawan.
"Paham, Ayah." sahut Yazan yakin.
Lavera dan Jalal serta putrinya Zallima, tersenyum tipis. Entah apa yang sedang mereka pikirkan saat ini. Jalal si pria tua itu masih menggunakan kursi roda sama seperti Zoyya, maka dari itu Zallima- putrinya ada disini bersamanya.
"Tapi daerah padang rumput itu akan aku ubah menjadi bagian istana baru, apa Ayah setuju?" celetuk Yazan tiba tiba.
Lavera semakin melebarkan senyum kala mendengar penuturan sang putra, wanita berlipstik merah menyala itu melirik pada Jalal yang juga tengah tersenyum.
Sedangkan Ommar, pria tua itu sedikit tersentak mendengar ucapan Yazan. Kenapa putra pertamanya tiba tiba menginginkan wilayah itu untuk memperluas istana? bukannya Yazan dan yang lainnya tahu kalau tempat itu tidak boleh di otak atik oleh siapa pun. Dia sudah memberikan padang rumput indah beserta kuda poninya untuk Ennet- almarhumah sang istri.
Ommar bahkan diam diam sering datang ke tempat itu saat malam hari, ketika semua penghuni istana terlelap termasuk Lavera- istri keduanya. Apa lagi semenjak Ennet tiada dan Elvier pergi, pria tua itu hampir setiap malam datang ke sana.
"Aku tidak akan mengizinkannya!" tegas Ommar.
__ADS_1
Kedua matanya menatap tajam pada Yazan, dia tidak suka putranya ingin merusak padang rumput milik mendiang istri pertamanya.
Yazan tersenyum jumawa pada Ommar, sepertinya pria muda itu sudah menduga kalau sang Ayah tidak akan mengizinkannya.
"Bukannya kau dan yang lainnya tahu kalau padang rumput itu adalah hak Elvier dan Ennet." lanjut Ommar.
Yazan menghela napas pelan sembari menegakan tubuhnya, kedua tangan pria itu bertumpu di atas lutut.
"Aku tahu, tapi bukankah aku adalah Putra Mahkotanya disini? jadi aku juga berhak melakukan apa pun di area istana ini, Ayah." ucap angkuh Yazan.
Ommar tidak gentar, pria itu tersenyum remeh pada putra pertamanya. Ternyata Yazan memiliki sifat yang sama dengan Lavera- Ibunya, ambisius, serakah dan ingin menang sendiri.
Pria tua itu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dengan nyaman, salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat raut masam Yazan.
Begitu pula dengan Lavera, wanita paruh baya itu sama kesalnya dengan Yazan melihat penolakan suaminya. Padahal Lavera sudah memiliki rencana membangun bungalow besar impiannya. Tapi Ommar menghancurkan impian itu dalam sekejab, sang suami masih tetap pada pendiriannya mempertahankan padang rumput itu, untuk menjadi hak milik anak tiri dan almarhumah madunya.
"Mohon maaf Tuanku, hamba ingin memberitahu kalau Putra Mahkota Kaviar sedang bertanding balap kuda bersama Pangeran kedua." ucap Yaser, yang baru saja tiba.
Pria yang pernah menjadi sahabat dekat Elvier, hanya menunduk kala melihat pelototan Lavera. Dia tidak mengerti kenapa Permaisuri menatap seperti itu padanya.
__ADS_1
Sedangkan Ommar masih terdiam, namun tidak lama dia bangkit lalu berjalan keluar meninggalkan Yazan dan lainnya, di ikuti oleh Yaser.
Pria tua berjubah mewah serta mahal itu berjalan cepat menuju tempat Elvier berada. Ommar tidak mempermasalahkan pertandingan itu, yang dia permasalahkan adalah orang yang mengikutinya. Ommar yakin kalau Elvier semakin bermasalah dengan Kaviar, Putra Mahkota dari keluarga Abraham itu tidak akan pernah bisa membuat Putra keduanya tenang. Kaviar akan selalu membuat masalah pada Elvier, karena bagi Kaviar- putranya itu saingan terberat dalam segala hal- termasuk dalam hal wanita.
Dulu banyak gadis yang lebih memilih untuk menatap pada Elvier, dari pada Sang Putra Mahkota. Disaat dua keluarga bangsawan itu mengadakan pertandingan berkuda yang sering mereka lalukan setiap bulan. Itulah yang membuat Kaviar selalu ingin satu langkah lebih unggul dari Elvier, pria muda itu terlalu ambisius dan angkuh.
"Apa pertandingannya sudah di mulai?" tanya Sang Tuan Bangsawan.
Pria itu berbicara tanpa menoleh sedikit pun pada Yaser, kedua matanya terus saja menatap ke depan melawati para penjaga istana yang menunduk padanya.
"Sepertinya-,"
Hentakan pelana dan ringkikan Kuda dari area pertandingan membuat ucapan Yaser terhenti sejenak.
"- sudah dimulai, Tuanku." lanjut Yaser.
PRINCESS YASMINE,😍😍😍😍
__ADS_1