
"Bagaimana keadaan mereka?"
"Pangeran Kedua, Putri Yasmine" sahutnya sedikit terkejut.
Ezar dan Murad segera menunduk, saat melihat Elvier dan Yasmine baru saja sampai. Semalam kedua pengawal itu memang Elvier tugaskan untuk menjaga Yazan dan kedua istrinya- terutama Haraya.
"Hm, bagaimana?" sahut Elvier seadanya.
"Selir Putra Mahkota masih dalam perawatan, Selir Haraya sudah berhasil melewati masa kritisnya. Tapi-," Murad menjeda.
"Tapi?" beo Yasmine, dia terlihat tidak sabar mendengar lanjutannya.
"Tapi, Putra Mahkota dan Putri Mahkota tidak dapat di selamatkan, Pangeran," sambung Murad.
Yasmine membelalakkan kedua matanya, satu tangannya mencengkram erat lengan suaminya. Yasmine tidak menyangka kalau kejadian ini akan menimbulkan korban. Walaupun sempat optimis kalau Zorra pasti selamat, walaupun dia jatuh dari ketinggian puluhan meter, dan mendarat di lantai dasar kapal- tapi Yasmine masih optimis kalau teman cek coknya itu akan terselamatkan.
Tapi ternyata?
"Putra Mahkota mengalami luka parah di bagian kepalanya, karena menghantam batu karang. Sementara Putri Mahkota- mendiang memang tidak dapat bertahan lagi saat perjalanan menuju rumah sakit, karena luka yang dialaminya- termasuk janin yang saat ini sedang dia kandung. Begitu penuturan yang dokter sampaikan pada kami tadi," jelas Murad.
Yasmine menggigit bibirnya, kala mendengar kata janin. Kenapa makhluk tidak berdosa itu harus terlibat, dan kenapa ada rasa bersalah di hatinya saat ini.
"El, i-ini bukan salah aku kan, karena udah ngego-,
"Sssttt- tidak ada yang salah disini, apa lagi kau. Kita hanya berusaha menunjukan siapa Haraya sebenarnya pada mereka. Bukan berencana untuk membunuh mereka. Ini sudah keluar jauh dari rencana kita, aku bahkan tidak menyangka kalau Selir itu ternyata begitu nekat," Elvier menghela napas panjang.
Yasmine bergeming, dia masih tidak percaya kalau Zorra dan bayinya ikut menjadi korban. Entah kenapa, Yasmine justru tidak peduli dengan Yazan- dia sama sekali tidak respect sama sekali pada pria cabul itu.
__ADS_1
"Kau mau melihat mereka?" tanya Elvier pelan.
Yasmine mengangguk, kedua tangannya melingkar sempurna di tubuh suaminya- guna mencari ketenangan hati. Serius, saat ini hati Yasmine seakan teremas, saat mengetahui kalau Zorra sudah tiada bersama bayinya.
Poor Zorra dan janinnya.
"Kalian berdua tetap berjaga di ruangan wanita itu! jangan biarkan siapa pun masuk, kecuali dokter yang akan melihat keadaannya,"
"Baik, Pangeran!"
"Ayo, Mine!"
Yasmine dan Elvier menyusuri setiap lorong rumah sakit. Ternyata jenazah Zorra dan Yazan sudah dibawa menuju ruang mayat, membuat mereka harus memutar ke arah lain.
"AKU TIDAK MAU TAHU! KALIAN HARUS MEMBAYAR SEMUANYA!"
Mereka melihat anggota keluarga Bangsawan Abraham tengah menatap tajam pada Ommar.
"Kami harus membayar seperti apa? bahkan Putra Mahkota ikut menjadi korbannya. Apa kalian buta? kalian tidak bisa melihat jenazah putraku yang sudah terbujur kaku? kalian buta, huh!"
Ommar yang biasanya mampu mengendalikan emosi serta amarah, kini tidak dapat lagi menahannya. Bayangkan saja, Ayah mana yang tidak terpukul saat kehilangan salah satu putranya.
Bukan hanya keluarga Abraham saja yang berduka, keluarga Albarack pun sama. Bahkan saat ini Lavera tidak henti hentinya memeluk jasad Yazan, tanpa ingin menjauh sedikit pun. Sang Permaisuri terlihat begitu terpukul. Bagaimana tidak, kehilangan menantu dan calon pewaris- kemudian dia juga harus kehilangan putra semata wayang, satu satunya pemegang tahta.
Setelah Yazan pergi, siapa yang bisa Lavera andalkan?
Tidak ada!
__ADS_1
Tahta Sang Putra Mahkota jatuh, dan akan digantikan oleh pewaris selanjutnya yaitu Pangeran Kedua- Elvier Albarack Milles.
Satu satunya putra dari Sang Tuan Besar, dia yang akan memegang tahta selanjutnya dan tidak bisa diganggu gugat. Karena memang disanalah posisi Elvier yang sebenarnya.
"Kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan keluarga ini. Selama ini kami selalu bersabar, saat Zorra tersakiti oleh kalian, lalu diduakan, tapi sekarang- seharusnya kami menuntut anda dan keluarga Albarack- tuan Ommar." ucap datar Kaviar.
Kedua tangan pria itu mengepal erat, dia tidak menyangka kalau adik pertamanya harus meninggal dengan cara yang mengenaskan- karena ulah selirnya sendiri.
"Tapi, ternyata Tuhan adil- dia pun ikut serta membawa Putra Mahkota. Itu sedikit membuat hati kami membaik," sambungnya enteng.
Kedua rahang Ommar mengetat, Yazan memang salah disini- tapi dia tidak rela saat kematian putranya di syukuri oleh keluarga dari istrinya sendiri.
"Terimakasih atas ucapan belasungkawanya- Pangeran Kaviar,"
Ommar yang baru saja hendak membuka suara, mengurungkan niatnya- saat melihat Elvier dan Yasmine mendekat.
"Silahkan kau bawa jenazah adik mu pergi! jauhkan dia dari keluarga Albarack!" sambungnya tak kalah enteng.
Kedua bola mata Kaviar hampir saja keluar dari tempatnya, bukan karena mendengar ucapan Elvier- melainkan melihat wanita yang saat ini tengah menggandeng mesra lengan rivalnya.
"Putri Yasmine," gumamnya.
Kaviar menelan salivanya susah payah, kala melihat Yasmine menatap tajam dan menusuk padanya.
"K-kau masih hidup?" tanyanya tidak percaya.
__ADS_1
KAGET GAK, KAGET GAK, KAGET LAH MASA ENGGAK