
Yasmine menuruni ratusan anak tangga dengan langkah tergesa. Bahkan tubuhnya hampir saja terhuyung kedepan, saat salah satu kakinya menyandung sesuatu. Untung saja ponsel yang menjadi satu satunya sumber pencahayaan, saat dia menuruni anak tangga tidak jatuh.
Cahaya yang menerangi deck kapal, tidak dapat menerangi kegelapan hingga kedalam kapal- alhasil Yasmine harus meraba dan mengenyahkan rasa takutnya saat ini. Demi bisa segera sampai kelantai dasar kapal.
Suara langkah kaki Yasmine terdengar nyaring, itu menandakan kalau Sang Princess tengah berlari saat dia berhasil menuruni seluruh anak tangga dengan selamat. Yasmine berlari tanpa ingin berhenti atau pun menoleh, pikiran buruk dan khawatirnya beradu menjadi satu.
Napas Sang Princess terengah hebat, kala dia sampai di bagian dasar kapal. Napasnya sedikit lega, saat melihat Zorra sudah tidak ada di tempat dia jatuh tadi- karena kalau sampai Yasmine melihatnya, entah apa yang akan terjadi padanya.
Pingsan mungkin?
Bahkan saat melihat sisa darah yang di tinggalkan oleh Zorra masih tersisa, dan tengah di bersihkan oleh beberapa pengawal.
"Mana El?"
Para pengawal menoleh, termasuk Ezar dan Murad. Sepertinya dua pengawal suaminya itu baru sampai, karena setahu Yasmine- saat dia dan Elvier menuju tempat ini keduanya tertinggal di belakang.
"Pangeran Kedua ada di-,"
"Mine!"
Ucapan Murad terhenti saat mendengar suara panggilan Elvier. Sepertinya Murad bukan hanya melipat dalam bibirnya, namun membelalakkan kedua mata saat menyadari siapa yang bertanya padanya. Begitu pula dengan Ezar, sang pengawal yang masih merasa bersalah pada Elvier dan Yasmine hingga kini.
__ADS_1
"Tuan Putri Yasmine," gumam keduanya serempak.
Namun sepertinya tidak didengar oleh si punya nama, Yasmine lebih memilih mendekat pada Elvier- yang sudah membuka pakaian bagian atasnya.
"Kamu basah?" tanyanya penuh khawatir.
Kedua tangan Yasmine meraba bagian depan tubuh suaminya. Seolah tengah memastikan kalau Elvier menang kebasahan, sekalian modus juga tidak masalah bukan.
"Kenapa dibuka bajunya?"
Yasmine mendongak, kedua tangannya masih bertumpu nakal di dada bidang Sang Pangeran Kedua. Netra keduanya bertemu, saling mengunci dengan dalam.
"Kamu kedinginan?" tanyanya lagi.
Elvier meniup kedua telapak tangan Sang Princess dengan napas hangatnya, tidak lupa dia juga memberikan gosokan pelan disana.
"Aku kedinginan, Mine," ujarnya pelan.
Yasmine menghela napas pelan, dengan lembut dia ikut menggosok punggung tangan suaminya. Bahkan Yasmine pun ikut memberikan napas hangatnya di kedua tangan mereka.
"Ayo pulang!" ajak Elvier.
__ADS_1
"Tunggu? mereka kemana?" Yasmine mengedarkan kedua matanya kesetiap penjuru dermaga.
"Ayah dan para pengawal sudah membawa Yazan serta kedua istrinya ke rumah sakit," sahut Elvier tenang.
Padahal saat dia terombang ambing diatas laut, Elvier merasa khawatir karena dengan bodohnya meninggalkan Yasmine sendirian. Belum lagi, tubuh Yazan dan Haraya yang tenggelam- kalau saja dia tidak dibantu oleh beberapa pengawal, mungkin akan memakan waktu yang lama. Kalau saja suasananya tidak gelap, Elvier sendiri bisa mengatasinya dengan cepat.
Namun karena kondisi, area serta pencahayaannya yang buruk, membuat penglihatannya juga ikut buruk saat menyelam di bawah air. Belum lagi banyak nya batu karang, Elvier yakin kalau Yazan dan Haraya tidak sadarkan diri karena posisi jatuh mereka di atas batu karang.
"El?"
Elvier tersentak, saat merasakan usapan lembut di lengan bertatonya. Salah satu sudut bibirnya terangkat, kala melihat wajah khawatir Yasmine.
"Tangan kamu dingin, El," ujar Sang Princess.
Senyuman Elvier semakin mengembang, genggamannya pun semakin mengerat- seakan tengah mencari kehangatan.
"Kau bisa menghangatnya, Sayang." bisik seduktif Elvier, membuat Yasmine melirik penuh selidik.
Sang Princess sudah paham kemana arah pembicaraan mereka sekarang.
__ADS_1
AKU SIAP MENGHANGATKAN MU BANG EL, MAU PAKE OVEN APA PAKE KOMPOR?