
Sepasang suami istri itu melangkah santai, menapaki satu persatu lantai mahal yang menjadi kebanggaan keluarga Albarack.
Yasmine terus saja menyunggingkan senyum kala bertemu dengan para pelayan istana, sedangkan Elvier- sang Pangeran Kedua lebih memilih mendatarkan wajahnya. Pria berjaket hitam itu tidak berminat tersenyum pada penghuni istana Albatack, kecuali pada Yasmine tentunya.
Elvier terus saja merangkul pinggang Sang Princess dengan posesif, seakan dia tidak rela kalau Yasmine akan menjauh darinya. Sedangkan Yasmine- wanita itu tidak mempermasalahkan apa pun yang di lakukan Elvier padanya saat ini, justru Yasmine ikut merangkul tubuh Elvier begitu mesra. Kemesraan keduanya semakin menjadi, kala bertemu dengan segerombolan siluman ular kadut yang baru saja keluar dari kandang.
Yasmine menaikan sebelah alisnya kala melihat tatapan tidak suka Zoyya, bahkan Lavera dan Zorra pun ikut menatap tajam ke arahnya dan Elvier. Sementara gadis yang ada di belakang ketiga siluman ular kadut terlihat menunduk saat bersitubruk dengan mata suaminya.
Ada apa dengan mereka?
"Ayo, Mine!" ajak Elvier, saat merasakan Yasmine semakin melambatkan langkahnya.
"Wanita itu kenapa? sepertinya dia takut sama kamu, dari tadi nunduk terus. Apa lagi waktu kamu natap dia, kenapa sih?" tanya Yasmine penasaran.
Wanita bercelan jenas ketat dengan robekan di paha itu memiringkan kepalanya, ingin melihat bagaimana raut wajah suaminya saat ini. Padahal Tuan Putri keluarga Albarack sangat di larang memakai celana saat keluar, apa lagi ketat karena tidak anggun- katanya. Tapi Elvier tidak peduli, dia tetap membiarkan Yasmine memakainya selagi itu masih nyaman untuk Sang Princess, Elvier masa bodoh dengan ke anggunan dan segala macam tek tek bengeknya.
"Kau akan tahu nanti, Mine," ujar Elvier penuh teka teki.
Cup!
"Masuk!" titah Elvier setelah dia memberikan satu kecupan basah di bibir Yasmine.
__ADS_1
Sang Princess mencebikan bibirnya, dengan rasa penasaran yang masih menggunung Yasmine segera memasuki Ferrari abu abu milik Elvier. Yasmine menyandarkan tubuhnya dengan nyaman, jujur mobil ini lebih nyaman dari pada Mini Cooper kesayangannya dulu. Harga memang tidak dapat membohongi kwalitas, walaupun Mini Cooper merah miliknya tidaklah murah, tapi tidak sebanding dengan harga Ferrari abu abu ini.
Selama perjalanan keduanya saling diam, tapi tidak lama suara Yasmine berhasil mendominasi suasana hening mereka. Yasmine terus saja bertanya pada Elvier, saat dia melihat tempat yang tidak atau belum pernah dia ketahui.
Sedangkan Elvier- Sang Pangeran Kedua sepertinya sedang menjadi pendengar yang baik untuk Yasmine saat ini. Pria berjaket hitam itu selalu menjawab apa pun yang di tanyakan oleh sang Princess.
(Takut gak di kasih jatah ya Bang)
Tidak lama Ferrari mahal itu tiba disalah satu gedung pencakar langit yang begitu menjulang tinggi. Elvier segera keluar dari dalam mobil, di ikuti oleh Yasmine dengan gaya anggunnya. Wanita itu berdecak kagum saat melihat betapa tingginya gedung yang dia masuki ini.
"Ayo!" ajaknya, Elvier mengulurkan tangannya pada Yasmine, dan dengan senang hati sang Princess meraih telapak tangan besar milik Elvier. Tenggelam di dalam genggaman Elvier, membuat Yasmine persis seperti bocah kala berdampingan dengan suaminya, 164 vs 194 bayangkan saja.
Keduanya memasuki loby, tidak jauh dari pintu masuk Yasmine dan Elvier bisa melihat Burak dan seorang wanita tengah berbicara.
"Apa aku terlambat?"
Kedua orang berbeda gender itu menoleh, Burak melebarkan senyum kala melihat Elvier dan Yasmine semakin mendekat. Sedangkan sang wanita yang tadi mengobrol dengan Burak, hanya menyunggingkan senyuman tipis- terkesan menggoda.
"Kau ter-,"
"Tentu saja tidak Tuan Milles, aku juga baru saja sampai." sela sang wanita, saat Burak ingin membuka suara.
__ADS_1
Bahkan wanita seksi itu mengulurkan tangannya pada Elvier, tidak lupa senyuman genit dan menggodanya.
"Kenalkan, aku Marinka. Patner kerja mu kali ini." ucap wanita yang bernama Marinka.
"Hm, apa kita bisa segera memulainya. Aku masih banyak urusan setelah ini!" sahut Elvier tak acuh tanpa membalas jabatan tangan itu, membuat Sang Wanita tersenyum kecil menahan malu.
Pria berjaket hitam itu melirik jam yang melingkar di tangannya, pukul 08.15 waktu Dubai. Bahkan dia dan Yasmine sampai sarapan di dalam mobil, karena tidak ingin membuang waktu.
"O-oh begitu, aku kira kita bisa sa- baiklah sepertinya Tuan Andreson juga sudah menunggu kita di lantai sepuluh." Marinka tersenyum kecut melihat wajah dingin rekan kerjanya. Bahkan dia pun sampai menghentikan ajakanya.
Elvier tidak menanggapi, pria jangkung itu segera melangkah menuju lift sembari terus saja menggandeng tangan Yasmine. Sedangkan Yasmine menyunggingkan senyum remeh terkesan sinis pada wanita berpakaian ketat berwarna army.
"Dasar lemper basi!" cemo'oh Yasmine dalam bahasa Indonesia.
Wanita berkemeja hitam itu memutar bola matanya malas, kala melihat tatapan tak bersahabat dari sang model seksi. Sementara Elvier dan Burak hanya menyunggingkan senyuman tipis mendengar ucapan sang Princess.
Gadis bar barnya mulai beraksi!
MUKANYA BIASA AJA NGAPA BANG
__ADS_1
MAKAN YANG BANYAK, BUAT INI TENAGA NUKLIR