
Yasmine menepuk nepuk punggung Sang Papa. Wanita yang tengah berbadan dua itu, membiarkan Gentala menangis didalam pelukannya. Selepas dia dan Elvier memberitahukan kalau Sang Princess tengah hamil, Gentala terlihat berkaca kaca- wajah sangar dan garangnya berubah menjadi sendu.
Bahkan tanpa berbicara lagi Gentala segera memeluk tubuh putri kesayangannya. Pria paruh baya itu menangis haru didalam dekapan Yasmine, entah kenapa amarahnya lenyap seketika- saat dia mendengar kata cucu.
Benarkah dia akan menjadi seorang Kakek? bukankah berarti kalau usianya sudah tidak muda lagi. Padahal menurut Gentala, dia masih terlihat muda dan gagah- makanya Imelda Tiur tidak mau berjauhan dengannya.
Namun untuk urusan ini, jujur saja Gentala pergi secara diam diam. Dia hanya meminjam Melody dan Luan pada Nagara, dan meminta Nagara tidak berbicara pada siapa pun- termasuk ada Galaska si mulut lemes.
"Udah dong Pi, malu sama cucu Papi. Masa udah kakek kakek nangis sih,"
Bukannya berhenti- tangisan Gentala justru semakin kencang. Bahkan Elvier yang sedari tadi terdiam, sembari bersidekap dada hanya menghela napas kasar.
"Papa mertua lebih baik istirahat, ayo biar menantu tersayang mu ini yang mengantar," bujuk Elvier.
Sang Pangeran terlihat mulai jengah, dia merasa kesal karena Gentala terus saja menempel pada Yasmine. Tidak mengertikah pria tua itu, kalau dia juga ingin di manja dan bermanja-manja dengan istri serta calon anaknya.
"Tidak usah sok baik, bilang saja kau tidak suka kalau aku menempeli putri ku sendiri. Kau iri kan, bilang saja kalau kau iri- tidak usah sok mau mengantar Papi ke kamar,"
Elvier memijit pangkal hidungnya, dia bingung- kenapa yang mood nya berubah ubah adalah Gentala? bukannya yang hamil saat ini Yasmine? lalu kenapa Gentala malah ikut tertular.
__ADS_1
"Papa mertua sudah tau jawabannya, terus kenapa belum mengerti," gumam Elvier, dan bagusnya lagi masih bisa didengar oleh Gentala. Membuat pria setengah baya itu mendelik.
"Dasar mantu durhaka, kalau tidak ada aku- Yasmine juga tidak akan pernah ada!" geram Gentala.
"Kalau tidak ada aku, Papa mertua juga tidak akan pernah memiliki cucu," balas Elvier tak kalah nyolot.
Kedua pria beda usia itu terlibat perdebatan untuk pertama kalinya. Sepertinya perubahan mood yang biasa dirasakan oleh ibu hamil, kini malah menular pada keduanya.
Sementara Yasmine hanya menonton perdebatan keduanya dengan tenang, kedua kakinya dia naikan keatas sofa sembari menikmati potongan buah Alpukat serta Anggur tanpa biji, yang di berikan Elvier untuknya.
"Kalau ada Mami lebih seru nih, bisa masang 2 juta. Aku telepon aja deh!" ide Sang Princess cukup brilian.
🐎🐎🐎
Melody menatap tajam pada pria yang sedari tadi memperhatikannya tanpa jemu. Sudah berkali kali Melody menghindar, namun Sang Pria terus saja mendekatinya- tanpa peduli tatapan tajam mematikan Sang Singa Betina Linochyl.
"Hentikan tatapan bodoh mu itu! aku tidak akan menjamin kalau peluruku ini tidak mengenai kepala mu!" sarkasnya.
Bukannya takut, Sang Pria malah mengembangkan senyumnya. Bahkan dengan bodoh, salah satu tangannya mencubit gemas pipi Melody- membuat Sang Wanita menodongkan pistolnya pada sang pria tanpa ragu.
__ADS_1
"Wo wo wo, calm down Baby!" sang pria mengangkat kedua tangannya di depan dada.
Dia tidak menyangka kalau wanita ini tidak main main dengan ucapannya. Dia pikir wanita datar dan garang ini bisa diajak bercanda, atau bahkan bercin-,
"Kau akan segera mati, kalau sampai memikirkan hal yang tidak tidak tentangnya," seru Luan.
"Melody, masuk!" sambungnya tegas.
Pria yang sudah berusia 53 tahun itu menatap dingin pada Pengawal pribadi Sang Pangeran Kedua. Tidak bersahabat sama sekali, tatapannya tajam dan menyelidik.
"Kalau kau ingin bermain dengan putriku, lakukan besok pagi. Melody akan siap menerimanya!" sambung Luan, sebelum pria setengah baya itu melangkah pergi.
Sementara sang pria yang bernama Ezar- hanya menatap kepergian Luan dan Melody dengan tatapan heran.
"Manusia batu, dan manusia kutub," celetuknya.
PAPI GEN EMANG GAK KALENG KALENG, BOLEH GAK NYEMPIL JADI PELAKOR NYA? KABOOORRT
__ADS_1