
Yasmine mematutkan tampilannya di cermin, kedua sudut bibirnya terangkat sempurna saat berhasil menyembunyikan tanda merah kebiruan di area lehernya.
Wanita bergaun violet selutut itu menghela napas pelan, Elvier benar benar menghabiskan seluruh tubuhnya sekaligus. Bukan hanya bagian leher saja, tapi di punggung, tengkuk, bahu, perut, paha bagian dalam, dan yang lebih banyak lagi adalah di dada, lebih tepatnya di dua bukit botak kembar miliknya.
Ganas!
"Kayak gitu bilangnya kecil, eh di embat juga." cibir Yasmine, saat dia kembali teringat bagaimana rakusnya Elvier saat meny*usu padanya.
"Baiklah Princess, kita akan melihat apa yang sedang terjadi di luar kamar ini." lanjut Yasmine.
Wanita itu memoleskan lipstik berwarna nude natural, setelahnya dia segera bergegas keluar dari dalam kamar.
Yasmine terus saja mengembangkan senyum, bahkan para pelayan istana sedikit terheran. Bukan karena senyuman manis sang Princess, namun cara berjalan Nyonya Elvier yang terkesan berbeda dari sebelumnya.
Sementara Yasmine yang di tatap aneh oleh banyak mata, hanya menghela napas pelan dan berusaha semakin meningkatkan rasa percaya dirinya.
"Aku udah mengira kalau mereka pasti bakalan ngelihatin cara jalan aku," gumam Yasmine.
Cara berjalan Yasmine memang sedikit berbeda dari biasanya, entahlah dia juga tidak tahu. Padahal Yasmine sudah merasa baikan, tidak seperti pas bangun tidur tadi.
Wanita bergaun violet itu menuju dapur istana, karena saat ini Yasmine tidak kunjung menemukan keberadaan Elvier- suaminya.
Dengan cekatan Yasmine membuka lemari es, mengeluarkan beberapa buah pisang, buah naga dan alpukat. Yasmine tidak peduli dengan tatapan para pelayan istana yang bertugas di dapur. Wanita itu fokus memotong buah yang akan dia jadikan sebagai salad, untuk camilan sore Elvier.
"Tuan Putri, biar saya saja yang me-,"
Ucapan kepala pelayan terhenti saat melihat Yasmine mengangkat jari telunjuknya, menandakan kalau dia tidak ingin di ganggu.
"Kerjakan saja tugas kalian, tidak usah melihatku!" tegas sang Princess.
__ADS_1
Sang Kepala Pelayan mengangguk ragu, namun tak urung juga dia segera memerintahkan para bawahannya kembali ke posisi masing masing.
Mereka masih tidak percaya kalau istri dari Pangeran Kedua memasuki kawasan dapur, karena yang mereka tahu anggota inti keluarga Albarack tidak pernah di izinkan untuk menginjak lantai dapur.
Tapi sepertinya Princess Yasmine adalah pengecualian, sang Princess bahkan terlihat cekatan memakai pisau dan alat masak lainnya tidak seperti Putri Mahkota Zorra dan putri lainnya, yang hanya bisa memegang garpu serta sendok saat di meja makan.
"Aku sudah selesai," seru Yasmine.
Wanita itu segera mencuci kedua tangannya dan pergi dari kawasan dapur dengan senyuman mengembang. Yasmine menyusuri setiap lorong istana sembari membawa satu mangkuk salad buah.
Bahkan Yasmine sesekali bersenandung kala melewati beberapa pelayan istana, yang menatap tak berkedip padanya.
"Ibu tiri hanya cinta kepada Ayah mu saja."
Entah apa yang sedang di pikirkan sang Princess, kenapa dia malah menyanyikan lagu yang berhubungan dengan ibu mertua tiri dan suaminya.
"Kasihan banget sih kamu, El," gumamnya lagi.
"Tapi bohong." celetuk Yasmine, sembari terkikik geli.
Nyanyian Yasmine terhenti, saat mendengar obrolan beberapa orang dari arah ruangan yang baru saja dia lewati. Wanita itu dengan santai menyandarkan dirinya di pintu, sembari memakan salad buah yang dia bawa.
Yasmine bahkan bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan saat ini. Keempat wanita yang ada di dalam sana belum menyadari keberadaannya.
"Aku yakin kalau ibu berhasil mendapatkan padang rumput itu, istana ini akan semakin lebar." ucap Zorra, sembari menyesap teh hijaunya.
"Tentu saja!" sahut Lavera yakin.
"Kalau Yang Mulia berhasil mendapatkannya, kita akan buat bungalow indah disana, benarkan Yang Mulia." celetuk Zoyya.
__ADS_1
"Kau benar sekali, calon menantu." sahut Lavera lagi.
Sementara Zallima, gadis itu hanya tersenyum seadaanya. Dia hanya berbicara seperlunya dengan mereka, karena Jalal- Ayahnya adalah kaki tangan Lavera, jadi mau tidak mau Zallima harus mengikuti pergaulan para bangsawan.
Sementara Yasmine, wanita itu menatap penuh perhitungan pada ibu mertua tiri serta wanita yang sedang duduk di kursi rodanya.
Apa katanya tadi? calon menantu?
Yasmine mencibir remeh pada keduanya, apa lagi saat melihat senyum malu malu Zoyya. Ingin rasanya Yasmine melemparkan mangkuk yang dia pegang ke wajah si wanita ular.
Tapi tenang, ini bukan waktu yang tepat. Nanti ada saatnya sepatu dan mangkuk yang dia pegang melayang pada salah satu mereka.
"Ibu tiri hanya cinta kepada Ayah mertua saja," celetuk Yasmine dalam bahasa Inggris, membuat ke empat wanita itu menoleh.
Tapi mereka terlambat, Yasmine sudah pergi dari sana. Namun suara nyanyiannya masih terdengar cukup keras, membuat Lavera mengepalkan kedua tangannya, saat dia menyadari kalau Yasmine tengah menyindirnya secara terbuka.
Ini adalah penghinaan untuknya!
**CANTIKNYA NATURAL NO MAKE UP
HOLLA ASSALAMUALAIKUM MET PAGI EPRIBADEH
GIMANA KABAR KALIAN HARI INI
PUASA LANCAR
UDAH SAHUR
__ADS_1
JANGAN LUPA DUKUNGAN LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA YAAAAA
SEE YOU NEXT PART MUUUAACCHH**