
"K-kau masih hidup?" tanyanya tidak percaya.
Kaviar reflek melangkah mundur, saat melihat Yasmine menoleh padanya. Bahkan Kaviar dapat melihat seringai kecil di bibir tipis Sang Princess.
"Oh- hallo Putra Mahkota Abraham. Kenapa? apa ada yang salah kalau aku masih hidup?" Yasmine semakin melebarkan senyumannya, membuat Kaviar menaik turunkan jakunnya.
"Apa gadis penari itu adalah-,"
"Iya, kau benar sekali. Aku adalah gadis penari, yang pernah kau- tidak kalian rendahkan saat di meja makan." sela Yasmine.
"Dan apa katamu, ' gadis ini memang hanya pantas untuk Pangeran Kedua,' " sambung Yasmine.
Kedua sudut matanya melirik pada Elvier, yang terlihat masih tenang. Salah satu tangannya merangkul posesif pinggang Sang Princess.
"Bukan- bukan begitu mak-,"
"Tidak ada yang salah dengan ucapan mu itu Pangeran Kaviar. Kau memang benar, hanya El yang pantas untuk ku- dan hanya aku yang pantas untuknya!" Yasmine kembali menyela ucapan Kaviar, tanpa ingin melihat wajah pria itu.
__ADS_1
Tatapan Yasmine hanya tertuju pada Elvier, bahkan tanpa sungkan Sang Princess membalas rangkulan mesra suaminya- didepan Kaviar dan semua orang yang ada disana. Yasmine menegaskan lewat tindakan serta perkataannya, kalau mereka berdua tidak akan pernah menggantikan apa lagi tergantikan.
Kaviar menatap tak terbaca pada sepasang suami istri itu. Jujur, Kaviar sangat tidak menyukai interaksi antara Elvier dan Yasmine. Baru kali ini dia menyukai seorang wanita dengan begitu besar, padahal Sang Wanita sudah di miliki oleh pria lain. Namun hati serta logikanya seakan buta, Kaviar mengabaikan semua keraguan- dia bertekad untuk bisa merebut Yasmine dari tangan Elvier- sang rival.
Namun sepertinya, apa yang ada di dalam angannya selama ini tidak sesuai dengan kenyataan. Sang Wanita sama sekali tidak tergoyahkan, bahkan meliriknya saja Yasmine tidak sudi. Kaviar dapat melihat begitu banyak cinta di mata Yasmine untuk Elvier. Begitu pun sebaliknya, Elvier terlihat begitu memuja Sang Princess hingga aliran darah terdalam.
Apakah mungkin Kaviar dapat memisahkan cinta dua sejoli itu? Kaviar terkekeh miris didalam hatinya. Dia pesimis sekarang, Kaviar yakin kalau Yasmine tidak akan pernah dia dapatkan.
Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang? tetap kekeuh pada pendiriannya, atau menyerah dan merelakan Sang Pujaan hati bahagia bersama pria yang dicintainya?
Bukankah cinta tidak harus memiliki, bukan?
"Ayo kita bawa Zorra pulang! Zoyya pasti sudah menunggu kita di rumah, dia sama terpukulnya seperti mu- setelah ini keluarga kita tidak akan pernah lagi berurusan dengan Albarack- sampai kapan pun."
🐎🐎 🐎
Suasana pemakaman mendiang Putra Mahkota begitu hening. Lavera yang tadi meraung, kini terdiam bagai patung- saat jenazah Yazan sudah tertutup dengan tanah.
__ADS_1
Kedua mata Sang Permaisuri menatap kosong, namun air matanya terus saja mengalir. Dia kembali teringat dengan ucapan Haraya, saat dia dan Ommar menemui wanita itu- ketika dokter mengatakan kalau Haraya sudah siuman.
'Bagaimana rasanya? sakit bukan? itulah yang aku rasakan saat kau mengambil paksa kedua anakku, dan sekarang kau juga merasakannya Lavera!'
Bahkan Haraya tertawa pilu setelah mengatakan semua isi hatinya. Haraya menangis dalam tawanya, Haraya tertawa dalam tangisnya. Itulah yang saat itu mereka lihat, Haraya tertawa tapi menangis. Menangisi Sang Putra Mahkota yang sudah tiada, dan menertawai alur hidupnya sendiri.
Dan sekarang- nasib Lavera tidak jauh berbeda dengan mantan menantu keduanya. Lavera begitu kehilangan Yazan, putra semata wayangnya. Seseorang yang sangat dia andalkan selama ini, untuk mempertahankan tahta.
Tapi Yazan sudah tiada, jadi apa yang harus Lavera lakukan sekarang?
"AAAAKKKHHH!"
Lavera tiba tiba menjerit kencang, wanita paruh baya itu menjambak rambutnya sendiri. Tangisan pilunya kembali terdengar, bahkan Yasmine di buat iba saat melihat kondisi ibu mertua tirinya saat ini.
"Ayo kita pulang!"
Yasmine mengangguk, saat Elvier merangkul pundaknya- mereka berdua segera pergi dari pemakaman keluarga Albarack, meninggalkan Lavera yang masih histeris.
__ADS_1
TATAPAN MU BANG, MENGALIHKAN DOMPETKU