
Lirikan tajam Yasmine terarah pada Yazan yang terus saja menatapnya dalam. Wanita bercadar hitam itu berdecih jijik, kala melihat Yazan menjilat bibir bawahnya seduktif.
Yasmine mencengkram garpu dengan erat, ingin rasanya dia melemparkan benda itu tepat ke wajah Sang Putra Mahkota. Mungkin mencolok mata keranjang Yazan- akan lebih baik lagi.
"Kenapa Putra Mahkota Yazan, terus saja menatap Nona Penari seperti itu?"
Yazan tersentak, kala mendengar Kakak Iparnya berbicara. Sang Putra Mahkota terlihat salah tingkah, mirip seperti orang yang kepergok sedang mencuri. Yazan terlihat meneguk minumannya secara langsung, saat dia merasakan tenggorokannya tidak baik.
"Jangan bilang kalau kau akan menjadikan Nona Penari ini, Selir kedua mu?" telak Kaviar.
Kedua sorot matanya menatap tajam pada Adik Iparnya, kemudian beralih pada Zorra dan Haraya- yang juga terlihat menatap tajam pada Yazan.
"Kau berbicara apa Kakak Ipar, apa kau sedang merendahkan ku? dengan berpikir kalau Penari ini akan menjadi Selir kedua ku?" Yazan terkekeh gagu, ucapan mulutnya sangat tidak sesuai dengan hatinya saat ini.
Bahkan secara tidak langsung, Yazan merendahkan harga diri Yasmine- yang mereka ketahui sebagai seorang penari.
Memangnya ada apa dengan penari?
__ADS_1
"Kalau aku memang ingin mencari seorang selir, aku akan mencari wanita yang derajatnya sama dengan kita." sambungnya.
Salah satu sudut matanya melirik pada Yasmine. Yazan menggigit bibir dalamnya saat melihat sorot mata dingin dan tajam Sang Wanita bercadar.
Kaviar mengangguk pelan, perlahan dia menggulirkan kedua matanya untuk menatap Yasmine versi Gadis Penari, dengan tatapan tak terbaca.
"Ya, kau benar, sepertinya hanya Pangeran Kedua yang pantas dia dampingi." cemo'oh Kaviar.
Kedua tangan Yasmine semakin terkepal erat, rahangnya mengetat karena menahan emosi. Ingin rasanya Yasmine melemparkan gelas kristal yang ada dihadapannya ke arah wajah Kaviar. Namun sepertinya ini bukan waktu yang tepat, bukan karena dia tengah sendirian- namun Yasmine tidak mau rencananya hancur karena suara emasnya.
Yasmine menoleh kala mendengar suara orang yang sedari dia nantikan. Kepalan tangannya mulai mengendur, emosi yang sudah mencapai ubun ubunnya perlahan turun kembali ke tempat asalnya. Yasmine tersenyum kecil di balik cadar yang dia pakai, sorot kedua matanya terlihat tajam karena efek make up serta softlens yang dia pakai. Namun begitu mempesona, membuat Elvier mengembangkan senyum kala dia semakin mengikis jarak pada Sang Princess.
CUP!
Kecupan cukup lama dan dalam Elvier sematkan di dahi Sang Princess, sebelum pria itu menggeser kursi yang berada di sisi Yasmine.
"Maaf membuat mu menunggu," ujar Elvier lembut.
__ADS_1
Satu tangannya mengusap punggung tangan Yasmine, mengabaikan tatapan menyelidik dan sinis para penghuni meja makan. Elvier semakin menjadi kala melihat tatapan Yazan, tatapan penuh arti yang mengarah pada istrinya.
Kecupan demi kecupan terus Elvier berikan di punggung tangan Yasmine. Sang Pangeran kedua tidak membiarkan tangan istrinya memegang sendok atau garpu, Elvier lebih memilih untuk menyuapi Yasmine- sedangkan dirinya terus saja menikmati kulit halus mulus Sang Princess di bibirnya.
"Benar benar gadis penggoda," desis seseorang.
Tatapannya begitu sinis dan tidak suka. Dia benar benar tidak suka, karena Sang Gadis Penari mengalahkannya secara telak. Padahal gadis bercadar itu tidak ada apa apanya dibandingkan dengan dirinya- yang bergelar Tuan Putri kedua keluarga Abraham.
"Sepertinya kau butuh kaca, Zoyya!" cibir Elvier.
"Kau tidak ingat kelakuan menjijikan mu, saat masuk kedalam kamar mandi ku- disaat aku sedang berada didalamnya. Harusnya kau berkaca, kau bukan hanya penggoda, tapi juga menjijikan." sambungnya.
Ucapan Elvier begitu tajam dan menusuk hati. Bahkan Elvier tidak memanggil nama Zoyya dengan gelarnya. Karena Elvier pikir, gelar putri sangat tidak pantas disandang oleh Zoyya.
AKU GAK BUTUH KACA, TAPI BUTUH KAMU EEAAAAKKKK
__ADS_1