Jerat Cinta Sang Player

Jerat Cinta Sang Player
Diam, Bukan Berarti Tak Peduli


__ADS_3

Yasmine merentangkan kedua tangan, saat merasakan hembusan angin menerpa wajahnya. Saat ini dia dalam perjalanan pulang bersama Elvier setelah melakukan hal ekstrim didalam mobil beberapa saat yang lalu.


Elvier bahkan dengan sengaja membuka atap mobil Ferrarinya, agarĀ  Yasmine dapat melihat betapa indah pemandangan gurun pasir dan savana yang mereka lewati saat ini.


"Apa di sana ada Oasenya?" pertanyaan yang di lontarkan Yasmine membuat Elvier menoleh.


Kedua sudut bibir pria berjaket hitam tanpa dalaman itu tertarik ke atas, membentuk senyuman tipis nan manis. Elvier menatap lamat dan dalam wajah berbinar istrinya, ingin rasanya dia selalu menatap wajah polos nan imut Yasmine setiap waktu. Setiap Elvier berkedip, dia berharap wajah Yasmine lah yang pertama kali dilihatnya.


Pria jangkung itu mencengkram erat stir mobil, saat kembali mengingat penyakit yang ada didalam tubuhnya. Mungkinkah Tuhan akan memberikan kesempatan dia bahagia di sisa umurnya? apa bila memang di dunia ini tidak ada orang yang sudi membagi hati dengannya.


"El?"


Elvier tersentak saat dia merasakan usapan lembut di pipinya. Pria berambut coklat itu mendongak, sebisa mungkin Elvier menampilkan senyuman baik baik saja. Dia meraih tangan Yasmine, lalu mengecupnya dalam dan cukup lama.


"Apa hm?" sahut Elvier pelan.


Tatapan tajam yang biasa Yasmine lihat pun berganti dengan binar sayu terkesan sendu. Bibir boleh berbohong, tapi sorot mata coklat ke abu abu'annya tidak dapat membohongi Yasmine. Wanita itu begitu peka, Yasmine memilih duduk agar dapat berdekatan secara dengan Elvier.


"Kamu kenapa?" tanya Yasmine penuh tuntutan.


Dahi Yasmine semakin berkerut kala melihat Elvier memejamkan kedua matanya, dan kembali menepikan mobil mereka. Kedua netra hitam bulat itu mengerjap cepat, Elvier tidak akan meminta jatah untuk kesekian kalinya disini kan? pikiran mesum Yasmine kembali bekerja.

__ADS_1


"Mine?" panggil Elvier terdengar berat dan serius.


Pria bertato itu melepaskan sabuk pengamannya, agar dia dapat dengan mudah mendekat pada sang istri. Elvier meraih kedua tangan Yasmine, menggenggamnya lembut lalu mengecupinya berulang kali. Sorot mata sendu dan sayunya terus saja mengarah pada sang wanita.


"Berjanjilah, kalau aku tidak bisa bertahan, kamu akan hidup bahagia." ucap Elvier ambigu.


Rasa sesak dan nyeri didalam dada tidak dapat Elvier bendung lagi, gagal hati yang dia alami sudah memasuki tahap cangkok, jadi obat obatan yang di konsumsi selama ini hanya membantu hidupnya, bukan menyembuhkannya. Elvier bisa kembali sehat setelah ada donor hati yang cocok untuknya, kalau tidak hanya Tuhan yang bisa menentukan takdir seseorang.


"Kamu ngomong apa sih El?! jangan aneh aneh deh. Aku gak suka ya kamu ngomong kayak gitu! aku diam bukan berarti aku gak peduli sama kesehatan kamu." balas Yasmine penuh kekesalan.


Selama ini Yasmine memang tidak pernah membahas masalah gagal hati yang tengah diderita Elvier. Tapi bukan berarti dia tidak peduli, tanpa Elvier ketahui Yasmine diam diam menghubungi Burak- asisten sekaligus sepupu suaminya untuk meminta penjelasan. Bahkan Yasmine berencana memeriksakan diri untuk mengecek apakah hati yang ada didalam tubuhnya ini, cocok untuk suaminya.


Dia rela memberikan setengah hatinya untuk Elvier, toh kata dokter perlahan jaringan hatinya nanti akan tumbuh kembali setelah masa pemulihan. Itulah informasi yang Yasmine dapat dari dokter keluarga Prayoga, bahkan wanita itu mengancam Sang Dokter agar tidak mengadukan hal itu pada keluarganya.


"Ada!" sela Yasmine.


Wanita itu membalas genggaman tangan Elvier tak kalah erat, Yasmine sebisa mungkin menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia harus kuat kalau ingin menguatkan suaminya, dirinya tidak boleh menampakan kecemasan berlebih karena itu akan membuat Elvier semakin terpuruk.


"Aku yakin ada El! percaya sama aku. Kemarin udah bilang kan kalau kita bakalan nyelesai'in ini semua. Aku mohon sama kamu, bertahan demi diri kamu sendiri. Jangan bertahan demi aku, tapi bertahan demi diri kamu sendiri! gimana?" ucap Yasmine meyakinkan.


Wanita itu menangkub wajah Elvier menggunakan kedua tangannya, bahkan tanpa sungkan Yasmine mengecup bibir serta hidung mancung suaminya. Dengan cepat Yasmine membawa Elvier kedalam dekapannya, wanita berambut panjang itu mengusap lembut kepala serta punggung kokoh suaminya. Yasmine sudah menduga kalau Elvier akan down saat kembali teringat akan penyakit yang di deritanya.

__ADS_1


"Aku takut kehilangan mu Mine," lirih Elvier.


Pria itu semakin menyerukan wajahnya di leher Yasmine, sementara Yasmine- wanita itu mati matian menahan isak'an dan air matanya.


"Cukup aku kehilangan Ibu dan kasih sayang Ayah, aku takut saat aku mati nanti ada pria lain yang mengambilmu, dan kau melupakanku." lanjut Elvier terdengar seperti gumaman.



**MALEM MALEM BERENDEM, KAGAK TAKUT MENGKERUT BANG


HOLLA ASSALAMUALAIKUM MET PAGI EPRIBADEH


GIMANA KABAR HARI INI


PUASA LANCAR


UDAH PADA SAHUR


JANGAN LUPA DUKUNGAN LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA YA


UDAH HARI SENIN AJA NIH, VOTE KENCENGIN HEHE

__ADS_1


SEE YOU NEXT PART MUUAAACHH**


__ADS_2